catrawarta.com — Keluarga harusnya menjadi tempat berlindung yang paling aman tetapi nyatanya tidak semua begitu. Justru dari tempat terdekatlah bisa muncul trauma anggota keluarga.
Memang, trauma tak selamanya berakhir dengan gangguan psikologis, Namun demikian terdapat risiko bagi seorang penyintas yang sering kali masih mengalami distress pascatrauma.
‘Trauma kompleks merujuk pada pengalaman traumatis yang berulang dan kronis. Mayoritas trauma bersifat relasional, sering kali terjadi dalam konteks keluarga atau sistem pengasuhan primer,” papar penelitian Amalia Rahmandani SPsi MPsi Psikolog pada
Ia melakukan riset terkait dampak trauma pada usia emerging adult atau dewasa muda (18 – 25 tahun). Menurutnya, tuntutan kepada anak untuk memberikan hal istimewa sering kali menjadi salah satu faktor timbulnya trauma kompleks. Selain itu, ada pula kekerasan baik fisik, psikologis, maupun seksual.
Pada ujian mempertahankan disertasinya, Amalia menjelaskan trauma yang timbul merupakan akumulasi tumpukan permasalahan yang tidak terselesaikan. Akibatnya masih terdapat kemungkinan menjadi faktor adanya trauma kompleks.
Ia menjelaskan, hubungan struktural antara penyintas trauma kompleks menyebabkan luka mendalam bagi penyintas dan berpengaruh terhadap pertumbuhan pascatrauma.
Kesadaran Memperbaiki Diri
Hasil penelitiannya menyebutkan, penyintas trauma kompleks justru memiliki kesadaran dan kecenderungan untuk memperbaiki. Penyintas trauma kompleks dalam keluarga berjuang untuk dirinya daripada bergantung pada orang lain.
Dengan begitu, dukungan sosial sangat berpengaruh dalam proses penyembuhan. Ia menyarankan upaya penyembuhan trust issue terlebih dahulu. Dengan kata lain bahwa penyintas memiliki kesempatan untuk tumbuh.
”Dari kondisi pertumbuhan pascatrauma pada penyintas trauma kompleks relasional merupakan sebuah proses dinamis, multidimensional, dan bersifat spiral progresif,” papar Amalia.
Pertumbuhan dan distress termasuk gangguan stress pascatrauma kompleks dapat berkoeksistensi. Pertumbuhan pascatrauma tidak muncul dari ketiadaan penderitaan, tetapi melalui refleksi mendalam, rekonstruksi makna diri dan relasi serta dukungan dari fleksibilitas mengatasi masalah.
”Sifatnya proaktif, bersyukur, dan harapan realistis,” tandasnya.

