catrawarta.com — Di sebuah rumah sederhana di Kota Solo, aktivitas dakwah berlangsung hampir setiap hari. Pertemuan kecil, diskusi Al-Qur’an, hingga majelis ilmu bergantian digelar. Dari rumah itu, seorang perempuan bernama Khusnani Hayati—yang akrab disapa Bu Una—menggerakkan ratusan perempuan untuk belajar agama secara rutin.
Usianya kini 54 tahun. Pendidikan formalnya hanya sampai SMA. Namun dari lingkaran pembinaan yang ia bangun, hadir peserta dari berbagai latar belakang pendidikan—sarjana, lulusan magister, doktor, bahkan profesor.
Bagi Bu Una, gelar bukanlah ukuran utama. Yang terpenting adalah kesediaan untuk terus belajar.
Sehari-hari Bu Una mengelola Yayasan Insan Mulia Surakarta. Ia juga aktif sebagai pengurus BKAP DPD PKS Kota Solo. Suaminya, Abdul Ghofar Ismail, dikenal sebagai Ketua BKAP DPW PKS Jawa Tengah. Di tengah kehidupan keluarga dengan enam anak, seorang menantu, dan dua cucu, aktivitas dakwahnya justru semakin padat.
Dalam satu pekan, ia membina sedikitnya 16 kelompok UPA (Unit Pembinaan Anggota) yang bertemu secara rutin. Jadwalnya hampir tanpa jeda. Ada hari dengan satu kelompok, ada pula hari dengan tiga kelompok. Total peserta UPA yang ia dampingi mencapai 182 orang, seluruhnya kaum ibu.
Di luar itu, Bu Una juga membina tujuh kelompok Majelis Taklim dengan jadwal berbeda-beda—mingguan, dua pekanan, hingga bulanan. Jumlah pesertanya mencapai 223 orang. Jika digabungkan, sekitar 405 orang berada dalam lingkaran pembinaan yang ia dampingi.
Untuk ukuran pembinaan berbasis komunitas, angka ini tentu tidak kecil.
Jejak dakwah Bu Una sebenarnya berakar dari masa kecil. Ayahnya adalah guru mengaji di kampung. Sejak duduk di bangku SMP, ia sudah diminta membantu mengajar madrasah setelah pulang sekolah. Dari pengalaman itu ia belajar bahwa ilmu agama tidak hanya dipelajari, tetapi juga harus diwariskan.
Perjalanan dakwahnya semakin menemukan bentuk ketika pada awal 1990-an ia terlibat dalam komunitas pembinaan intensif. Dari situlah ia memahami bahwa dakwah bukan sekadar ceramah. Ada proses panjang yang disebut pembinaan—proses menumbuhkan kepribadian Islami sekaligus kepribadian da’i.
Salah satu inspirasi yang paling mempengaruhi jalan hidupnya adalah Surat Al-‘Ashr. Ayat yang mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Bagi Bu Una, dakwah bukan sekadar menolong orang lain menjadi lebih baik. Dakwah adalah cara menjaga diri sendiri agar tidak termasuk dalam golongan yang merugi.
Dalam perjalanan hidupnya, Bu Una dan keluarganya telah sepuluh kali berpindah rumah kontrakan. Namun setiap tempat yang mereka singgahi tidak pernah dilewati begitu saja. Ia selalu berusaha membuka ruang pembelajaran—membentuk kelompok kecil pengajian atau pembinaan.
Dari langkah-langkah kecil itulah jaringan kelompok yang ia bina hari ini perlahan tumbuh di berbagai kawasan di Solo. Ada kelompok yang terbentuk dalam waktu singkat, ada pula yang membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum akhirnya berjalan rutin.
Yang menarik, peserta pembinaan Bu Una berasal dari berbagai latar belakang. Ada ibu-ibu muda, ada pula yang sudah lansia. Sebagian memiliki pendidikan tinggi—sarjana, magister, doktor, bahkan profesor—sementara Bu Una sendiri hanya lulusan SMA.
Namun perbedaan itu tidak pernah menjadi penghalang. Ia sering mengatakan bahwa dirinya tidak merasa memiliki bekal ilmu yang istimewa. Yang ia miliki hanyalah kegemaran membersamai orang lain dalam proses belajar Al-Qur’an.
Prinsip yang ia pegang pun sederhana: jangan menolak orang yang ingin belajar agama.
Jika ada yang datang meminta dibimbing, ia hampir selalu berusaha menerima. Satu-satunya alasan penolakan biasanya hanya karena benturan jadwal. Dari prinsip inilah jumlah kelompok pembinaan terus bertambah.
Kini, meskipun sudah membina puluhan kelompok, Bu Una masih berusaha membuka ruang baru. Ia mulai mendekati kelompok remaja agar mereka bersedia mengikuti pembinaan secara rutin.
Baginya, dakwah tidak ditentukan oleh tinggi rendahnya pendidikan seseorang. Dakwah adalah kesediaan untuk berjalan bersama orang lain dalam proses belajar.
Dan selama masih ada orang yang ingin mengenal Allah, perjalanan itu akan terus berlanjut.

Menhan AS Klaim Mojtaba Terluka-Alami Cacat, Fakta atau Klaim Sepihak? 