Warta

Krisis Pupuk Akibat Perang, Bisa Berakibat Fatal bagi Indonesia

catrawarta.com — Eskalasi konflik di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran kini mulai merambat ke sektor-sektor...

ORGANIK: Mahasiswa UGM membuat pupuk organik dari limbah rumah tangga.(Sumber: dok UGM)

catrawarta.comEskalasi konflik di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran kini mulai merambat ke sektor-sektor vital kehidupan, melampaui sekadar urusan geopolitik dan militer. Salah satu dampak yang paling mengkhawatirkan, terancamnya pasokan pupuk berbasis nitrogen dunia, mengingat negara-negara di kawasan Teluk merupakan produsen utama bahan baku tersebut.

Gangguan pada jalur distribusi internasional bukan sekadar masalah logistik, melainkan ancaman nyata bagi keamanan pangan global yang dapat memicu krisis kelaparan jika tidak segera dimitigasi.

Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Prof Subejo mengingatkan perang di wilayah strategis tersebut memberikan tekanan hebat pada sektor pertanian, khususnya pada ketersediaan pupuk kimia. Menurutnya, ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor menjadikan posisi Indonesia rentan terhadap fluktuasi politik luar negeri.

Kelangkaan pasokan nitrogen yang menjadi komponen inti pupuk nonorganik diprediksi akan mengganggu siklus tanam jika ketegangan di wilayah produsen terus berlanjut tanpa kepastian.

Kelangkaan Bisa Diatasi

Meskipun situasi terlihat mengkhawatirkan, Subejo mengungkaapkan ancaman kelangkaan bisa diatasi dengan strategi yang tepat. Ia menekankan, tidak semua komponen nutrisi tanaman harus didatangkan dari luar negeri, karena Indonesia memiliki kekayaan sumber daya lokal yang melimpah.

”Kalau pupuk organik dan pupuk hayati, sesungguhnya kita tidak tergantung pada impor; berbeda dengan pupuk kimia yang memang sebagian besar bahannya harus kita datangkan dari luar,” paparnya.

Analisis mendalam menunjukkan bahwa risiko terbesar akan muncul jika konflik bersenjata berlangsung dalam jangka panjang dan menghambat kapal-kapal pengangkut bahan baku untuk bersandar di pelabuhan Indonesia.

Jika distribusi terhenti, dampaknya akan langsung terasa pada musim tanam berikutnya, terutama untuk periode penanaman bulan Juni atau Juli. Pemerintah memang diprediksi masih memiliki cadangan untuk musim sekarang, namun ketidakpastian distribusi bahan baku di masa depan tetap menjadi bom waktu bagi para petani.

Buat Pupuk Organik Mandiri

Di tengah bayang-bayang krisis tersebut, situasi sekarang justru dipandang sebagai momentum yang tepat untuk meningkatkan produktivitas pupuk dalam negeri secara mandiri. Keterbatasan pupuk kimia seharusnya memicu semangat untuk mengoptimalkan potensi pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak maupun kompos dari limbah organik rumah tangga dan pertanian.

Transisi ini bukan hanya soal bertahan hidup di tengah perang, melainkan langkah strategis menuju pertanian yang lebih berkelanjutan dan tidak bergantung pada pasar global.

Subejo menggarisbawahi peluang untuk beralih ke pupuk organik hanya bisa terwujud jika ada keseriusan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Jika stok pupuk nonorganik di pasar benar-benar merosot hingga menyentuh angka 50 persen, risikonya terhadap hasil panen nasional akan sangat fatal.

”Saatnya mengubah tantangan menjadi kesempatan untuk memberdayakan sumber daya lokal adalah satu-satunya jalan keluar yang rasional untuk menjaga kedaulatan pangan,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *