catrawarta.com — Di tengah riuh linimasa yang dipenuhi kisah perceraian, perselingkuhan, hingga drama rumah tangga, generasi muda hari ini seperti berdiri di persimpangan: antara takut menikah dan tetap mencari makna dari sebuah komitmen. Fenomena “marry is scary” bukan sekadar tren viral, melainkan cerminan kegelisahan nyata Generasi Z dalam membaca masa depan relasi.
Di sisi lain, Kantor Urusan Agama (KUA) justru bergerak ke arah yang tak terduga: lebih aktif, lebih digital, bahkan terasa “menjual” konsep pernikahan sederhana kepada publik muda.
Kontradiksi ini menarik. Ketika Gen Z diliputi kecemasan, negara melalui KUA justru tampil semakin komunikatif.
Ketakutan yang Rasional
Bagi banyak anak muda, menikah bukan lagi sekadar milestone sosial. Ia adalah keputusan besar yang penuh risiko. Konten-konten viral tentang konflik rumah tangga memperkuat persepsi bahwa pernikahan bukan ruang romantik, melainkan arena ujian.
“Gen Z hidup dalam era transparansi emosional. Mereka melihat realitas pernikahan tanpa filter, sehingga wajar jika muncul rasa takut,” kata Dr. Rina Setyawati, sosiolog keluarga dari Universitas Gadjah Mada.
Menurutnya, ketakutan ini tidak sepenuhnya negatif. Justru menunjukkan adanya kesadaran baru dalam memaknai relasi. “Mereka lebih reflektif, tidak gegabah. Pernikahan tidak lagi dianggap kewajiban, tapi pilihan sadar,” tambahnya.
Selain faktor emosional, tekanan ekonomi juga memainkan peran besar. Ketidakpastian kerja, mahalnya biaya hidup, hingga standar sosial yang tinggi membuat pernikahan terasa sebagai beban tambahan.
KUA Menjawab dengan Cara Baru
Di tengah keraguan itu, KUA hadir dengan wajah berbeda. Tidak lagi identik dengan birokrasi kaku, kini KUA aktif di media sosial, membuat konten edukatif, bahkan ikut dalam tren digital.
Fenomena “hard selling” ini terlihat dari cara KUA mengemas pesan: menikah itu mudah, sah, dan tidak harus mahal. Narasi ini seolah menjadi kontra terhadap budaya pesta mewah yang selama ini melekat.
“Ini bukan sekadar promosi, tapi strategi komunikasi publik,” ujar Dr. Ahmad Fauzi, pakar komunikasi kebijakan publik. “Negara mencoba mendekati Gen Z dengan bahasa mereka sendiri.”
Salah satu simbol perubahan itu adalah viralnya “Tepuk Sakinah” dalam bimbingan pra-nikah. Metode sederhana ini mengubah suasana kelas yang biasanya formal menjadi lebih cair dan menyenangkan.
Alih-alih ceramah satu arah, KUA mulai menggunakan pendekatan partisipatif—sesuatu yang lebih dekat dengan karakter Gen Z yang interaktif.
Pergeseran Makna Pernikahan
Menariknya, di balik ketakutan yang mengemuka, justru terjadi pergeseran preferensi. Banyak anak muda kini memilih menikah di KUA tanpa pesta besar. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena ingin kembali pada esensi.
“Ini bentuk resistensi terhadap budaya konsumtif,” kata Rina. “Gen Z mulai memisahkan antara makna pernikahan dan seremoni sosial.”
Pernikahan tidak lagi harus megah untuk dianggap sah atau bermakna. Kesederhanaan justru menjadi nilai baru.
Dalam konteks ini, KUA menemukan momentumnya. Ia tidak hanya menjadi institusi administratif, tetapi juga ruang edukasi dan transformasi budaya.
Menjembatani Kecemasan dan Harapan
Fenomena ini pada akhirnya bukan sekadar soal takut menikah atau tidak. Ini adalah tentang bagaimana generasi baru membangun ulang definisi komitmen, dan bagaimana negara meresponsnya.
KUA, dengan segala adaptasinya, sedang mencoba menjembatani dua dunia: kegelisahan Gen Z dan kebutuhan akan institusi keluarga yang tetap relevan.
Di tengah ketidakpastian, satu hal menjadi jelas: pernikahan tidak mati. Ia hanya sedang ditafsir ulang.
Dan mungkin, di balik tagar “marry is scary”, tersimpan harapan yang lebih jujur—bahwa ketika saatnya tiba, mereka ingin menikah bukan karena tekanan, melainkan karena kesiapan. (Berbagai sumber)

Raffi Ahmad Jadi Duta BPJS: Strategi Negara Menaklukkan Generasi Muda Lewat Influencer 