catrawarta.com — Percakapan tentang bangsa kini tidak lagi terdengar berat dan berjarak. Di ruang yang dipenuhi mahasiswa, istilah moderasi beragama dan bela negara juga tak sekadar menjadi jargon formal, melainkan tumbuh sebagai kesadaran yang pelan-pelan dirawat bersama.
Seperti terlihat dalam forum bertajuk SAPA AKAR BANGSA (Sarapan Afirmasi Akar Moderasi Beragama dan Bela Negara) digelar Pimpinan Wilayah Pergerakan Mahasiswa Moderasi Beragama dan Bela Negara (PW PMMBN) Jawa Timur 1.
Meski tema yang diusung terdengar serius, ‘Sinergi Aksi Teknis dan Strategi Preventif dalam Merajut Moderasi Beragama serta Kedaulatan Negara’. Namun di balik itu, ada kegelisahan yang nyata, sekaligus harapan yang tak ingin padam.
Kegelisahan itu bukan tanpa alasan. Lanskap kebangsaan hari ini dipenuhi tantangan yang kian kompleks, polarisasi sosial yang meruncing, arus informasi digital yang tak terbendung hingga masuknya paham intoleran yang perlahan menggerus sendi-sendi persatuan. Di tengah situasi itu, mahasiswa tidak lagi cukup menjadi penonton. Mereka didorong menjadi penjaga, bahkan sejak dari akar rumput.
Forum ini pun dirancang bukan sekadar ruang diskusi, tetapi ruang tumbuh. Dipandu moderator Neng Himmatul Aliyah, percakapan mengalir dari satu narasumber ke narasumber lain, membentuk satu benang merah, bahwa menjaga Indonesia bukan hanya tugas negara, tetapi juga kerja bersama, terutama generasi muda.
Komitmen Kebangsaan dan Keagamaan Moderat
Dr M Munir MA, Direktur Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama RI, menegaskan, kekuatan bangsa bertumpu pada dua hal yang tak bisa dipisahkan, yakni komitmen kebangsaan dan pemahaman keagamaan yang moderat. “Kokohnya kesatuan bangsa sangat bergantung pada komitmen kebangsaan yang kuat dan pemahaman keagamaan yang moderat. Dua hal ini harus berjalan beriringan,” tegas Munir.
Nada yang sama menguat ketika Kepala Bakesbangpol Jawa Timur, Eddy Supriyanto, berbicara tentang posisi strategis generasi muda. Dalam pandangannya, mahasiswa bukan hanya agen perubahan dalam arti simbolik, tetapi aktor preventif yang mampu merajut moderasi dalam kehidupan sehari-hari.
Percakapan kemudian melebar ke wilayah pertahanan dan keamanan. Dari perspektif aparat, upaya menjaga bangsa tidak selalu identik dengan senjata atau barisan militer. Direktur Binmas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Eko Santoso, bersama Staf Ahli Pangdam, Kolonel Benny, menggambarkan pendekatan yang lebih humanis dalam menanamkan nilai bela negara. “Upaya menumbuhkan cinta tanah air di kalangan pemuda harus dilakukan melalui pembinaan yang berkelanjutan dan pendekatan yang edukatif,” terang Kombes Pol Eko Santoso.
Deklarasi Kebangsaan
Momentum paling khidmat hadir ketika deklarasi kebangsaan dibacakan. Para tokoh yang hadir menandatangani komitmen tersebut. Deklarasi ini menjadi simbol, menjaga Indonesia tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri. Ia membutuhkan pertemuan, dialog dan kesediaan untuk berjalan bersama, meski berasal dari latar belakang yang berbeda.
Namun forum ini tidak berhenti pada tataran ideologis. Ada kesadaran, generasi muda membutuhkan ruang konkret untuk bergerak.
Dari rangkaian itu, tampak jelas SAPA AKAR BANGSA tidak ingin berhenti sebagai diskursus. Ia ingin bergerak lebih jauh, membekali mahasiswa dengan keterampilan seperti literasi digital dan kemampuan resolusi konflik sosial, sebagai bekal menghadapi tantangan zaman.

Bermimpi Jadi Seniman 