catrawarta.com — Perkembangan kecerdasan buatan memunculkan kesenjangan persepsi antar generasi. Survei global menunjukkan bahwa generasi Z menjadi kelompok yang paling khawatir terhadap dampak AI terhadap pekerjaan dan masa depan, sementara Baby Boomer justru lebih optimistis menghadapi perubahan teknologi tersebut.
Perbedaan persepsi generasi terhadap teknologi baru bukanlah fenomena baru. Namun dalam konteks kecerdasan buatan, kesenjangan tersebut tampak semakin jelas.
Survei global terhadap lebih dari 27.000 pekerja di berbagai negara menunjukkan bahwa generasi Z memiliki tingkat kekhawatiran paling tinggi terhadap dampak AI terhadap pekerjaan, sementara Baby Boomer cenderung lebih percaya diri menghadapi perubahan tersebut.
Salah satu faktor yang menjelaskan fenomena ini adalah posisi generasi dalam siklus ekonomi dan karier.
Gen Z sebagian besar masih berada pada fase awal karier. Dalam kondisi tersebut, perubahan teknologi yang cepat dapat menciptakan ketidakpastian yang lebih besar dibandingkan generasi yang sudah mapan secara profesional.
Selain itu, banyak pekerjaan entry-level yang selama ini menjadi pintu masuk karier generasi muda justru menjadi jenis pekerjaan yang paling mudah diotomatisasi oleh AI.
Faktor psikologis juga berperan. Meski merupakan generasi digital native, Gen Z tidak selalu memiliki kontrol terhadap perkembangan teknologi yang mereka gunakan.
Survei terhadap generasi muda menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka menggunakan AI dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tetap merasa khawatir terhadap dampaknya terhadap kemampuan berpikir kritis dan masa depan pekerjaan.
Sementara itu, generasi yang lebih tua cenderung memandang AI sebagai alat bantu produktivitas, bukan sebagai ancaman langsung terhadap posisi kerja mereka.
Beberapa studi juga menunjukkan bahwa dampak AI terhadap kesejahteraan kerja memang berbeda antar generasi.
Penelitian tentang penggunaan AI di lingkungan kerja menemukan bahwa manfaat teknologi ini tidak dirasakan secara merata oleh semua kelompok usia. Dampaknya dipengaruhi oleh posisi pekerjaan, pengalaman profesional, serta kemampuan adaptasi terhadap teknologi baru.
Di sisi lain, sejumlah lembaga riset menilai bahwa kekhawatiran terhadap AI sering kali muncul bersamaan dengan kurangnya literasi teknologi.
Karena itu, banyak pakar menekankan pentingnya pendidikan AI dan literasi digital sejak dini agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami cara kerjanya.
Dalam perspektif yang lebih luas, kesenjangan persepsi terhadap AI menunjukkan bahwa transformasi teknologi bukan hanya persoalan inovasi, tetapi juga persoalan sosial.
Cara setiap generasi memahami teknologi akan menentukan bagaimana masyarakat beradaptasi terhadap perubahan besar yang sedang berlangsung.

Anies Baswedan: Banyak Pemimpin Gagal Mendengar Jeritan Rakyat 