Catra Budaya

Validasi Berkedok “Nrimo”, Romantisasi Pasrah, dan Victim Blamming Khas Segmen Jawa

catrawarta.com — Budaya Jawa punya satu kebiasaan lama yang entah kenapa makin laku dijual hari ini – pasrah. Bukan pasrah sebagai kebijaksanaan...

#image_title

catrawarta.comBudaya Jawa punya satu kebiasaan lama yang entah kenapa makin laku dijual hari ini – pasrah. Bukan pasrah sebagai kebijaksanaan batin, tapi pasrah versi pop—yang diratapi, dipamerkan, lalu dijadikan bukti bahwa seseorang paling tersakiti di dunia.

Lagu-lagu pop Jawa memainkan peran besar dalam proyek ini. Liriknya akrab: “aku mung iso nrimo,” “wis sadar diri,” “mbok sio-sio perjuanganku,” “kalah karo bondo,” “mung wong sepele.” Semua dibungkus nada sendu, seolah penderitaan itu tanda keluhuran moral.

Masalahnya, pasrah di sini bukan kedewasaan—tapi gaya hidup yang norak.

Narasi semacam “mbok sio-sio ke perjuanganku selama iki” terdengar tragis, padahal sering kali faktanya sederhana, orang yang dimaksud tidak pernah meminta diperjuangkan, tidak pernah memberi harapan, bahkan sejak awal tidak tertarik. Tapi dalam lagu, ia diposisikan sebagai penjahat emosional. Yang ditinggalkan jadi korban suci. Yang pergi jadi biang keladi.

Di titik ini, pasrah berubah fungsi: bukan menerima kenyataan, tapi menggeser tanggung jawab emosional.

Lagu-lagu ini rajin membangun logika berbahaya:
Kalau kamu tidak membalas perasaan, berarti kamu kejam.
Kalau kamu memilih pergi, berarti kamu mengabaikan perjuangan orang lain.
Padahal, ketertarikan bukan utang. Perasaan bukan kontrak. Dan perhatian tidak lahir dari pengorbanan sepihak.

Ironisnya, pasrah versi pop Jawa justru haus atensi. Semakin lirih nadanya, semakin besar tuntutan simpati. Semakin sering mengaku nrimo, semakin keras ingin divalidasi. Ini pasrah yang terus diulang di status, story, dan lirik—karena yang dicari bukan ketenangan, tapi pengakuan: “lihat, aku sudah berjuang.”

Di sini kita melihat wajah lain dari pasrah: victim blaming yang dibalik arah. Bukan menyalahkan korban, tapi menyalahkan orang lain karena tidak mau menjadi objek perjuangan. Seolah cinta wajib dibalas hanya karena ada air mata dan lagu galau sebagai buktinya.

Lebih parah lagi, narasi ini dilanggengkan sebagai kearifan lokal. Siapa pun yang mengkritik akan dianggap tidak njawani, tidak empatik, tidak punya rasa. Padahal yang sedang dikritik bukan perasaan sedihnya—melainkan cara memproduksi kesedihan sebagai alat moral.

Pasrah yang matang itu sunyi.
Tidak ribut. Tidak menuntut. Tidak memaksa orang lain merasa bersalah.

Kalau pasrahmu masih perlu penonton, mungkin itu bukan nrimo.
Mungkin itu drama yang kebetulan pakai bahasa Jawa.

Dan barangkali, yang perlu disadari bukan posisi sebagai korban — tapi fakta sederhana yang sering ditolak lirik-lirik itu:
tidak semua yang tidak memilih kita sedang menyakiti kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *