Catra Budaya

Bukan Lagi Soal Mistis, Keris Kini Jadi Simbol Literasi dan Gaya Hidup

catrawarta.com — Sejak ditetapkan sebagai Hari Keris Nasional oleh Kementerian Kebudayaan pada 2025 lalu, kedudukan keris di Indonesia semakin kokoh. Peringatan setiap...

Woman in a headscarf and badge observes a glass display case holding knives in a museum setting
KERIS: Kepala Dinas Kebudayaan DIY (Kundha Kabudayan) Dian Lakshmi Pratiwi saat melihat pameran keris.(Sumber: Dinas Kebudayaan DIY)

catrawarta.comSejak ditetapkan sebagai Hari Keris Nasional oleh Kementerian Kebudayaan pada 2025 lalu, kedudukan keris di Indonesia semakin kokoh. Peringatan setiap 19 April sebagai Hari Keris menjadi momentum untuk mengikis kesan angker yang melekat pada senjata tradisional tersebut.

Sebagai salah satu dari 16 warisan budaya tak benda yang diakui UNESCO, keris kini sedang didefinisikan ulang. Kolektor keris sekaligus akademisi FIB UGM, Abdul Jawat Nur, menekankan literasi keris harus menyentuh semua kalangan tanpa sekat eksklusivitas.

”Keris bisa untuk semua orang. Bahkan, perempuan dahulu juga memiliki keris. Jangan sampai ada yang menganggap keris itu haram. Ini budaya adiluhung dengan nilai seni, historis, dan ekonomi tinggi,” ungkap Jawat pada keterangannya pada media.

Ia menjelaskan fungsi keris telah bergeser melampaui sekadar senjata perang jarak dekat. Sekarang, keris lebih dikenal sebagai ageman atau benda yang memberikan sugesti positif bagi pemakainya dalam menjalani profesi.

Jati Diri Pemilik

Uniknya, setiap jenis keris biasanya disesuaikan dengan jati diri pemiliknya. Jawat mencontohkan para dalang yang kerap memilih keris Pandawa Cinarito demi menunjang performa mereka saat bercerita di atas panggung.

”Para dalang menggunakan keris karena dipercaya mempunyai fungsi untuk melancarkan seseorang dalam berbicara,” jelas Jawat mengenai filosofi di balik pemilihan jenis keris.

Memasuki era modern, fungsi fisik keris sebagai alat tempur praktis sudah berakhir. Menurutnya, hampir tidak ada lagi empu yang menempa keris untuk kebutuhan peperangan fisik seperti masa lalu.

Transformasi bentuk juga sempat terjadi dalam sejarah, misalnya munculnya keris sepanjang satu meter untuk menandingi pedang Belanda. Namun sekarang, keris dibuat lebih personal berdasarkan permintaan untuk kebutuhan koleksi atau pelengkap busana.

Tips Tidak Tertipu

Bagi masyarakat yang tertarik mulai mengoleksi, Jawat membagikan tips sederhana agar tidak tertipu. Langkah awal adalah memahami pakem, seperti jumlah luk (lekukan) yang maksimal berjumlah 13 untuk kategori keris standar lama. Secara visual, material keris terdiri dari perpaduan besi, baja, dan pamor.

”Jika warnanya abu-abu itu baja, yang hitam pekat itu besi, sementara bahan pamornya berasal dari meteorit,” tuturnya memberi panduan.

Ia juga mengingatkan tantangan besar di era digital, yakni praktik replikasi dan klaim mistis yang sering dipakai oknum untuk mendongkrak harga. Masyarakat diimbau tidak mudah terkecoh oleh narasi-narasi di luar logika yang tidak masuk akal.

”Jangan percaya cerita aneh, apalagi jika harganya tidak masuk akal. Tidak mungkin keris berhias emas dijual murah. Lebih baik beli ke kolektor terpercaya atau pesan langsung ke empu,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *