catrawarta.com — Di bawah langit Desa Slangit yang cerah, irama gamelan mulai menggema, mengalun pelan lalu semakin menghentak. Satu per satu penari bertopeng memasuki arena, mengenakan kostum warna-warni yang berkilau diterpa cahaya pagi. Di Desa Slangit, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Jumat (10/4/2026) itu bukan sekadar hari biasa, melainkan perayaan budaya yang sarat makna.
Sebanyak 500 penari tampil serempak dalam rampak Tari Topeng Samba gaya Slangit. Gerakan mereka lincah, tegas, sekaligus penuh ekspresi, menyatu dalam harmoni yang memukau. Topeng-topeng yang dikenakan bukan sekadar hiasan, melainkan simbol karakter, menggambarkan sifat manusia, dari kelembutan hingga keberanian. Setiap langkah kaki dan ayunan tangan seolah bercerita tentang perjalanan hidup yang tak pernah lepas dari dinamika.
Di balik kemegahan pertunjukan, tersimpan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Pementasan ini menjadi bagian dari Mapagsri, sebuah ritual masyarakat untuk menyambut musim panen. Tradisi ini bukan hanya ungkapan syukur atas hasil bumi, tetapi juga harapan atas keberkahan di masa mendatang.
Warga Tumpah Ruah
Warga setempat tumpah ruah menyaksikan pertunjukan. Anak-anak hingga orang tua larut dalam suasana, beberapa mengikuti irama dengan tepukan tangan, sementara yang lain terpaku menyaksikan keindahan gerak para penari. Bagi mereka, ini bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari identitas yang hidup dan terus dijaga.
Rampak Tari Topeng Samba gaya Slangit tahun ini menjadi simbol kekuatan kebersamaan. Ratusan penari dari berbagai kalangan bersatu dalam satu panggung, memperlihatkan bahwa tradisi tetap mampu bertahan di tengah arus modernisasi. Di Desa Slangit, budaya tidak hanya dikenang, tetapi dirayakan, dihidupkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Berbagai sumber)

Pengembalian Uang dari Upaya Penegakan Hukum Capai Rp 11,42 Triliun 