catrawarta.com — Tidak semua pusat peradaban ditandai oleh bangunan megah atau kekuasaan yang mencolok. Sebagian justru tumbuh dari tempat tempat yang perlahan membentuk etika hidup bersama. Di Kotagede, salah satu tempat itu adalah Sendang Kemuning, mata air tua yang tidak hanya menyediakan air, tetapi juga menanamkan cara berpikir tentang kesucian, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial.
Di tempat inilah air dimaknai bukan sebagai komoditas melainkan sebagai titipan bersama. Sebelum Mataram Islam menjelma sebagai kekuatan politik, Sendang Kemuning telah lebih dahulu berfungsi sebagai ruang sosial, tempat warga membersihkan diri, menata batin, dan belajar hidup berdampingan. Sejarah besar Mataram, dengan demikian, berakar pada praktik keseharian yang tampak sederhana, namun sarat makna kultural.
Tidak mengherankan bila Sendang Kemuning kemudian menempati posisi penting dalam lanskap sosial Kotagede. Letaknya yang berdekatan dengan Masjid Besar Mataram, Sendang Seliran, dan kompleks makam raja-raja menunjukkan bahwa sejak awal ruang hidup masyarakat disusun dengan logika keterhubungan. Ibadah, kekuasaan, dan kebutuhan sehari-hari diletakkan dalam satu kesatuan ruang yang saling menopang.
Dalam kerangka sosiologi kebudayaan, Dr. Arie Sujito melihat ruang-ruang semacam ini sebagai medium pembentukan etika publik. Sendang bukan hanya tempat orang mengambil air, tetapi arena tempat nilai dipelajari secara diam-diam. Di sana orang belajar menunggu giliran, berbagi sumber daya, menjaga kebersihan, dan menghormati sesama. Praktik-praktik kecil itu, yang berlangsung berulang dan lintas generasi, justru menjadi fondasi paling kokoh bagi terbentuknya tatanan sosial.
Tradisi lisan yang mengaitkan Sendang Kemuning dengan Sunan Kalijaga memperkuat dimensi tersebut. Kisah tongkat yang ditancapkan hingga memancarkan air tidak harus dibaca secara harfiah. Ia adalah metafora tentang hadirnya otoritas moral sebelum kekuasaan politik ditegakkan. Dalam tradisi Jawa, seorang wali tidak sekadar menyebarkan ajaran agama, tetapi menata cara hidup. Air menjadi simbol awal dari penataan itu—penanda bahwa ruang ini siap dihuni secara beradab.
Ketika sendang kemudian dibagi untuk laki-laki dan perempuan, perubahan itu mencerminkan dinamika nilai, bukan pengingkaran tradisi. Bagi Arie Sujito, adaptasi semacam ini menunjukkan bagaimana masyarakat lokal mampu merespons ajaran Islam secara kreatif, tanpa memutus akar budayanya. Nilai kesopanan dan penghormatan terhadap tubuh diintegrasikan ke dalam ruang bersama, bukan dipaksakan dari luar.
Sendang Kemuning juga memperlihatkan bagaimana spiritualitas bekerja dalam bentuk yang membumi. Bersuci tidak berhenti sebagai ritual prasyarat ibadah, tetapi menjadi laku harian yang membentuk disiplin diri. Air tidak hanya membersihkan tubuh, tetapi juga menjadi medium refleksi batin. Di sinilah konsep Jawa resik lahir lan batin menemukan konteks sosialnya, bahwa kebersihan personal dipahami sebagai prasyarat keteraturan bersama.
Dalam konteks modern, keberadaan Sendang Kemuning menghadirkan kritik kultural yang halus namun tajam. Ketika air direduksi menjadi komoditas ekonomi dan dikelola secara eksploitatif, sendang justru mengajarkan logika sebaliknya. Air adalah milik bersama yang harus dijaga melalui kesadaran kolektif. Etika ekologis tidak diajarkan melalui slogan, tetapi ditanamkan lewat praktik turun-temurun.
Arie Sujito menempatkan situs-situs semacam ini sebagai penyangga ingatan sosial. Ia hidup bukan karena dilestarikan secara formal, tetapi karena terus digunakan dan dimaknai. Ketika sendang berhenti dipakai, ia kehilangan ruhnya. Sebaliknya, selama masyarakat masih datang untuk bersuci, mengambil air, dan menjaga kebersihannya, Sendang Kemuning tetap menjadi bagian dari denyut kehidupan Kotagede.
Pada titik ini, Sendang Kemuning dapat dibaca sebagai arsip sosial yang terbuka. Ia merekam bagaimana sebuah peradaban besar lahir dari pengelolaan hal-hal kecil: air, ruang, dan etika perjumpaan. Mataram Islam, dengan segala kebesarannya, bertumpu pada praktik-praktik keseharian yang tampak sepele, namun sarat nilai.
Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, Sendang Kemuning mengingatkan bahwa peradaban tidak dibangun semata oleh kekuasaan dan simbol formal. Melainkan oleh kesediaan manusia untuk hidup selaras—dengan sesama, dengan alam, dan dengan Yang Transenden. Sebuah pelajaran hening, namun terus mengalir, sebagaimana air yang sejak berabad-abad lalu tak pernah berhenti memancar dari tanah Kotagede.


Ketakutan dan Luka di Sekolah SD Jember 