Catra Cendekia

Dolar Tembus 17 Ribu? Pahami Penyebab Naik-Turunnya Nilai Rupiah & Dampaknya

catrawarta.com — Indonesia kembali diguncang kabar melemahnya nilai tukar rupiah. Pada Selasa, 20 Januari 2026, rupiah tercatat telah mencapai Rp16.977 per dolar...

Ilustrasi rupiah yang melemah
Ilustrasi Rupiah yang Melemah

catrawarta.comIndonesia kembali diguncang kabar melemahnya nilai tukar rupiah. Pada Selasa, 20 Januari 2026, rupiah tercatat telah mencapai Rp16.977 per dolar AS. Baru satu hari berselang, pada 21 Januari, nilainya kembali melemah hingga menembus angka Rp17.000 per dolar AS. Secara keseluruhan, rupiah melemah sekitar 2 persen di awal tahun ini. Kondisi ini mencatatkan sejarah baru dalam pelemahan nilai tukar rupiah, bahkan lebih besar jika dibandingkan dengan krisis ekonomi 1998 di Indonesia.

Lalu, apa penyebab naik-turunnya nilai tukar rupiah?

Secara sederhana, mata uang dari berbagai negara harus aktif diperjualbelikan atau ditukarkan. Dalam konteks rupiah dan dolar, selalu ada kebutuhan untuk menukar dolar ke rupiah, begitu pula sebaliknya. Aktivitas inilah yang menentukan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Di sini berlaku konsep klasik ekonomi, yakni demand dan supply. Demand berarti permintaan, sementara supply adalah penawaran. Ketika permintaan terhadap suatu barang meningkat, harga barang tersebut cenderung naik. Hal ini serupa dengan kenaikan harga hewan kurban menjelang Idul Adha, yang terjadi karena permintaan hewan kurban sedang meningkat.

Masuk ke konteks penukaran mata uang, ketika kebutuhan menukar rupiah ke dolar sedang tinggi, secara otomatis permintaan terhadap dolar ikut meningkat. Dari situlah nilai tukar dolar menguat. Dalam istilah ekonomi, dolar mengalami apresiasi terhadap rupiah. Prinsip ini berlaku sebaliknya: ketika kebutuhan menukar dolar ke rupiah meningkat, maka nilai rupiah akan menguat. Mekanisme ini berlaku di seluruh negara yang melakukan penukaran mata uang dengan mata uang lainnya.

Secara umum, terdapat tiga faktor utama yang mendasari kebutuhan penukaran mata uang. Pertama adalah prospek investasi, kedua aktivitas perdagangan ekspor-impor, dan ketiga konsensus atau sentimen bersama. Seperti produk investasi lainnya, kebutuhan penukaran mata uang dapat dipicu oleh prospek investasi suatu negara.

Semakin baik prospek investasi di sebuah negara, semakin tinggi pula permintaan investor untuk menukar mata uang asalnya ke mata uang negara tujuan investasi. Bentuk investasi pun beragam, mulai dari simpanan di bank seperti deposito, investasi di sektor riil atau bisnis, pembangunan infrastruktur, hingga investasi di saham dan obligasi.

Ketika banyak investor asing masuk ke Indonesia, secara prinsip ekonomi hal ini akan membantu perputaran ekonomi nasional. Dampaknya bahkan bisa langsung terasa hingga ke lapisan masyarakat bawah. Jika investor luar semakin banyak secara langsung akan membuka banyak kesempatan bagi masyarakat. Seperti adanya perusahaan multinasional yang turut membantu menyediakan lapangan pekerjaan. Namun, ketika arus investasi asing tidak sebanding dengan tingginya kebutuhan penukaran rupiah ke dolar, tekanan nilai tukar yang terjadi justru dapat memperlambat laju perekonomian Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *