catrawarta.com — Di halaman kampus yang dipenuhi mobil-mobil mewah, sebuah becak tua pernah berhenti pelan. Rodanya berdecit, kayuhannya pelan, seolah tak terbiasa berada di ruang yang terlalu rapi untuknya. Di atas becak itu duduk seorang wisudawati bertoga, tersenyum haru.
Foto itu beredar luas dan mengguncang perasaan publik.
Wisudawati itu adalah Raeni. Ayah yang mengayuh becak adalah Mugiyono, tukang becak dari Kendal, Jawa Tengah. Di tengah pesta kelulusan yang biasanya diwarnai jas rapi dan mobil mengilap, becak reyot itu menjadi kontras yang tak bisa diabaikan.
Banyak orang terharu. Tak sedikit pula yang sinis.
“Anak tukang becak mana mungkin bisa sukses?”
Raeni tak menjawab dengan pidato panjang. Ia menjawab dengan angka: IPK 3,96, dinobatkan sebagai wisudawan terbaik di Universitas Negeri Semarang. Tapi sebenarnya, angka itu bukan inti cerita. Angka hanya puncak gunung es dari perjuangan panjang yang tak seluruhnya tertangkap kamera.
Kisah Raeni sering diposisikan sebagai dongeng motivasi: kerja keras mengalahkan kemiskinan. Namun di balik narasi heroik itu, ada realitas sosial yang lebih dalam.
Ia tumbuh dalam keterbatasan ekonomi. Penghasilan ayahnya sebagai tukang becak tak selalu cukup. Listrik dihemat, kebutuhan ditimbang dengan cermat. Dalam banyak keluarga kelas pekerja, pendidikan bukan sekadar proses belajar, melainkan taruhan masa depan.
Di Indonesia, frasa “mengangkat derajat orang tua” bukan kalimat klise. Ia adalah etos. Ia lahir dari kesadaran bahwa mobilitas sosial sering kali hanya punya satu jalur paling mungkin: pendidikan. Ketika akses modal ekonomi terbatas, modal akademik menjadi harapan.
Raeni memahami itu sejak awal. Ia tahu ayahnya mungkin tak paham teori pendidikan atau istilah akademik. Tapi ia paham arti pengorbanan. Setiap kayuhan becak bukan hanya upaya mencari nafkah, tetapi simbol investasi jangka panjang pada mimpi anaknya.
Dalam konteks sosiologis, kisah seperti ini menunjukkan bagaimana keluarga kelas bawah menaruh harapan besar pada sekolah sebagai tangga mobilitas. Pendidikan dipandang sebagai alat untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Dan ketika berhasil, keberhasilan itu tidak dianggap sebagai individu semata, melainkan kolektif—milik keluarga.
Momentum wisuda itu bukan garis akhir. Ia justru awal babak yang lebih luas.
Raeni memperoleh beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan melanjutkan studi magister di University of Birmingham, Inggris. Dari jalanan Kendal, ia menembus ruang akademik internasional. Dari kayuhan becak, ia melangkah ke lorong-lorong kampus dunia.
Ia kemudian menyelesaikan studi doktoralnya di universitas yang sama. Gelar “Dr.” kini melekat di depan namanya: Dr. Raeni.
Perjalanan ini memperlihatkan dua hal sekaligus. Pertama, betapa kuatnya daya dorong pendidikan ketika kesempatan terbuka. Kedua, betapa pentingnya kebijakan publik—seperti beasiswa negara—dalam memperluas akses anak-anak dari latar belakang ekonomi terbatas.
Namun, penting juga untuk tidak meromantisasi kemiskinan. Tidak semua anak tukang becak otomatis menjadi dokter hanya karena bekerja keras. Struktur sosial, kualitas sekolah, akses informasi, dan keberuntungan tetap memainkan peran besar. Kisah Raeni adalah kemungkinan, bukan jaminan universal.
Foto becak di halaman kampus itu kini menjadi simbol. Ia membungkam stereotip tentang kelas sosial. Ia mengingatkan bahwa kecerdasan tidak mengenal garis ekonomi. Tapi lebih dari itu, ia memperlihatkan wajah relasi orang tua dan anak yang khas dalam budaya kita.
Di banyak keluarga Indonesia, anak sering memikul beban moral untuk “membalas” pengorbanan orang tua. Beban itu bisa menjadi tekanan, tetapi juga bisa menjadi energi. Dalam kasus Raeni, ia menjadi bahan bakar ketekunan.
Kita mungkin sering melihat gelar akademik sebagai prestasi personal. Tetapi dalam cerita ini, doktor bukan sekadar titel. Ia adalah bentuk bakti. Ia adalah cara seorang anak menjawab doa panjang ayahnya—tanpa perlu banyak kata.
Dari becak reyot di Kendal, menuju ruang kelas di Inggris, hingga kembali menjadi akademisi di tanah air, perjalanan Raeni mengajarkan bahwa mobilitas sosial di Indonesia masih mungkin terjadi—meski tidak mudah.
Dan mungkin, di sudut kota lain hari ini, ada seorang anak yang belajar di bawah lampu redup. Ia belum dikenal, belum viral, belum difoto siapa pun. Tapi di balik buku-bukunya, ada mimpi yang sama: membuat orang tua tersenyum bangga.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal gelar. Ia adalah jalan sunyi yang ditempuh banyak anak untuk mengatakan satu hal sederhana kepada orang tuanya: perjuanganmu tidak sia-sia.

Mengapa Masih Bertahan Jadi Seniman (Pelukis)? 