catrawarta.com — Di sudut Kotagede yang sarat sejarah dan tradisi, berdiri sosok kiai yang dikenal luas karena keluasan ilmu, keterbukaan sikap, serta dedikasinya dalam merawat harmoni sosial-keagamaan. Dialah KH Abdul Muhaimin, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummahat.
Lahir di Yogyakarta pada 13 Maret 1953, Kiai Muhaimin tumbuh dalam lingkungan religius yang membentuk karakter keilmuannya sejak dini. Ia mengawali pendidikan di Sekolah Rakyat Muhammadiyah Kleco, kemudian melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah di lingkungan Pesantren Krapyak—salah satu pusat pendidikan Islam terkemuka di Yogyakarta. Tak hanya itu, cakrawala intelektualnya juga ditempa melalui pengalaman belajar di Institute for Training and Development, yang memperkaya perspektifnya dalam melihat dinamika global.
Di ranah pengabdian, kiprah Kiai Muhaimin melampaui batas-batas pesantren. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Jakarta, sekaligus menjadi pendiri dan koordinator Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB). Perannya dalam membangun dialog lintas iman menjadikannya salah satu tokoh penting dalam upaya merawat keberagaman di Indonesia.
Selain itu, ia juga aktif sebagai Anggota Dewan Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Ketua Jamaah Thariqah Nahdliyah Yogyakarta, Staf Ahli Pusat Studi Pancasila UGM, serta Ketua Forum Komunikasi Penanggulangan Terorisme (FKTP) DIY. Keterlibatannya di berbagai lembaga ini menunjukkan konsistensinya dalam mengawal nilai-nilai kebangsaan, kebudayaan, dan moderasi beragama.
Dalam kehidupan personal, Kiai Muhaimin pernah didampingi oleh almarhumah Nyai Hj. Umi As’adah, yang juga berperan sebagai pengasuh pesantren. Bersama, mereka membangun Pondok Pesantren Nurul Ummahat sebagai ruang pendidikan yang tidak hanya menekankan penguasaan ilmu agama, tetapi juga pembentukan karakter terbuka, inklusif, dan humanis.
Karakter itulah yang membuat Kiai Muhaimin dikenal sebagai pribadi egaliter dan demokratis. Rumahnya di Dusun Darakan Timur, Kotagede, terbuka bagi siapa saja. Tanpa sekat dan protokoler, ia menerima tamu dari berbagai latar belakang—untuk berdiskusi, mengaji, atau sekadar berbincang tentang persoalan agama, sosial, budaya, hingga politik. Baginya, dialog adalah jalan untuk saling memahami, bukan untuk saling meniadakan.
“Manusia itu pelayan,” demikian salah satu prinsip hidup yang kerap ia sampaikan. Kiai Muhaimin meneladani Nabi Muhammad – Rasulullah SAW – sebagai figur yang melayani umat tanpa memandang kasta, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam pandangannya, hidup adalah proses mencari barokah melalui pengabdian kepada sesama.
Di bidang kebudayaan, kiprahnya juga diakui luas. Ia menerima Tasrif Award dari Aliansi Jurnalis Independen pada tahun 2000, penghargaan Peduli Budaya dari Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 2009, serta sertifikat Patisara sebagai pengajar Pawiyatan Kraton Yogyakarta pada 2011. Pada 11 Februari 2015, ia turut mendeklarasikan Forum Seniman Budayawan Muslim Yogyakarta bersama Emha Ainun Nadjib, Arif Noor Hartanto, Ahmad Charis Zubair, KH Muhammad Jadul Maula, dan tokoh lainnya—sebuah langkah penting dalam merajut sinergi antara Islam dan kebudayaan.
Dalam wacana kebangsaan, Kiai Muhaimin memiliki pandangan yang tegas bahwa kaum santri adalah kelompok paling nasionalis di Indonesia. Nasionalisme, menurutnya, bukan sekadar sikap politik, melainkan keyakinan teologis yang telah mengakar sejak masa perjuangan melawan penjajahan. Ia merujuk pada momentum Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang digagas oleh Hasyim Asy’ari sebagai puncak dari kesadaran tersebut.
Melalui seluruh kiprah dan pemikirannya, KH Abdul Muhaimin tidak hanya menjadi pengasuh pesantren, tetapi juga penjaga nilai-nilai kemanusiaan, kebangsaan, dan keberagaman. Kiai Muhaimin adalah contoh nyata bahwa ulama tidak hanya hadir di mimbar. Kiai yang juga berbaur di tengah masyarakat—menjadi jembatan dialog, peneduh perbedaan, dan penggerak harmoni sosial.
Abdul Muhaimin yang sekarang masih menjabat A’wan PBNU ini tetap istiqomah dalam kesederhanaan hidup terbukti. Tidak punya mobil. Kemana-mana hanya menggendarai sepeda motor Shogun tahun 1994.

Dari FOMO ke FOBO: Cara Gen Z Menjalani Hidup yang Semakin Tidak Pasti 