catrawarta.com — Raja Surakarta Paku Buwono XIV Hangabehi melaksanakan Salat Jumat di Masjid Gedhe Mataram, Kotagede, Yogyakarta, Jumat (9/1/2026). Kehadiran raja Surakarta tersebut menarik perhatian jamaah dan masyarakat yang memadati masjid bersejarah itu.
Hangabehi diketahui datang langsung dari Solo dengan mengemudikan mobil sendiri, didampingi beberapa kerabat Keraton Surakarta yang menyusul menggunakan minibus. Ia tampil sederhana mengenakan kemeja batik lengan pendek dan ber blangkon. Usai Salat Jumat, putra sulung mendiang Paku Buwono XIII itu pun melayani jamaah yang berebut berfoto bersamanya.
Kepada awak media, Hangabehi menegaskan kedatangannya ke Masjid Gedhe Mataram merupakan kehendak pribadi, tanpa didahului mimpi atau pertanda khusus. “Saya hanya melaksanakan Salat Jumat seperti biasa, meminta doa, meminta restu, meminta berkah,” ujarnya.Ia menjelaskan, kunjungan tersebut merupakan kelanjutan dari rangkaian Salat Jumat yang sebelumnya telah dilakukannya di sejumlah masjid di Surakarta. “Ini melanjutkan rangkaian setelah selesai Salat Jumat di tujuh masjid agung di Surakarta. Setelah terakhir di Masjid Laweyan, saya berkeinginan melanjutkan ke Masjid Gedhe Mataram,” kata Hangabehi.
Sebelumnya, ia juga tercatat melaksanakan Salat Jumat berturut-turut di Masjid Agung Solo. Menurut Hangabehi, Masjid Gedhe Mataram memiliki makna historis yang kuat. Selain dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Indonesia, kawasan Kotagede juga merupakan bagian penting dari sejarah Mataram, termasuk sebagai lokasi makam para leluhur raja-raja Jawa.
Sementara itu, Bupati Sepuh Keraton Surakarta Hadiningrat, KRT Purwadi Sosronagoro, yang turut mendampingi, menilai kunjungan tersebut memiliki makna simbolik bagi kedudukan raja. “Ini merupakan cara untuk memuliakan leluhur Mataram. Kehadiran ke sini juga dapat dimaknai sebagai sarana legitimasi, memperoleh wahyu jatmiko, dan menambah aura kewibawaan raja,” jelasnya.
Kunjungan PB XIV Hangabehi ke Masjid Gedhe Mataram pun dipandang tidak hanya sebagai ibadah personal, tetapi juga sebagai penegasan ikatan historis dan spiritual Keraton Surakarta dengan warisan Mataram Islam.

Yaqut Cholil Qoumas, Tersangka Kasus Kuota Haji 