Pena Catra

Di Jalanan, Kami Sandarkan Cita-cita

catrawarta.com — Entah bagaimana ekspresi yang pas begitu membaca berita terbunuhnya seorang pemuda Ngampilan, AA (17), akibat klitih. Sedih, marah, prihatin, jengkel,...

Urban street scene showing multiple motorbikes converging at a busy intersection as smoke rises from one bike while pedestrians and street vendors watch from the sidewalk
Ilustrasi Kenakalan Remaja di Jalan. Sumber: catrawarta.

catrawarta.comEntah bagaimana ekspresi yang pas begitu membaca berita terbunuhnya seorang pemuda Ngampilan, AA (17), akibat klitih. Sedih, marah, prihatin, jengkel, geram, entah ap lagi. Yang jelas, masing-masing kata sifat itu bisa diurai konteks dan keterkaitannya.

Sejauh ini belum terdengar ada upaya memberantas pelaku klitih oleh pemerintah dan aparat. Toleransi masih diberikan “hanya” karena mereka, para pelaku yang jelas terorganisir itu masih di bawah umur. Entah sampai berapa lagi kita akan mendengar korban berjatuhan. Tanpa ada kebijakan dan tindakan yang terkoordinir lintas sektor, rasanya jalanan kita akan berubah menjadi ladang pembantaian.

Belum lama, baru 4 Mei 2026, Gubernur DIY meresmikan berlakunya Pendidikan Khas Kejogjaan. Sebentuk upaya untuk membumikan karakter keyogyakartaan ke dalam diri generasi muda melalui jenjang pendidikan. Secara terprogram, lembaga pendidikan harus mampu menerjemahkan konsep hamemayu hayuning bawono, misalnya, ke dalam beragam aktivitas pembelajaran.

Bukan perkara mudah mengingat postur dan struktur kurikulum kita masih bersifat based content. Kadang mata pelajaran terlalu banyak dan berlebihan dari apa yang.dibutuhkan anak. Jadinya, sedari pagi sampai menjelang sore, waktu anak tersita untuk sesuatu yang sifatnya parsial dan komplementer, bukan yang esensi dan krusial bagi tumbuh kembang mental kepribadian anak.

Terbayang, jika masing-masing guru tak mau berkolaborasi, memilih pola tematik yang bisa dijadikan bahan pembelajaran lintas bidang, dan hanya mementingkan target dan beban mengajar, maka anak akan terjebak pada rangkaian tugas dan rutinitas yang melelahkan. Pola belajar-mengajar bukannya tanpa pembaruan dan perkembangan. Namun, kembali permasalahan ada pada kapasitas dan kompetensi guru.

Tanpa harus menegasikan peran penting guru dan keluarga, lingkungan kini nampaknya menjadi faktor signifikan, yang tak boleh diabaikan oleh siapapun yang peduli pada masa depan anak. Keteladanan di masyarakat yang semakin langka, longgarnya tatanan dan pranata sosial, serta intervensi teknologi informasi, adalah beberapa faktor yang menjadikan rusaknya lingkungan. Semua tak lepas dari tatap mata dan pengamatan anak.

Maka membiarkan anak terjun di dalam lingkungan sosial tanpa ada bekal dan perisai kepribadian, adalah langkah konyol orang tua. Memang tak mudah, tapi apapun kondisi dan tantangannya, itu semua merupakan tanggung jawab orang tua. Pengalaman dan pemahaman orang tua akan dinamika mutakhir tak bisa diabaikan begitu saja. Sekecil apapun gejala yang muncul pada diri anak, harus dideteksi dan didiagnosa oleh orang tua. Konsultasi ke guru secepatnya manakala ada gejala ketakwajaran pada kebiasaan harian anak.

Musyawarah wali murid harus diefektifkan oleh orang tua dan sekolah. Jangan hanya membahas soal iuran atau sumbangan. Komite Sekolah tak boleh menjadi kepanjangan tangan sekolah dan tak bisa lepas kontrol atas dinamika pertumbuhan mental kepribadian anak. Hilangkan kebiasaan menganggap enteng masalah kenakalan remaja, terutama fenomena klitih, seolah dianggap sederhana dan selesai dengan sebuah permintaan maaf dari pelaku.

Kondisi sudah darurat. Dunia pendidikan kita sedang coreng-moreng. Selama kita hanya sibuk mengejar nilai anak, berlomba-lomba memasukkan anak ke sekolah favorit sambil melupakan perkembangan mental intelektual anak, sesungguhnya kita tak membekali apapun bagi masa depan anak.

Ada baiknya orang tua memutar kembali lagu Iwan Fals “Bongkar” yang melegenda itu:

Di jalanan kami sandarkan cita-cita
Sebab di rumah tak ada lagi yang bisa dipercaya
Orang tua pandanglah kami sebagai manusia
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta

Anak-anak kita menjadikan jalanan sebagai ruang ketiga, setelah rumah dan sekolah, sebagai bagian dari dinamika keseharian mereka.

Apa tidak miris kita melihatnya? Apa tak punya lagi beban dan tanggung jawab moral sehingga anak-anak kehilangan cinta kasih dan kehangatan selama di rumah? Susah payah kita minta pada Tuhan agar dikaruniai amanah berupa anak, giliran beranjak dewasa kita biarkan mereka bertarung di jalanan untuk sesuatu yang absurd!

Last but not least, peranan media sosial harus dikembalikan sebagai kanal informasi dan pendidikan. Jika motivasi membuat media hanya demi cuan dan mengejar viral, pastilah di ujung sana ada korban yang telah menanti. Mari bersama-sama, tanpa kenal lelah, mengedukasi diri dan masyarakat bahwa masih ada harapan jika kita mau bergandengan tangan dalam kebaikan.

Ksatrian Sendaren, 18 Mei 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *