catrawarta.com — Bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat dan Sumetara Utara beberapa waktu lalu dampaknya ternyata turut dirasakan para pengusaha hotel dan restoran di DIY. Sebagai daerah tujuan wisata, DIY turut terimbas akibat berkurangnya kunjungan wisata warga masyarakat dari ketiga provinsi itu.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengakui, pada awal tahun 2026 menjadi periode yang cukup menantang bagi sektor pariwisata di DIY. Karena, salah satu pilar kekuatan pasar domestik di DIY adalah wisatawan asal Pulau Sumatera.
Ia mencatat, selama ini wisatawan asal Sumatera menyumbang sekitar 10–15 persen kunjungan wisata ke Provinsi DIY. Namun, pascabencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara sejak November 2025, kunjungan wisatawan ke DIY dari wilayah tersebut mengalami penurunan cukup signifikan.
“Kontribusi wisatawan dari Sumatera dalam kondisi normal tergolong tinggi dibandingkan daerah lain. Angka yang kami miliki, warga dari Sumetara yang datang ke DIY 10 sampai 15, sekarang nyaris tidak ada pergerakan wisatawan dari sana, dampaknya langsung terasa ke tingkat hunian hotel dan aktivitas pariwisata di DIY,” ujarnya.
Deddy mengatakan, pelaku industri perhotelan di DIY sebenarnya telah berupaya menarik kembali wisatawan dari Sumatera melalui berbagai program promosi dan penawaran khusus. Tapi karena kondisi bencana alam di daerah tersebut cukup parah, sehingga upaya tersebut belum memberikan hasil yang diharapkan.
“Kami berharap dampak bencana secepatnya tertangani dan pulih kembali, sehingga okupansi hunian hotel di DIY, terutama pada momen-momen liburan dan hari-hari libur tertentu dapat kembali normal,” terangnya.
Deddy mengungkapkan, memasuki periode pasca-Nataru, sektor pariwisata DIY kini kembali berada dalam fase low season yang berlangsung sejak pertengahan Januari hingga awal Maret. Walaupun begitu, pihaknya menilai tingkat hunian hotel di Yogyakarta masih berada pada level yang relatif aman.
Karena dalam periode tersebut, tingkat okupansi hotel di DIY tercatat berada di kisaran 50 hingga 60 persen. Angka tersebut masih cukup baik apabila dibandingkan dengan sejumlah daerah lain, terutama di luar Pulau Jawa.

Pameran Musik Miles Films: 30 Tahun Mendengar Terdengar di Lokananta 