Etalase

Kemiskinan Menjadikan Perempuan Semakin Terpinggirkan

catrawarta.com — Masyarakat miskin, lemah dan difabel kerap menjadi sasaran diskriminasi. Mereka tersingkirkan dari akses pemberdayaan. Termasuk perempuan dengan kategori miskin yang...

TALKSHOW: Penulis Sasti Gotama yang bersama Okky Madasari menjadi narasumber Talkshow Woman Inspiring Talk.(Sumber: dok. UGM)

catrawarta.comMasyarakat miskin, lemah dan difabel kerap menjadi sasaran diskriminasi. Mereka tersingkirkan dari akses pemberdayaan. Termasuk perempuan dengan kategori miskin yang sengaja ditenggelamkan dalam berbagai sisi kehidupan.

Hal itu pula yang terjadi dalam dunia sastra. Peradaban seakan takut dan tidak siap membaca karya yang lahir dari jemari lentik, atau sekadar mendengar suara nyaring perempuan.

”Kondisi tersebut memengaruhi kepercayaan diri para perempuan yang lahir di zaman yang lebih modern sekarang ini,” ungkap Sastrawan dan sosiolog, Okky Madasari.

Ia menilai, pada era seperti sekarang, ilmu pengetahuan sudah menjadi hak bagi seluruh lapisan, namun beberapa kelompok masih berjuang meraih kesetaraan.

Angkat Sosok Perempuan

Berbagai kondisi yang menyelimuti perempuan, melatarbelakangi dirinya selalu mengangkat perempuan sebagai tokoh utama pada karya-karya tulisnya.

”Perempuan akan selalu menjadi yang tersisihkan atau setidaknya kerap mendapatkan stereotip atas pilihan-pilihan yang mereka ambil untuk diri mereka sendiri,” tandas Okky yang berbicara pada Talkshow Woman Inspiring Talk di UGM.

Ia menambahkan, memang tidak semua menggambarkan perempuan sebagai protagonist. Ia ingin menggunakan karya untuk memotret ketidakadilan, ketimpangan, dan ketiadaan akses untuk bisa memilih.

Menurut Okky, sering kali perempuan memilih di bawah keterpaksaan. Karena itu, perlu upaya agar perempuan dapat memilih, dan pilihan tersebut bukan lahir dari represi dan keterpaksaan namun dari kebebasan.

Perempuan di Daerah Tertinggal

Berbeda dengan Okky yang berasal dari latar belakang sosiologi, Sasti Gotama memilih merangkai aksara untuk menyuarakan pengalaman perempuan di daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T). Juga para pasien dan keluarga ketika ia mengabdi menjadi dokter di daerah tersebut.

”Pada daerah dengan ekonomi lemah, saya kerap melihat ketimpangan. Banyak sekali pasien kekerasan dalam rumah tangga yang datang dengan trauma, bahkan tidak berani untuk mengutarakan karena tekanan lingkungan sekitar,” tutur Sasti.

Di matanya, sering kali kemiskinan menjadi landasan, memaksa para orang tua menikahkan anaknya lebih dini karena faktor ekonomi. Bahkan ada anggapan, lebih baik menghabiskan beras di rumah orang lain daripada di rumah sendiri.

Mereka berdua, menjadikan menulis sebagai wadah bagi perempuan untuk berekspresi dan memberikan pandangannya. Mereka bisa mengangkat berbagai persoalan yang menghimpit perempuan dan melakukan pembelaan melalui karya sastra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *