catrawarta.com — Makin banyak anak muda menderita sakit kanker, salah satunya kanker usus besar. Biasanya, penyakit tersebut menimpa orang usia lanjut namun akhir-akhir ini anak muda pun menderitanya.
”Berbagai penelitian menunjukkan peningkatan kasus pada kelompok usia muda mencapai sekitar 1–2 persen setiap tahun. Jadi, tren ini nyata dan perlu menjadi perhatian bersama,” ungkap Dokter Spesialis Bedah RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta, Fadli Robby Amsriza MMR SpB.
Peningkatan kasus, jelasnya, tidak semata-mata aktor genetik. Meskipun faktor keturunan tetap berperan, lonjakan kasus saat ini lebih banyak dipicu oleh perubahan pola hidup masyarakat modern.
Pola Makan dan Aktivitas Harian
Menurut Fadli, faktor genetik memang ada, tetapi tidak menyumbang peningkatan signifikan seperti sekarang. Pola makan dan aktivitas harian sangat berpengaruh. Konsumsi alkohol secara rutin atau berlebihan, merokok, makanan yang dibakar, hingga makanan ultra-proses dapat memicu peradangan berulang di usus besar.
”Peradangan mikro yang berlangsung lama inilah yang berpotensi memicu kanker,” jelasnya.
Ia menambahkan, pola makan rendah serat dan tinggi gula turut berkontribusi terhadap peningkatan risiko. Kurangnya aktivitas fisik yang berujung pada obesitas juga menjadi faktor yang memperbesar peluang terjadinya kanker kolorektal.
Tidak Terdeteksi Sejak Dini
Kanker usus besar sering kali tidak terdeteksi sejak dini, terutama pada kelompok usia muda. Salah satu gejala paling umum adalah buang air besar (BAB) berdarah. Namun, banyak orang menganggap kondisi tersebut hanya sebagai wasir atau ambeien sehingga enggan memeriksakan diri.
”Gejalanya sering tidak disadari karena letaknya di dalam. Generasi muda juga cenderung takut memeriksakan diri karena khawatir jika terdiagnosis kanker harus menjalani operasi,” papar Fadli.
Padahal belum tentu demikian. Yang terpenting adalah deteksi dini, karena penanganan sangat bergantung pada stadium penyakitnya.
Selain BAB berdarah, gejala lain yang kerap diabaikan adalah munculnya benjolan di area anus serta penurunan berat badan secara drastis tanpa sebab yang jelas. Ironisnya, sebagian besar pasien datang berobat ketika kondisi sudah memasuki stadium lanjut.
Tingkat Kesembuhan Tinggi
Fadli menegaskan tingkat kesembuhan kanker kolorektal (usus besar) sebenarnya sangat tinggi apabila terdeteksi sejak dini. Pada stadium awal, peluang kesembuhan dapat mencapai 95 persen. Namun, jika kanker telah menyebar, angka tersebut dapat turun drastis hingga di bawah 50 persen.
Ia minta masyarakar lebih waspada terhadap gejala awal seperti gatal di area anus atau BAB berdarah. Secara medis, skrining dianjurkan mulai usia 40 tahun melalui pemeriksaan endoskopi bawah atau kolonoskopi secara berkala, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko.
”Konsumsilah makanan yang alami dan minim proses. Tiga faktor utama pencegahan kanker kolorektal adalah pola makan sehat, asupan serat yang cukup, serta rutin melakukan aktivitas fisik,” pintanya.

Kasus Penggerebekan Prostitusi Anak di Banyumas, “Krisis Integritas Sosial” 