catrawarta.com — Sosok pelukis Saptohoedojo selalu mengawali proses penciptaan karya seni dengan mengadakan riset mendalam. Pemikiran dan karyanya terbukti melintasi zaman.
Demikian benang merah Sarasehan Pemikiran dan Karya Saptohoedojo memperingati 101 tahun kelahirannya. Sarasehan digelar dalam rangkaian Pekan Kebudayaan Saptohoedojo #1 pada Sabtu (7/2/2026) siang di Galeri Saptohoedojo. Bertindak sebagai moderator seniman Iwan Wijono.
Dalam paparannya Prof Narsen Afatara MS menyampaikan, penciptaan karya seni Saptohoedojo ada riset bentuk. “Om Sapto amat menyanyangi tradisi dan menjadilannua media karya. Meski banyak belajar dari berbagai aliran seni dunia, tetapi warna tradisi dan lokalitas karyanya sangat dominan”, tandasnya.
Fokus perhatian beliau, lanjutnya, ada pada kerajinan yang bisa go internasional. “Satu hal yang bisa dipetik dari beliau adalah, yang disentuh dengan rasa cenderung sulit untuk diregenerasikan. Pikiran dan perasaan itu sesuatu yang autentik. Karyanya kuat resonansi.
Dan talenta itu tidak bisa direproduksi, tidak mungkin bisa ditiru. Sebagai value dia bertahan”, jelasnya.
Sedangkan Dr Hajar Pamadhi MA (Hons), melihat karya Saptohoedojo dalam dua perspektif, yaitu semiotika dan hermeunitika.
“Karya beliau bisa dilihat dengan pendekatan semiotika dan hermeunitika. Saptohoedojo menggunakan tanda-tanda, menggabungkan sisi tradisi yang ditata dan dikolase dengan konsep sehingga menjadi karya utuh. Om Sapto mengngkat hal yang berbau tradisi ke medium baru, yang amat futuristik seperti halnya ide beliau tentang makam seniman”, urainya.
Sebelumnya, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo, Wahjudi Djaja, menyampaikan sarasehan ini adalah langkah awal untuk melacak dan menginventarisasi pemikiran dan karya beliau.
“Kami berharap, kita bisa mendokentasi segala pemikiran dan karya beliau agar bisa dijadikan referensi dan bahan pembelajaran generasi penerus kesenimanan. Masih terlalu sedikit yang kami ketahui tentang sosok bangsawan-seniman ini. Tugas kami adalah mengangkat dan terus menjadikannya teladan kehidupan”, jelasnya.
Pekan Kebudayaan Saptohoedojo akan digelar secara rutin setiap bulan Februari. RM Saptohoedojo, bangsawan-seniman Surakarta lahir pada 6 Februari 1925 meninggalkan jejak pemikiran dan karya yang bertebaran di dunia. Kompleks makam seniman di Girisapto adalah salah satu karyanya yang monumental selain desa kerajinan Kasongan Bantul.

GAN & Jatubu Tanam Kopi di Kupangan 