catrawarta.com — Beberapa predikat, identitas profesional, atau label seseorang lebih ditentukan oleh apa yang ia kerjakan, bukan apa yang tertulis di atas kertas. Seseorang disebut “petani” karena tangannya terbiasa akrab dengan tanah dan sungguh-sungguh menghidupi ladangnya. Ia profesional karena aktivitasnya, bukan karena ia punya ijazah agribisnis. Begitu pula pedagang, pengusaha, atau nelayan di pesisir.
Predikat mereka lahir dari rekam jejak dan aktivitasnya di lapangan, bukan dari dokumen yang dilegalisir birokrasi.
Di dunia seni rupapun berlaku juga hal yang sama. Gelar sarjana, magister, bahkan doktor seni tidak otomatis menyulap seseorang menjadi seniman. Status itu tidak datang lewat seremoni wisuda. Seseorang baru layak disebut seniman saat ia sudah benar-benar “nyemplung” dalam proses penciptaan yang intens.
Sebaliknya, pintu seni terbuka bagi siapa saja yang punya dedikasi tinggi pada proses kreatif. Meski tak pernah menginjak bangku kuliah seni formal, seseorang bisa mendapatkan legitimasi penuh dari publik.
Tentu, ini berbeda jauh dengan profesi yang menyangkut nyawa atau regulasi hukum. Dokter, guru, apoteker, arsitek, atau pengacara memang wajib punya sertifikat kompetensi setelah lulus ujian resmi. Tanpa itu, praktik mereka ilegal dan berisiko malapraktik.
Tetapi seni punya jalannya sendiri. Kualitas karya tidak dipatok oleh legalitas ijazah. Tidak jarang ditemukan seniman yang tanpa belajar di pendidikan formal, yang biasa disebut otodidak, mampu melahirkan karya jauh lebih matang dan berkualitas dibanding lulusan perguruan tinggi seni..
Kritikan terhadap pemujaan dokumen akademik sering disampaikan oleh Rocky Gerung. Ia dengan tajam menyebut ijazah cuma bukti seseorang pernah sekolah, bukan bukti dia pernah berpikir, apalagi berkreasi. Di dunia seni, sentilan ini terasa sangat kena.
Kreativitas bukanlah komoditas yang bisa diproduksi massal di ruang kelas yang steril. Ia adalah ledakan kegelisahan yang seringkali justru teredam oleh kekakuan kurikulum dan birokrasi pendidikan formal, yang tidak jarang cenderung lamban mengikuti perkembangan zaman yang semakin bergerak cepat.
Dalam sejarah seni rupa Indonesia beberapa seniman melakukan pembangkangan terhadap jalur tunggal akademik. Bisa dilihat jejak ini pada figur seperti S. Sudjojono dan kelompok Persagi yang mendobrak kemapanan estetika kolonial. Banyak maestro yang berkembang melalui jalur otodidak atau belajar secara sporadis di sanggar-sanggar rakyat, seperti Affandi yang mengaku tidak butuh teori untuk melukis.
Karya mereka tidak lahir dari hafalan komposisi kelas, melainkan dari pengalaman hidup yang perih dan intim dengan realitas sosial. Bagi mereka, proses kreatif adalah pilihan hidup. Seni bukan sekadar pemenuhan tugas akhir untuk mengejar indeks prestasi.
Tokoh seperti Jim Supangkat pernah membedah bagaimana seni rupa kontemporer tumbuh dari dinamika praktik yang sangat terbuka. Ia menyadari bahwa legitimasi seni tidak bisa digantungkan sepenuhnya pada struktur akademik. Legitimasi itu justru mengkristal dalam ruang dialektika, sebagai percakapan jujur antara karya, penciptanya, dan publik yang menikmatinya. Di sinilah, institusi sering kali hanya menjadi pengamat, bukan penentu tunggal nilai sebuah karya.
Begitu pula dengan pandangan Agus Dermawan T. yang melihat bahwa keberagaman latar belakang seniman adalah berkah bagi perkembangan seni rupa. Seniman yang datang dari luar pagar sekolah seni seringkali membawa perspektif yang lebih “liar” dan tidak terbebani oleh pakem-pakem klasik. Mereka mampu menghadirkan kekuatan visual maupun konseptual yang sanggup meruntuhkan pendapat kelompok akademisi yang kadang merasa paling tahu tentang standar estetika.
Coba perhatikan peta seni rupa sepuluh tahun terakhir. Pusat gravitasinya sudah bergeser jauh. Pameran di ruang alternatif, kolektif akar rumput, hingga pameran independen jadi medan pembuktian yang jauh lebih jujur ketimbang galeri formal yang kaku. Praktik seni hari ini bukan lagi monopoli pemilik gelar. Ia milik siapa pun yang punya ketajaman gagasan dan nyali untuk menyuarakannya secara konsisten di hadapan publik.
Meski begitu, jangan sampai terjebak romantisme buta pada jalur otodidak, kemudian menyepelekan pendidikan. Kampus seni tetap punya peran sangat penting, yaitu sebagai penyedia infrastruktur intelektual. Di sanalah mahasiswa diperkenalkan dengan sejarah seni, teori estetika, metodologi proses penciptaan, pengenalan alat dan bahan, pengalaman berkarya, dan yang lainnya. Pengetahuan ini adalah senjata penting. Tujuannya agar seniman tidak asal bikin karya, tapi paham di mana koordinat karyanya berdiri dalam peta sejarah dunia yang sangat luas.
Lingkungan akademik, idealnya, adalah kawah candradimuka tempat teknik-teknik fundamental ditempa secara sistematis. Studio kampus memberikan ruang untuk bereksperimen dengan komposisi dan material di bawah bimbingan praktisi berpengalaman. Hal ini adalah privilese yang dapat memperpendek jarak penemuan teknis. Namun, fungsi ini akan menjadi sia-sia jika institusi hanya mencetak “tukang gambar” yang terampil secara teknis tapi tumpul secara kritis terhadap realitas di sekelilingnya.
Satu hal yang perlu menjadi perhatian, pendidikan formal tidak bisa menyuntikkan “ruh” ke dalam karya jika senimannya sendiri enggan mengasah intuisi, kepekaan artistik, dan kreatifitas. Karya-karya hebat biasanya justru lahir dari semangat memberontak terhadap apa yang dijejalkan di kelas. Pengalaman hidup yang pahit maupun yang manis, dan ketajaman intuisi tetaplah bahan bakar utama yang mustahil ditemukan dalam silabus kuliah manapun. Kualitas karya yang akan bicara lebih lantang daripada deretan gelar panjang di belakang nama seseorang.
Realitas yang ada di depan mata menunjukkan, bahwa sekat antara seniman akademis dan otodidak sudah makin lebur. Debat soal siapa yang lebih hebat sudah tidak relevan lagi. Publik sekarang jauh lebih kritis; mereka hanya peduli pada kejujuran narasi dan kematangan ide. Legitimasi seniman kini tidak lagi ditentukan oleh lembaran kertas bernama ijazah, tapi oleh rekam jejas, kualitas karya, dan kontribusi nyatanya. Ijazah itu cuma pintu masuk, tapi konsistensi adalah kunci yang membawa seniman pada pengakuan abadi.
Purwosari, 14 Maret 2026

Sabtu Dinihari Ledakan Gudang LPG di Temanggung Lukai Empat Orang 