catrawarta.com — Rabu, 19 Februari 2026, menjelang malam, halaman Pesantren Al-Munawwir mulai dipenuhi jamaah. Tua-muda, laki-laki dan perempuan, berjalan menuju Masjid Jami’ Al-Munawwir. Malam itu, Tarawih Ramadhan 1447 H dimulai.
Dari mihrab, ayat demi ayat Al-Qur’an dibaca lancar oleh para imam yang hafal tiga puluh juz. Sepuluh rakaat pertama dipimpin KH. R. Abdul Hamid AQ, sepuluh rakaat berikutnya oleh Ustaz Abdul Jalil Muhammad. Setiap malam, 1,5 juz dituntaskan. Dalam waktu sekitar satu jam, dua puluh rakaat Tarawih dan tiga rakaat witir selesai. Pola ini dijaga sejak malam pertama. Tepat pada malam ke-20 Ramadhan, satu kali khatam tercapai.
Tradisi ini berakar panjang. Dalam catatan K.M. Mas’udi Fathurrahman pada buku Romo Kyai Qodir, disebutkan kebiasaan KH. Abdul Qodir, putra pendiri pesantren, yang membaca 1,5 juz setiap Tarawih dan mengkhatamkan Al-Qur’an tepat pada malam ke-20. Tradisi tersebut kemudian semakin menguat pada masa kepengasuhan KH. Ali Maksum dan terjaga hingga hari ini.
Pada malam ke-20 ratusan jamaah akan memadati masjid dua lantai itu hingga meluber ke halaman dan bangunan pondok di sampingnya. Usai tarawih dan witir, majelis tahlil digelar, dilanjutkan doa khatmil Qur’an dan makan bersama. Bagi para hadirin malam ke-20 bukan sekadar penanda selesai satu putaran bacaan Al Quran tapi juga menjadi tanda bahwa separuh Ramadhan telah dijalani dengan konsisten.
Memasuki sepuluh malam terakhir, bacaan digandakan menjadi tiga juz setiap malam. Durasi shalat memanjang hingga sekitar dua jam. Jamaah telah memahami pola ini. Mereka datang dengan persiapan fisik dan menjaga stamina. Meski punggung terasa pegal dan kaki letih, sholat tetap ditegakkan. Ada kesadaran bahwa sepuluh malam terakhir adalah bagian penting Ramadhan.
Tarawih pada fase ini dipimpin KHR. Muhammad Najib Abdul Qodir, cucu pendiri pesantren. Ia membaca dengan metode hadr—cepat namun tetap tartil dan sesuai tajwid. Bacaan terjaga, tempo stabil, dan jamaah mengikuti dengan khusyuk. Pada malam-malam ganjil, jumlah jamaah meningkat. Banyak yang datang dari luar Krapyak untuk mengikuti khataman kedua hingga malam terakhir.
Sejak berdiri pada 1911, Al-Munawwir memusatkan pendidikan pada Al-Qur’an—hafalan dan ragam qira’at. KH. Muhammad Munawwir -Mbah Munawwir- pendiri pondok berpesan bahwa hafizh Al-Qur’an yang diakuinya adalah mereka yang berakhlak baik dan menjadikan hafalannya sebagai bacaan Tarawih. Hafalan tidak cukup disimpan, tetapi harus dipakai dalam ibadah.
Pesan itu dijaga dari generasi ke generasi. Di Krapyak, Ramadhan bukan hanya bulan puasa. Dua kali khatam adalah tradisi baik yang dijalankan bersama, menempatkan Al-Qur’an dalam ibadah keseharian.



Tingkatkan Kewaspadaan, Kematian akibat Virus Nipah Capai 75 Persen 