Catra Cendekia

Sulap Air Wudhu untuk Sayur dan Ikan, Inovasi Hijau Bikin Masjid Jadi Produktif

catrawarta.com — Sisa air wudhu yang biasanya langsung mengalir ke selokan ternyata bisa berubah membantu sumber pangan. Inovasi cerdas inilah yang dibawa...

INOVASI: Pemanfaatan air wudhu untuk tanaman dan kolam ikan.(Sumber: dok UMY)

catrawarta.comSisa air wudhu yang biasanya langsung mengalir ke selokan ternyata bisa berubah membantu sumber pangan. Inovasi cerdas inilah yang dibawa oleh tim pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) saat menyambangi Masjid Al Ittihad, Sleman.

Tim yang mengusung tajuk “Model Inovasi Hijau Budikdamber” mengajak warga untuk tidak lagi membuang percuma air bekas bersuci. Alih-alih terbuang, air tersebut dialirkan ke dalam sistem akuaponik yang menggabungkan budidaya ikan dan tanaman sayur sekaligus.

Hasilnya? Tanaman tumbuh subur dan ikan juga tidak mengalami kendala. Keduanya dapat berkembang normal seperti layaknya tanaman dan ikan di alam.

Ketua tim pengabdian sekaligus dosen Fakultas Pertanian UMY, Ir Lestari Rahayu MP menghitung potensi besar dari aktivitas ibadah jamaah. Menurutnya, potensi limbah cair di rumah ibadah sangat melimpah jika dikelola dengan sentuhan teknologi tepat guna yang sederhana.

Hasilkan Belasan Liter Per Orang

“Secara rata-rata, setiap jamaah menghasilkan 10-15 liter air wudhu per hari. Melalui sistem sirkulasi akuaponik, limbah cair tersebut kini bermanfaat sebagai nutrisi bagi tanaman dan media budidaya ikan,” jelas Lestari dengan antusias.

Suasana dialog edukasi di masjid tersebut tampak hidup saat marbot, remaja masjid, hingga warga Karangwuni berkumpul. Mereka belajar langsung dari Muhammad Farhan SP, pemilik Karya Farm yang juga alumni UMY, tentang rahasia sukses memanen ikan dan sayur di lahan yang super sempit.

Menariknya, acara ini tak hanya menarik minat warga, tapi juga mencuri perhatian dunia industri. Bagas Adhiputro dari General Affair Warung Spesial Sambal (SS) turut hadir memantau potensi system tersebut untuk diterapkan pada rantai pasok bahan pangan mereka.

Program Kebun Produktif

Bagas mengakui dunia usaha kuliner sangat tertarik dengan konsep “Kebun Produktif”. Meski sempat mengalami pasang surut dalam mencoba budidaya mandiri, semangat untuk menghadirkan bahan pangan segar dan efisien tetap menjadi fokus utama perusahaan.

“Saat ini Warung SS memiliki program kebun produktif. Meskipun budidaya ikan sempat gagal panen, pemilik menyarankan kami tetap fokus pada budidaya tanaman terlebih dahulu,” ungkap Bagas menceritakan pengalamannya.

Sebagai langkah awal yang nyata, tim dosen UMY membagikan kit akuaponik secara simbolis kepada takmir Masjid Al Ittihad dan perwakilan Warung SS. Bantuan menjadi stimulan agar sistem sirkulasi air wudhu yang produktif bisa segera beroperasi dan dinikmati hasilnya.

Tak berhenti di masjid, inovasi “hijau” ini juga ditawarkan untuk masuk ke dapur-dapur rumah tangga warga. Tim pengabdian membuka pintu bagi peserta yang ingin mengadopsi sistem serupa di rumah, agar kemandirian pangan bisa dimulai dari halaman sendiri dengan cara yang mudah dan menyenangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *