catrawarta.com — Mengupas Babad Diponegoro seperti tak ada habisnya. Masih banyak sisi yang perlu diungkap dan diketahui pembaca. Pada momen khaul Diponegoro kali ini, penulis mencoba mengangkat kisah cinta Diponegoro kepada sang istri.
Pangeran Diponegoro tak hanya ahli di bidang strategi perang, ia juga seorang santri yang paham agama dan banyak julukan yang dilabelkan kepada pahlawan nasional ini. Dari beberapa sumber tentang kisah cintanya kepada sang istri, Raden Ayu Maduretno, ternyata penuh dengan pujian.
Dari pertemuan pertama, sampe menikah, kisah kasih sepanjang pernikahan, hingga kisah sedih kematiannya, mengundang kekaguman.
Budayawan Banyumas Nasirun Wijaya yang banyak menulis kembali Babad Diponegoro menjelaskan, Raden Ayu Maduretno adalah anak Ratu Ayu Maduretno. Ratu Ayu Maduretno adalah anak Sultan Hamengku Buwana II yang dinikahkan dengan Ronggo Prawirodirjo III.
Raden Ayu Maduretno kemudian menjadi yatim piatu. Ibunya meninggal ketika melahirkan adiknya. Ayahnya terbunuh dalam konspirasi politik Kolonial Inggris.
Setelah itu hidupnya tinggal di istana. Sampai kemudian bertemu Pangeran Diponegoro.
Cinta pada pandangan pertama hingga sang pangeran tidak bisa tidur, selalu terbayang pesonanya. Raden Ayu Maduretno digambarakan sebagai ‘berkumpulnya perempuan berwajah cantik dan bersifat baik se Pulau Jawa’. Tanpa tandingan kecantikan dan kebaikannya.
Setelah meletus perang Jawa, sang istri ikut mendampingi suaminya. Tak pernah meninggalkan. Sampai kemudian menderita sakit. Sampai akhirnya meninggal dunia.
Mengutip keterangan penulis Peter Carey, Nasirun menyebutkan, Raden Ayu Maduretno meninggal di kisaran tanggal 20 Nopember 1827.
Ketika itu sang istri bersama para istri pangeran yang lain berdiam di Kawisharja. Sementara Pangeran Diponegoro dan pengeran yang lain sedang berjuang di wilayah Bagelen (kini ikut wilayah Kabupaten Purworejo Jawa Tengah). Membangun markas di desa Kulur.
Ketika sang istri meninggal, kemesraan Pangeran Diponegoro tidak pernah pudar. Tertulis dalam bait panjang Macapat Kinanti:
“Pesarehan sampun rawuh
meksih mujung cindhe wilis
tan matra surudika
nulya lenggah Sri Bupati
Kanjeng Ratu layonira
pinangku mring Sri Bupati
“Ingkang layon Kangjeng Ratu
sedalu mapan sinandhing
dhumateng Sri Naranata
kang sinjang myang singeb neki
lajenging ngagem sadaya
tan mawi kinumbah iki.”
Kematian Raden Ayu Maduretno diperkirakan terjadi tahun 1827. Dan, sang pangeran menuliskan dengan detil dan penuh keharuan 4 tahun kemudian, pada tahun 1831, jauh dari makam istrinya. Waktu itu, Pangeran Diponegoro sudah ditangkap dan dipenjarakan di Manado.

Kesalahan Strategis Diponegoro yang Tak Pernah Dibahas 