catrawarta.com — Di balik keindahan terasering hijau Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, ternyata tersimpan persoalan pendidikan yang himgga kini masih luputu dari perhatian pemerintah. Desa di lereng timur Gunung Sumbing dengan ketinggian lebih dari 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini dikenal sebagai “Negeri Sayur” karena 95,5 persen penduduknya bekerja di sektor pertanian hortikultura.
Hanya saja seperti data yang disampaikan Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) di tengah geliat ekonomi agraris dan populernya Wisata Terasering Site Gong (Nampan Sukomakmur) itu, terdapat Anak Tidak Sekolah (ATS) yang menjadi yang jumlahnya seolah mayoritas di desa tersebut.
Persoalan ATS di Sukomakmur menurut catatan Unimma, dipengaruhi berbagai faktor yang saling berkaitan, diantaranya keterbatasan ekonomi keluarga, akses geografis yang menanjak dan berkelok, rendahnya literasi pendidikan orang tua serta minimnya fasilitas belajar yang kondusif.
Sebagian anak terpaksa membantu orang tua di ladang, sementara lainnya kehilangan motivasi akibat ketertinggalan akademik. Toleh karena itu, butuh intervensi yang sistematis, karena jika tidak kondisi ini berpotensi memperpanjang siklus ketimpangan pendidikan di wilayah pegunungan itu.
Pendekatan Berbasis Data
Menjawab tantangan tersebut, Universitas Muhammadiyah Magelang melalui program KKN Tematik 2026 menghadirkan pendekatan berbasis data dan partisipatif. Dipimpin dosen pembimbing lapangan Nugroho Agung Prabowo ST MKom PhD, bersama sepuluh mahasiswa, tim melakukan validasi 100 persen data ATS secara by name by address melalui asesmen door-to-door bersama kepala dusun.
Hasilnya, desa kini memiliki database ATS terverifikasi yang diperkuat dengan penguatan Sistem Informasi Desa (SID) sebagai fondasi kebijakan pendidikan yang lebih akurat dan berkelanjutan.
Selain penguatan tata kelola data, kata Nugroho Agung Prabowo, tim juga menyasar perubahan pola pikir masyarakat. Sosialisasi kepada orang tua dan tokoh desa dilakukan untuk menegaskan, pendidikan bukan beban ekonomi, melainkan investasi jangka panjang.
Di tingkat anak, pendekatan kreatif diterapkan melalui pengajaran di PAUD, kegiatan literasi, metode “Pohon Impian” bagi siswa kelas 6 SD serta pendampingan dan pelatihan keterampilan bagi anak ATS untuk membangun kembali rasa percaya diri dan motivasi belajar.
Program ini terintegrasi dengan kegiatan sosial desa, seperti Posyandu, tradisi Ruwahan serta pemberdayaan Karang Taruna melalui pelatihan public speaking dan content creator untuk mendukung branding wisata desa.
Keberhasilan KKN Tematik ini tidak hanya diukur dari aktivitas selama satu bulan, tetapi dari pondasi yang ditinggalkan yakni data yang valid, perubahan mindset, inisiasi pusat belajar dan keterlibatan aktif pemuda.
Dari lereng Sumbing, Sukomakmur kini menapaki langkah nyata menuju desa “Zero ATS” yang sejalan dengan target SDG 4 Pendidikan Berkualitas.

Transformasi Asrama Haji Menuju ‘One Stop Services’ Umrah 