Catra Milenia, Idea Catra

Sok-Sokan “Marriage Is Scary”, Padahal Nggak Ada yang Ngajak Nikah: Sebuah Refleksi Sosial

catrawarta.com — Di era media sosial, pernyataan marriage is scary seringkali diperlakukan sebagai tanda kedewasaan emosional. Ungkapan ini muncul dengan nada reflektif,...

Ilustrasi KDRT= Keseruan Dalam Rumah Tangga

catrawarta.comDi era media sosial, pernyataan marriage is scary seringkali diperlakukan sebagai tanda kedewasaan emosional. Ungkapan ini muncul dengan nada reflektif, seolah pembicaranya telah menempuh pengalaman batin yang berat dan memiliki wawasan mendalam tentang komitmen. Padahal, kenyataannya, banyak yang mengucapkannya belum pernah menghadapi realitas pernikahan. Belum menikah, belum menjalani kompromi sehari-hari, namun ribut soal ketakutan yang bahkan belum diuji.

Jika merujuk pada teori social comparison oleh Leon Festinger (1954), manusia cenderung menilai dirinya dengan membandingkan dengan orang lain. Ketakutan yang diucapkan oleh mereka yang belum menikah ini sering lahir dari “perbandingan pinjaman”: cerita perceraian teman, kisah trauma pasangan lain, atau diskusi media sosial. Bukannya refleksi, pernyataan mereka lebih mirip pencitraan—mengemas ketakutan yang belum dialami menjadi narasi intelektual.

Ironisnya, yang paling vokal tentang betapa menyeramkannya pernikahan sering kali masih gagap menghadapi hal-hal dasar: mengelola emosi, konsistensi perilaku, dan tanggung jawab dalam relasi sederhana. Hubungan kandas bukan karena pernikahan terlalu berat, tetapi karena komitmen ringan saja sudah membuat sesak. Namun, narasinya selalu naik kelas: mereka yang belum rapi mengurus diri sendiri sudah sibuk mengkritik institusi, dan yang belum sanggup hadir sudah berbicara soal ikatan.

Menurut Erik Erikson dalam teori perkembangan psikososialnya, fase dewasa muda seharusnya fokus pada intimacy vs isolation, yakni membangun hubungan dekat dengan orang lain tanpa kehilangan identitas diri. Mereka yang berisik soal ketakutan menikah tanpa pernah mencoba komitmen, secara paradoks justru menunjukkan ketidakmampuan menghadapi tugas perkembangan ini: takut membangun kedekatan yang nyata, tetapi ingin terlihat sadar dan bijak di mata publik.

Kalimat marriage is scary kini berfungsi seperti aksesoris intelektual: dipakai agar terlihat sadar, kritis, dan tidak naif. Ia memberi jarak aman antara diri dan tuntutan kedewasaan. Padahal, yang sebenarnya ditakuti bukan pernikahan, melainkan tuntutan untuk tumbuh: hidup konsisten dengan pilihan sendiri, mengelola konflik, dan menghadapi kebosanan sehari-hari. Pernikahan dijadikan simbol dari segala hal yang belum sanggup ditanggung, bukan pengalaman yang dihayati.

Paradoksnya, semakin jauh seseorang dari realitas pernikahan, semakin berisik komentarnya. Mereka yang benar-benar berada di ambang pintu biasanya sunyi, sibuk membereskan diri, bukan mengumpulkan argumen. Sementara yang ribut, terus mengulang narasi takut, seolah ketakutan itu keberanian. Takut memang wajar, tetapi takut yang hanya dijadikan bahan omongan tanpa menghadapi kenyataan adalah fenomena sosial yang mengganggu.

Kesimpulannya, bagi mereka yang belum menikah tapi berisik soal “marriage is scary”: ya, takut boleh. Tapi tidak usah diumbar ke publik. Diam saja, urus hidup sendiri, jangan sok bijak. Pernikahan bukan arena lomba opini; ia adalah ruang pertumbuhan dan tanggung jawab. Seperti yang dikatakan Brené Brown (2012) dalam Daring Greatly, keberanian sejati bukan tentang tampil pintar di depan orang lain, tetapi tentang hadir penuh, meski rentan. Yang paling keras bicara soal pernikahan bukan yang siap masuk—melainkan yang masih asyik berisik di luar, sambil pura-pura takut pada pintu yang tak pernah mengetuknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *