catrawarta.com — Terminal Giwangan Yogyakarta sebenarnya sangat staregis. Meski berada di pinggiran kota Jogya, namun terminal ini berada di pinggir jalan lingkar (ring road) yang merupakan jalan arteri yang cukup padat. Ringroad ini menghubungkan beberapa ruas jalan, baik menuju Bantul, Gunungkidul, Kota Jogya maupun ke kota di luar DIY, seperti Magelang/Semarang, Solo dan ke arah barat (Purworejo, Kebumen, Purwokerto) dan kota kota lain di Jateng selatan maupun Bandung dan Jakarta.
Pada masa kepemimpinan Walikota Yogyakarta Herry Zudianto, terminal ini dibangun dan difungsikan sebagai pengganti terminal utama Umbulharjo yang dinilai sudah over kapasitas dan lokasinya berada di tengah kota.
Saat pertama kali difungsikan Terminal Giwangan terlihat megah dan modern. Selain mampu menampung lebih banyak bus, terminal ini juga menjadi akses utama masyarakat yang hendak berpegian ke banyak tujuan. Selain antar kota dalam provinsi, Giwangan juga menghubungkan bus-bus ke antara kota antar provinsi hingga bus-bus yang melayani rute sampai ke luar pulau seperti Sumatera, Bali hingga Lombok.
Retribusi Pasar
Hal itu, bisa dibuktikan dengan hadirnya armada-armada bus yang memiliki trayek jurusan hingga Lampung, Palembang, Medan, Pekanbaru hingga Aceh. Sedangkan, ke arah timur sejumlah bus membuka jurusan sampai Denpasar dan Lombok.
Konon, retirbusi yang masuk Pemkot Yogyakarta sebagai pemilik dan pengelola Giwangan juga cukup besar. Retribusi yang kemudian menjadi salah satu pendapatan asli daerah itu, salah satu andalan di samping retribusi Kota Jogya lainnya, seperti retribusi pasar, parkir, pajak pembangunan dan lain-lain.
Namun, sekitar tahun 2016 seluruh terminal tipe A di Indonesia harus diserahkan kepada pemerintah pusat melalui Kementrian Perhubungan (Kemenhub). Terminal Giwangan, juga menjadi salah satu yang pengelolaannya kemudian turut diambil alih pusat.
Sejak saat itu, terminal ini pamornya berangsur-angsur menurun. Lebih-lebih moda bus antar kota maupun antar provinsi juga memgalami pergeseran. Sedikitnya jumlah penumpang mengakibatkan, perusahaan oto bus juga mengurangi operasional bus.
Salah satu minimnya penumpang bus, karena saat ini masyarakat bisa dengan mudah memiliki kendaraan sendiri. Masyarakat dari sejumlah kota di DIY yang semula mengandalkan transportasi bus pada akhinya banyak yang mengendarai motor atau mobil pribadi.
Pengelolaan Kembali Pemkot
Apalagi, pengadaan motor juga saat ini lebih mudah dan cepat. Kemudian, kalau dihitung cermat dengan kendaraan sendiri, selain menghemat waktu dan biaya, juga dianggap lebih praktis. Hal itu juga seeiring dengan kondisi jalan raya yang semakin bagus dan nyaman.
Menteri Perhubungan, saat itu (Budi Karya Sumadi) menyebutkan, pada akhirnya pengelolaan Terminal Giwangan di lapangan dikembalikan lagi kepada Pemkot. “Pusat hanya menjadi supervisor, regulator di mana pengelolaan tetap dilakukan pemkot,” kayanya ketika itu.
Pengelolaan terminal tipe A, termasuk Giwangan oleh Pemerintah Pusat awalnya dimaksudkan lebih pada pengawasan langsung yang memungkinkan pengelolaan lebih terarah dengan jelas. Namun, dalam realitanya, justru banyak terminal tipe A yang malahan mengalami penurunan atau bahkan mati suri atau tidak difungsikan sama sekali.
Menurut data, sedikitnya terdapat 400 lebih terminal tipe A yang sempat diambil alih pengelolaannya oleh pemerintah pusat. Kini , di era pemerintahan sekarang, Pemkot Yogyakarta sedang merampungkan perbaikan Terminal Giwangan sebagai lokasi parkir bus pariwisata. Pemkot Yogyakarta mengkaji rencana pelarangan bus pariwisata melintas di Kota Yogyakarta, sambil mempersiapkan sarana dan prasarana di Terminal Giwangan.
Dalam suatu kesempatan Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyatakan, pembangunan di Terminal Giwangan telah dimulai dan diperkirakan akan selesai dalam waktu dekat, serta siap digunakan pada saat Lebaran tahun ini.
Wawan Harmawan menjelaskan,, penataan Tempat Khusus Parkir (TKP) Senopati saat ini masih dalam tahap kajian. Ia menandaskan pentingnya koordinasi dengan Dinas Perhubungan Provinsi untuk menata transportasi di kota.
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menjelaskan, TKP Abubakar Ali (ABA) yang berada di utara Hotel Garuda yang dibongkar tahun lalu akan dijadikan hutan kota. Penataan itu mendukung program pembatasan atau pelarangan bus pariwisata masuk ke Kota Yogyakarta.
Penataan Senopati
Jika area 2,6 hektar di Giwangan digunakan untuk parkir bus pariwisata, penataan TKP Senopati akan dilanjutkan, yang selama ini berfungsi sebagai kantong parkir bus pariwisata. Penataan di Senopati tidak diperuntukkan bagi bus, sehingga perlu dilakukan koordinasi untuk mempersiapkan area Giwangan.
Diharapkan, dengan selesainya penataan tersebut menambah kenyamanan Kota Jogya yang pada momen-momen tertentu, terutama saat liburan atau akhir pekan terasa semrawut dan menimbulkan kemacetan. Salah satu sumber kemacetan itu, karena masuknya bus-bus yang membawa rombongan wisata masuk ke kota Jogya dari segara arah.
Coba lihat di simpul-simpul jalan yang berdekatan dengan Kawasan Malioboro, banyak sekali bus-bus wisata yang berjajar memenuhi badan jalan yang seharusnya hanya diperuntukkan untuk kendaraan kecil.

Pameran Segoberart, Dekatkan Seni Kriya di Kedai Barat Istana 