Catra Milenia

Ironi Underconsumption Core dan Paradoks Media Sosial

catrawarta.com — Media sosial hari ini dipenuhi ironi. Ketika budaya konsumtif mulai dipertanyakan, kritik terhadapnya justru menemukan panggung paling subur di platform...

Underconumtion ilustration
Gaya Hidup Minim Konsumsi Jadi Sorotan Digital

catrawarta.comMedia sosial hari ini dipenuhi ironi. Ketika budaya konsumtif mulai dipertanyakan, kritik terhadapnya justru menemukan panggung paling subur di platform yang selama ini membesarkan hasrat belanja. Underconsumption Core lahir dari kegelisahan itu. Sebuah tren yang mengajak orang untuk berhenti membeli, menggunakan barang lebih lama, dan menahan diri dari dorongan konsumsi. Namun ironi muncul di saat yang sama tren anti-konsumsi ini justru tumbuh, viral, dan bertahan karena logika media sosial yang sama, sedangkan dahulu mempopulerkan budaya belanja berlebihan.

Underconsumption Core merujuk pada tren di TikTok yang menampilkan gaya hidup minim konsumsi. Menggunakan barang hingga benar-benar habis masa pakainya, memperbaiki alih-alih membeli baru, serta menahan diri dari belanja impulsif. Pesannya sederhana, beli seperlunya, pakai secukupnya. Tren ini kerap diposisikan sebagai reaksi atas budaya shopping haul, unboxing, dan glorifikasi konsumsi yang lama mendominasi media sosial.

Selain itu Underconsumption Core menarik bukan hanya pesan yang dibawanya, melainkan medium yang menghidupkannya. TikTok, dengan sistem algoritma berbasis keterlibatan, secara aktif mendorong konten yang dianggap relevan dan menarik bagi pengguna.

Di Indonesia, TikTok telah menjelma menjadi ruang utama pembentukan selera sosial, terutama di kalangan generasi muda. Rata-rata pengguna menghabiskan puluhan jam per bulan di platform ini, menjadikannya bukan sekadar media hiburan, tetapi juga sumber nilai, referensi gaya hidup, dan legitimasi sosial. Dalam ekosistem seperti ini, Underconsumption Core tidak lagi sekadar praktik hidup hemat. Ia berubah menjadi panggung sosial yang diproduksi, diperkuat, dan diseleksi oleh algoritma.

Di titik inilah pertanyaan kritis muncul: apakah tren anti-konsumsi yang viral benar-benar lahir dari kesadaran personal, atau justru merupakan cara baru agar tetap relevan di linimasa? Banyak konten Underconsumption Core menampilkan penggunaan satu tas selama bertahun-tahun, kosmetik yang dipakai sampai habis, atau pakaian yang sama diulang berkali-kali. Video-video semacam ini kerap menuai pujian dan jutaan tayangan. Namun tidak sedikit pula kritik yang menyebutnya sebagai estetika baru, anti-konsumsi yang tetap dikemas untuk engagement.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Underconsumption Core tidak sesederhana menolak belanja. Ia mencerminkan dualisme media sosial sebagai ruang ekspresi personal sekaligus mesin ekonomi digital. Di satu sisi, tren ini berpotensi mendorong kesadaran akan konsumsi yang lebih bijak dan berkelanjutan. Di sisi lain, ia tetap beroperasi dalam logika monetisasi, atensi, dan visibilitas dengan logika yang sama pada budaya konsumtif yang dikritiknya.

Dalam perspektif teori media, kondisi ini menegaskan bahwa media sosial tidak hanya merefleksikan realitas, tetapi turut memproduksinya. Nilai tentang kebutuhan, gaya hidup, dan bahkan moralitas konsumsi dibentuk ulang melalui konten yang berulang dan tervalidasi secara algoritmik. Dalam konteks ini, Underconsumption Core adalah refleksi digital dari konflik nilai yang lebih besar: antara konsumsi sebagai budaya dan konsumsi sebagai mesin ekonomi.

Ketika Logika Sistem yang Bermain

Ketika tren konsumtif mulai dipertanyakan, media sosial tidak berhenti bekerja. Ia hanya mengganti wajah. Underconsumption Core mendapatkan ruang bukan semata karena ia menentang sistem, melainkan karena ia masih kompatibel dengan logika utama platform: keterlibatan pengguna.

Tren ini mungkin tidak akan mengakhiri budaya konsumtif. Namun ia penting sebagai penanda kegelisahan kolektif, bahwa semakin banyak orang merasa lelah dengan dorongan untuk terus membeli dan memamerkan. Persoalannya bukan hanya pada tren itu sendiri, melainkan pada cara media sosial membingkai, menyederhanakan, dan akhirnya mengomodifikasi kritik.

Ironi terbesar media sosial hari ini adalah ini: bahkan kritik terhadap sistem pun harus terlebih dahulu disetujui oleh sistem tersebut agar bisa terlihat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *