Catra Milenia

Rasa Tidak Layak di Era Kompetitif: Imposter Syndrome pada Gen Z

catrawarta.com — Di tengah dunia kerja yang semakin kompetitif, paradoks justru muncul: semakin banyak anak muda berprestasi, semakin banyak pula yang merasa...

Imposter syndromesebuah kondisi psikologis yang diam diam menggerogoti kepercayaan diri generasi muda terutama mereka yang baru memasuki dunia profesional
Imposter syndrome—sebuah kondisi psikologis yang diam-diam menggerogoti kepercayaan diri generasi muda, terutama mereka yang baru memasuki dunia profesional.

catrawarta.comDi tengah dunia kerja yang semakin kompetitif, paradoks justru muncul: semakin banyak anak muda berprestasi, semakin banyak pula yang merasa tidak layak atas pencapaian mereka sendiri.

Fenomena ini dikenal sebagai imposter syndrome—sebuah kondisi psikologis yang diam-diam menggerogoti kepercayaan diri generasi muda, terutama mereka yang baru memasuki dunia profesional.

Alih-alih merasa bangga, sebagian dari mereka justru dihantui satu pertanyaan sederhana: “Apakah saya benar-benar pantas berada di sini?”


Rasa Tidak Layak di Tengah Prestasi

Fenomena ini bukan sekadar perasaan sesaat. Dalam laporan sebuah media nasional, psikolog Andi Cahyadi menjelaskan bahwa imposter syndrome adalah kondisi ketika seseorang merasa dirinya tidak pantas atas pencapaian yang diraih, meskipun secara objektif ia kompeten.

Individu dengan kondisi ini sering merasa seperti “penipu” yang suatu saat akan terbongkar.

Ciri-cirinya cukup khas:

  • sulit menerima pujian
  • menganggap sukses sebagai keberuntungan
  • meragukan kemampuan diri
  • takut gagal secara berlebihan

Fenomena ini banyak dialami oleh Gen Z yang sedang berada dalam fase transisi—dari dunia pendidikan ke dunia kerja. Mereka tidak hanya dituntut untuk beradaptasi, tetapi juga membuktikan diri dalam waktu yang relatif singkat.


Tekanan Sosial dan Budaya Perbandingan

Yang membuat kondisi ini semakin kompleks adalah konteks zaman.

Media sosial menghadirkan realitas yang terkurasi: pencapaian, promosi jabatan, hingga pencitraan kesuksesan yang tampak instan. Akibatnya, standar keberhasilan menjadi tidak realistis.

“Perbandingan sosial membuat seseorang merasa tertinggal, padahal setiap orang punya timeline yang berbeda,” ujar Andi.

Fenomena ini juga diperkuat oleh riset mahasiswa Universitas Airlangga yang menemukan bahwa imposter syndrome pada Gen Z berkaitan erat dengan tekanan sosial dan budaya hustle yang menuntut produktivitas tanpa henti.

Dalam konteks ini, Gen Z tidak hanya berkompetisi dengan orang lain—tetapi juga dengan versi ideal diri mereka sendiri.


Antara Ambisi dan Keraguan

Secara psikologis, imposter syndrome sering muncul dari ketidaksesuaian antara “diri aktual” dan “diri ideal”.

Seseorang mungkin sudah mencapai banyak hal, tetapi standar internalnya jauh lebih tinggi. Akibatnya, pencapaian tidak pernah terasa cukup.

Dalam kajian psikologi, kondisi ini juga berkaitan dengan rendahnya self-efficacy—keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri. Semakin rendah efikasi diri, semakin besar kemungkinan seseorang mengalami imposter syndrome.

Menariknya, fenomena ini justru banyak dialami oleh individu berprestasi. Mereka bekerja lebih keras, bukan karena percaya diri, tetapi karena takut dianggap tidak kompeten.


Bukan Gangguan, Tapi Pola Pikir

Meski berdampak serius—mulai dari stres, kecemasan, hingga penurunan performa kerja—imposter syndrome bukanlah gangguan mental permanen.

Ia lebih tepat disebut sebagai pola pikir.

Menurut berbagai sumber kesehatan, termasuk ulasan medis, kondisi ini ditandai dengan ketidakmampuan menerima kesuksesan dan kecenderungan mengaitkan pencapaian dengan faktor eksternal seperti keberuntungan.

Artinya, ia bisa diubah.

Langkah awalnya justru sederhana:

  • menyadari bahwa perasaan tersebut wajar
  • mulai mengakui pencapaian diri
  • membangun lingkungan yang suportif

Namun dalam praktiknya, ini tidak selalu mudah—terutama di tengah budaya yang terus menuntut lebih.


Generasi yang Tumbuh dalam Tekanan

Jika ditarik lebih jauh, imposter syndrome pada Gen Z bukan sekadar persoalan individu.

Ia adalah refleksi dari zaman.

Generasi ini tumbuh dalam:

  • kompetisi global
  • ekspektasi tinggi
  • paparan informasi tanpa henti
  • dan standar kesuksesan yang terus berubah

Dalam kondisi seperti itu, rasa ragu menjadi hampir tak terhindarkan.

Namun di sisi lain, fenomena ini juga menunjukkan sesuatu yang penting:
bahwa generasi ini memiliki kesadaran tinggi terhadap diri sendiri.

Mereka tidak hanya ingin berhasil—tetapi juga ingin merasa layak atas keberhasilan itu.


Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

Seperti yang sudah dijelaskan, imposter syndrome bukan tentang kurangnya kemampuan, tetapi tentang cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Di dunia yang terus bergerak cepat, mungkin tantangan terbesar bukan lagi sekadar menjadi kompeten—tetapi percaya bahwa kita memang cukup.

Dan mungkin, seperti yang diingatkan banyak psikolog, kuncinya bukan menjadi sempurna, tetapi belajar menerima bahwa proses berkembang memang tidak selalu terasa meyakinkan.

Karena dalam banyak kasus,
rasa ragu itu bukan tanda kelemahan—
melainkan bagian dari perjalanan menjadi lebih utuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *