catrawarta.com — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 814 kejadian bencana terjadi di Indonesia sepanjang 1 Januari hingga 24 April 2026. Mayoritas bencana didominasi oleh banjir dan cuaca ekstrem.
Dalam keterangannya, BNPB menyebut bahwa bencana hidrometeorologi masih menjadi penyumbang terbesar, mencapai lebih dari 99% dari total kejadian. “Jumlah kejadian bencana per 24 April 2026 tercatat 814 kejadian, didominasi banjir dan cuaca ekstrem,” demikian keterangan BNPB.
Dari data tersebut, banjir tercatat sebagai bencana paling sering terjadi dengan 384 kejadian, diikuti cuaca ekstrem sebanyak 253 kejadian, serta kebakaran hutan dan lahan sebanyak 85 kejadian.
Dampak yang ditimbulkan juga tidak kecil. BNPB mencatat: 214 orang meninggal dunia lebih dari 2,3 juta warga terdampak ribuan rumah mengalami kerusakan.
Secara geografis, Pulau Jawa menjadi wilayah dengan kejadian tertinggi, terutama Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
Ancaman yang Berulang
Tingginya jumlah bencana hidrometeorologi menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi persoalan struktural dalam pengelolaan lingkungan dan mitigasi risiko.
Banjir dan cuaca ekstrem bukan fenomena baru, namun frekuensinya yang terus meningkat menunjukkan adanya tekanan yang lebih besar, baik dari faktor perubahan iklim maupun kondisi tata ruang yang belum optimal.
Selain itu, tingginya jumlah warga terdampak juga menegaskan bahwa bencana di Indonesia bukan hanya soal kejadian alam, tetapi juga soal kesiapan sistem dalam merespons dan meminimalkan dampaknya. Jika tidak ditangani secara komprehensif, pola ini berpotensi terus berulang setiap tahun, dengan dampak yang semakin luas.

Saat Cinta Ditimbang Takut: Gen Z, ‘Marry is Scary’, dan Jurus Baru KUA Menjual Kesederhanaan 