Warta

Indonesia Peringkat Dua TBC Tertinggi, Seluruh Daerah Harus Percepat Eliminasi

catrawarta.com — Berdasarkan data Global Tuberculosis Report 2024, Indonesia menempati posisi kedua dengan kasus tuberkolusis (TBC) tertinggi di dunia. Selain itu, penemuan...

TBC: Penanganan TBC perlu melibatkan semua pihak termasuk masyarakat.(Sumber: Freepik)

catrawarta.comBerdasarkan data Global Tuberculosis Report 2024, Indonesia menempati posisi kedua dengan kasus tuberkolusis (TBC) tertinggi di dunia. Selain itu, penemuan kasus TBC di Indonesia juga baru mencapai 62 persen. Kondisi ini membutuhkan penanganan optimal dan kolaborasi lintas sektor, termasuk dari pemerintah daerah.

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus mengungkapkan kondisi itu pada Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah Penguatan Komitmen dan Aksi Nyata Percepatan Eliminasi TBC Berkelanjutan di Seluruh Indonesia secara hybrid dari Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta.

Ia minta kepala daerah untuk memimpin langsung percepatan eliminasi tuberkulosis (TBC). Upaya tersebut penting mengingat pemerintah berkomitmen mengeliminasi TBC pada 2030. Selain itu, juga menjadi bagian dari program hasil terbaik cepat atau quick win Presiden RI.

”Penanggulangan TBC tidak dapat dilakukan secara sektoral, yaitu sektor kesehatan saja atau dinas kesehatan saja,” ujar Wiyagus.

Peran Penting Pemerintah Daerah

Wiyagus menekankan, pemda memiliki peran krusial dalam penanganan TBC. Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis, daerah perlu menangani TBC.

Salah satunya dengan mencantumkan indikator TBC dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Strategis (Renstra) perangkat daerah. Daerah juga perlu mengoordinasikan pelaksanaan kegiatan penanggulangan TBC di wilayahnya.

”Kepala daerah harus memperkuat keberadaan Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TP2TB) agar aktif, fungsional, dan dievaluasi secara berkala. Capaian penanganan TBC juga harus menjadi indikator kinerja kepala daerah, bukan hanya sektor kesehatan,” tegasnya.

Ia menambahkan peran camat untuk menuntaskan persoalan TBC. Dalam konteks itu, camat berperan sebagai koordinator wilayah yang menggerakkan pemerintah desa dan kelurahan, kader TP PKK dan Posyandu, serta RT/RW. Koordinasi tersebut mampu mengoptimalkan upaya deteksi dini TBC di tingkat masyarakat.

Wiyagus berharap, pemda dapat melaksanakan gerakan Temukan, Obati, Sampai Sembuh (TOSS) pada wilayah masing-masing. Dengan demikian, percepatan eliminasi TBC dapat direalisasikan secara terukur dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *