Catra Budaya

Kipo yang Asing di Kampungnya Sendiri

catrawarta.com — Banyak makanan tradisional tidak benar-benar ditinggalkan oleh generasi Z. Ia lebih dulu menghilang dari jangkauan mereka. Bukan karena kalah rasa...

Kue kipo sumber lets eat jogja
Kue Kipo (Sumber: let's eat jogja)

catrawarta.comBanyak makanan tradisional tidak benar-benar ditinggalkan oleh generasi Z. Ia lebih dulu menghilang dari jangkauan mereka. Bukan karena kalah rasa atau rupa, melainkan karena tak pernah hadir dalam pengalaman sehari-hari. Ketika ruang perjumpaan itu lenyap, ingatan pun tak sempat terbentuk.

Pasar tradisional—ruang sosial tempat makanan lokal diperkenalkan dan diwariskan—kian menjauh dari ritme hidup anak muda. Dalam keseharian, pilihan jajanan berputar pada menu yang itu-itu saja. Di pusat jajanan pinggir jalan yang ramai pagi dan sore hari, yang dicari adalah rasa yang sudah dikenali. Pola ini bukan sekadar soal selera, melainkan cermin lemahnya proses pengenalan terhadap ragam kuliner tradisional.

Rasa ingin tahu yang kerap dilekatkan pada generasi ini sering berhenti pada hal-hal yang akrab secara visual. Makanan yang tak pernah mereka lihat—terlebih yang tampil sederhana tanpa narasi kekinian—mudah terlewat. Bukan karena tak menarik, melainkan karena tak pernah diberi ruang untuk dikenal.

Kondisi itu tampak jelas di Kotagede, kawasan tua saksi sejarah panjang Mataram Islam. Di wilayah yang dikenal sebagai pusat budaya dan kerajinan tersebut, ada satu makanan tradisional yang justru terasa asing bagi sebagian anak mudanya sendiri: kipo.

Nama kipo berasal dari ungkapan spontan “iki opo?”—ini apa? Bentuknya kecil dan pipih, dibungkus daun pisang, berwarna hijau pucat tanpa kilap menggoda. Bahannya sederhana: tepung ketan dengan isian enten-enten. Aroma daun pisang yang terbakar samar, rasanya manis gurih tanpa meledak-ledak. Dari kesederhanaan itulah kipo membangun identitasnya—bukan makanan yang memamerkan diri, melainkan yang mengundang perhatian perlahan.

Kotagede sejak lama dikenal sebagai kawasan orang-orang “pinter”, bukan hanya dalam pengertian intelektual, tetapi juga kultural. Penamaan kipo mencerminkan kecerdasan simbolik itu. Namun hari ini, pertanyaan “iki opo?” justru tak sempat terucap. Ada jarak yang terbentuk antara generasi muda dan warisan kuliner di sekitarnya—jarak yang lahir bukan dari penolakan, melainkan dari ketiadaan perjumpaan.

Jarak itu juga dirasakan oleh mereka yang tinggal lama di Kotagede. Seorang pemuda berusia 25 tahun yang telah ngekos di kawasan tersebut selama enam tahun mengaku baru mengetahui keberadaan kipo belakangan ini, meski hampir setiap hari beraktivitas di sana.

“Selama ngekos, saya sering jajan di sekitar kos dan jalur ke kampus. Tapi kipo hampir tidak pernah terlihat. Yang mudah ditemukan ya angkringan, gorengan, atau jajanan modern. Jadi meskipun tinggal lama di Kotagede, saya sama sekali tidak punya referensi soal kipo,” katanya.

Menurutnya, absennya kipo dalam ruang konsumsi sehari-hari membuat makanan itu tak masuk dalam kesadaran anak muda pendatang. “Kalau sesuatu tidak hadir di ruang yang kita lewati setiap hari, lama-lama kita tidak merasa kehilangannya. Saya justru tahu kipo dari cerita orang luar kota yang datang mencarinya. Di situ terasa ironinya—dekat secara tempat, jauh secara pengalaman.”

Pengalaman tersebut memperlihatkan persoalan yang lebih luas: jarak kultural akibat lemahnya pewarisan. Pola hidup anak-anak dan remaja hari ini memperlebar jarak itu. Sekolah dimulai sejak pukul 07.00, membuat mereka berangkat sebelum pasar tradisional sepenuhnya hidup. Pulang menjelang magrib, sering kali masih disusul kegiatan lain—mengaji, les tambahan, atau aktivitas pendukung akademik. Sementara itu, pasar tradisional justru selesai sebelum mereka sempat singgah.

Tidak ada ruang pertemuan, tidak ada pengalaman langsung. Ketika kesempatan mengenal tak pernah hadir, pilihan konsumsi bertahan pada yang sudah dikenal. Bukan karena generasi Z menolak yang baru, melainkan karena tak ada waktu, ruang, dan contoh sosial yang memperkenalkannya.

Gudeg dan bakpia tetap bertahan karena telah menjelma ikon yang dikemas industri dan pariwisata. Ia hadir dalam baliho, etalase oleh-oleh, dan narasi kota. Sebaliknya, makanan tradisional yang tak masuk arus tersebut—seperti kipo—bertumpu pada ingatan lokal yang kian rapuh.

Masalahnya, dengan demikian, bukan semata pada generasi Z yang dianggap tak peduli, melainkan pada ekosistem budaya yang gagal menghadirkan warisan kuliner dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa upaya pengenalan yang sadar dan berkelanjutan, makanan tradisional bukan hanya terlupakan, tetapi berisiko menjadi asing—bahkan di kampung halamannya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *