catrawarta.com — Indonesia di masa lalu memiliki banyak sekali tokoh berpengaruh yang hingga kini masih menjadi ‘teladan’ bagi generasi penerusnya. Salah satu dari deretan tokoh-tokoh terkenal itu adalah Mohammad Natsir.
Ia bukan hanya ahli agama Islam atau seorang ulama, namun juga politisi tangguh dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang memiliki peran besar. Natsir juga pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi, dan tokoh Islam terkemuka Indonesia.
Salah satu penerus yang hingga kini kental ‘menyerap’ ilmu dan menjadikan Natsir sebagai tokoh ‘panutan’ adalah Yusril Ihza Mahendra, yang kini dipercaya sebagai Menko Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) .
Natsir lahir (17 Juli 1908) dan wafat pada 6 Februari 1993. Seperti umumnya keluarga Minangkabau yang taat dalam menjalankan ajaran agama Islam. Ayahnya bernama Mohammad Idris Sutan Saripado dan ibunya bernama Khadijah.
Awalnya ayah Natsir bekerja sebagai juru tulis di kantor kontroler di Maninjau, namun tahun 1918 ke Ujung Pandang (sekarang Makassar) Sulawesi Selatan sebagai sipir.
Layaknya anak-anak Minangkabau, Natsir bersekolah di HIS Solok pada pagi hari, dan malam harinya mengaji di Madrasah Diniyah. Pada tahun 1923, Natsir melanjutkan studi di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).
Ia kemudian mulai aktif dalam kegiatan organisasi. Lulus dari MULO, Natsir merantau ke Bandung untuk belajar di Algemeene Middelbare School (AMS) dan lulus tahun 1930.
Jiwa Aktivis
Jiwa aktivis Mohammad Natsir sudah tumbuh sejak berusia remaja. Saat sekolah di MULO Padang, Natsir bergabung dalam Organisasi Pemuda Jong Islamieten Bond (JIB). Ketika pindah ke Bandung, Natsir tetap melanjutkan kirprahnya di JIB Bandung, bahkan menjadi ketuanya pada periode 1928-1932.
Di bidang pemerintahan Natsir pernah mendapat mandat sebagai menteri hingga puncaknya menjadi Perdana Menteri ke-5 Indonesia. Di kancah internasional, ia mengemban amanat sebagai Presiden Liga Muslim Dunia dan Ketua Dewan Masjid se-Dunia.
Setelah mengundurkan diri dari jabatannya pada tanggal 26 April 1951 karena berselisih paham dengan Presiden Soekarno, ia semakin vokal menyuarakan pentingnya peranan Islam di Indonesia.
Natsir kemudian terlibat pemberontakan PRRI, yang membuatnya sempat dipenjara. Setelah dibebaskan pada tahun 1966, Natsir terus mengkritisi pemerintah yang saat itu telah dipimpin Soeharto hingga membuatnya dicekal.
Aktif Menulis
Natsir banyak menulis tentang pemikiran Islam. Ia aktif menulis di majalah-majalah Islam setelah karya tulis pertamanya diterbitkan pada tahun 1929. Hingga akhir hayatnya ia telah menulis sekitar 45 buku dan ratusan karya tulis lain. Natsir memandang Islam sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia.
Ia mengaku kecewa dengan perlakuan pemerintahan Soekarno dan Soeharto terhadap Islam. Selama hidupnya, ia dianugerahi tiga gelar doktor honoris causa, satu dari Lebanon dan dua dari Malaysia. Pada tanggal 10 November 2008, Natsir dinyatakan sebagai pahlawan nasional Indonesia.
Natsir dikenal sebagai menteri yang tak punya baju bagus, jasnya bertambal. Dia dikenang sebagai menteri yang tak punya rumah dan menolak diberi hadiah mobil mewah. (Dari berbagai sumber)

Belajar Sejarah di JLC, Hilangkan Rasa Jenuh 