Catra Cendekia

Ternyata Bukan Sawit, Tanaman Ini yang Bisa Jadi Energi Terbarukan

catrawarta.com — Memanasnya geopolitik di Timur Tengah akibat konflik Amerika Serikat dan Israel yang mengeroyok Iran, memicu alarm bahaya bagi pasokan BBM...

T tropical evergreen tree branch with dark green oval leaves and clusters of small round green fruits
Ilustrasi biji nyamplung.(Sumber: ist)

catrawarta.comMemanasnya geopolitik di Timur Tengah akibat konflik Amerika Serikat dan Israel yang mengeroyok Iran, memicu alarm bahaya bagi pasokan BBM dunia. Indonesia, yang masih bergantung pada impor, kini dituntut mencari jalan keluar kreatif agar tidak terus-menerus terjepit oleh kenaikan harga minyak mentah global yang tak menentu.

Merespons kondisi tersebut, Guru Besar Ilmu Kimia UGM, Prof Wega Trisunaryanti, menilai gejolak global menjadi momentum emas bagi Indonesia. Menurutnya, sudah saatnya Indonesia berdikari dengan melirik potensi tersembunyi dari kekayaan alam lokal sebagai sumber energi alternatif.

Ia menjagokan tanaman Nyamplung (Calophyllum inophyllum) dan Malapari (Pongamia pinnata) sebagai solusi energi baru. Keduanya merupakan jenis vegetable oil atau minyak nabati yang tidak dikonsumsi manusia, sehingga pengembangannya tidak akan mengganggu stok pangan nasional.

Kedua tanaman tumbuh subur di berbagai pelosok Nusantara dan memiliki potensi besar untuk diolah menjadi biofuel. Selain untuk kendaraan darat, Prof. Wega tengah meneliti penggunaan minyak ini sebagai bahan bakar pesawat atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Langkah riset menuju bahan bakar pesawat ramah lingkungan sangat strategis. Pasalnya, dunia internasional tengah berbondong-bondong beralih ke energi hijau guna mencapai target zero carbon, yang tentu saja memiliki nilai ekonomi sangat tinggi.

Namun, transisi ke energi terbarukan ini bukannya tanpa tantangan. Wega mengingatkan aspek keselamatan mesin harus tetap jadi prioritas utama. Pasalnya, mesin kendaraan saat ini dirancang untuk BBM fosil dan berisiko rusak jika spesifikasi bahan bakarnya tidak sesuai.

Selain teknis, kendala lain muncul dari budaya riset di Indonesia. Ia menyayangkan sikap individualis yang masih kuat di kalangan akademisi. Antarinstitusi riset justru sering bersaing ketat ketimbang berkolaborasi secara solid untuk kepentingan nasional.

”Banyak penelitian yang belum berkelanjutan dan belum dilanjutkan oleh industri terkait,” ungkap Wega mengenai minimnya hilirisasi hasil riset di Indonesia.

Berhemat Menunggu Produk Terbarukan

Karena itu, ia menekankan pentingnya peran pemerintah untuk mengawal program ini dari hulu ke hilir. Dukungan kebijakan dan pendanaan yang intensif sangat dibutuhkan agar hasil riset dari kampus tidak hanya berakhir menjadi tumpukan dokumen di perpustakaan.

Sembari menunggu industri energi terbarukan matang, strategi paling realistis bagi masyarakat saat ini adalah penghematan. Budaya tidak boros bahan bakar dan mulai beralih ke transportasi umum dinilai akan sangat membantu meringankan beban energi negara.

Wega berharap Indonesia mulai serius menggarap sumber energi lain seperti angin, matahari, hingga fuel cell. Perangkat elektrokimia tersebut mampu mengubah energi kimia menjadi listrik secara bersih, dengan residu hanya berupa panas dan air.

”Energi fosil semakin menipis dan memicu polusi. Kita harus menuju alternatif yang hijau dan berkelanjutan demi masa depan,” tandas Wega.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *