Warta

Bunuh Diri Anak, Negara Gagal Menyediakan Layanan Dasar

catrawarta.com — DISCLAIMER: Berita ini berisikan kasus bunuh diri, tidak untuk menjadi contoh. Bagi pembaca yang merasa tidak nyaman, bisa segera menutup...

Ilustrasi duka cita kasus bunuh diri anak.(Foto: istimewa)

catrawarta.comDISCLAIMER: Berita ini berisikan kasus bunuh diri, tidak untuk menjadi contoh. Bagi pembaca yang merasa tidak nyaman, bisa segera menutup atau mengalihkan bacaan. Bunuh diri dapat dicegah, ajak bicara ketika ada seseorang sedang berada dalam tekanan jiwa. Siswa SD mengakhiri hidup setelah menulis surat kepada ibunya. Ia hanya menginginkan alat tulis untuk keperluan sekolah. Kondisi tersebut membuat seluruh rakyat Indonesia prihatin.

Banyak pihak mengkritik keberadaan negara. Ketidakmampuan membayar uang sekolah dan membeli perlengkapan sekolah, menjadi sorotan serius. Bukan kali ini saja kasus bunuh diri anak terjadi.

”Peristiwa tersebut tidak dapat dilihat sebagai persoalan individu melainkan sebagai tanda kegagalan struktural negara dalam melindungi anak-anak,” tandas Sosiolog UGM Andreas Budi Widyanta MA.

Persoalan Sosial Kompleks

Menurut AB, panggilang akrabnya, fenomena bunuh diri pada anak dan remaja menunjukkan adanya persoalan sosial yang kompleks dan berakar pada ketimpangan struktural.

Ia menegaskan, kasus tersebut merupakan puncak akumulasi tekanan sosial akibat kegagalan negara dalam menyediakan layanan dasar yang merata.

Fenomena tersebut harus dilihat sebagai problem sosial yang bersifat struktural. Ketimpangan ekonomi yang semakin lebar menyebabkan sebagian masyarakat hidup dalam kondisi ekstrem, bahkan tidak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan paling mendasar.

”Kekerasan struktural negara tampak dalam praktik pembangunan yang dinilai lebih menguntungkan kelompok elite, sementara masyarakat miskin mengalami keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Ini menciptakan keputusasaan yang meresap ke dalam dunia batin anak,” papar AB.

Ekspresi Kebuntuan dan Harapan

Ia menjelaskan, keputusan bunuh diri pada anak merupakan bentuk ekspresi kebuntuan akibat hilangnya harapan masa depan. Anak-anak belum memiliki kemandirian penuh untuk mengambil keputusan eksistensial, sehingga tindakan tersebut mencerminkan tekanan sosial yang berat.

”Pilihan bunuh diri menjadi bahasa kegelapan ketika anak tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaan, kecemasan, dan harapannya. Ini menunjukkan hilangnya ekspektasi terhadap masa depan,” tandas AB.

Peran keluarga, sekolah, dan masyarakat menurut AB sebagai bagian dari tiga pusat pendidikan yang belum menyediakan ruang dialogis bagi anak. Relasi kekuasaan yang cenderung otoriter membuat anak tidak memiliki ruang aman untuk menyampaikan perasaan dan pemikirannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *