catrawarta.com — Bendung Ancol di Kalibawang, Kulon Progo, tampak seperti infrastruktur irigasi pada umumnya. Namun di balik beton, pintu air, dan deras sungai Progo, bendung ini menyimpan kisah kemanusiaan yang menentukan nasib ribuan warga Yogyakarta pada masa pendudukan Jepang.
Pembangunan Bendung Ancol dimulai pada 1942 dan berlanjut hingga 1951. Inisiatifnya datang dari Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX sebagai siasat politik kemanusiaan. Pada masa itu, Jepang membutuhkan tenaga kerja besar-besaran melalui sistem romusha. Ribuan orang dari Jawa dikirim ke luar pulau, banyak yang tak pernah kembali. Sultan HB IX paham jika rakyat Yogyakarta dibiarkan, mereka akan bernasib sama.
Maka dipilihlah cara yang strategis. Sultan mengajukan proyek pembangunan bendungan dan saluran irigasi kepada pemerintahan Jepang. Logikanya sederhana, Jepang membutuhkan peningkatan produksi pangan untuk perang. Irigasi adalah jawabannya. Dengan begitu, warga Yogyakarta “dipekerjakan” membangun kanal dan bendung di wilayahnya sendiri, bukan dikirim sebagai romusha ke tempat jauh.
Bendung Ancol dirancang sebagai hulu dari dua saluran irigasi vital yaitu Selokan Mataram—yang pada masa Jepang dikenal sebagai Kanal Yoshiro—dan Selokan Van der Wijck. Dari bendung inilah air Sungai Progo dialirkan, lalu disalurkan melintasi Yogyakarta hingga wilayah timur, bahkan menjangkau kawasan Selondasan. Kanal ini menghubungkan Sungai Progo di barat dengan Sungai Opak di timur, membentuk sistem irigasi yang menyokong ribuan hektare sawah.
Pembangunan berlangsung dalam situasi sulit. Masa pendudukan Jepang (1942–1945) penuh tekanan dan keterbatasan. Namun melalui negosiasi yang cermat, Sultan HB IX berhasil menjaga agar proyek ini tetap berada dalam kendali lokal. Rakyat memang bekerja keras, tetapi mereka bekerja di tanahnya sendiri, dekat keluarga. Peruntukan bendung jelas, air untuk sawah, bukan maut di negeri seberang.
Manfaat Bendung Ancol segera terasa. Sawah-sawah yang sebelumnya bergantung pada hujan mulai mendapatkan suplai air yang lebih pasti. Produktivitas meningkat. Yang lebih penting, ribuan orang terselamatkan dari romusha. Di titik inilah bendung ini bukan sekadar bangunan air, melainkan penanda perlawanan tanpa senjata, perlawanan melalui kecerdikan, keberpihakan, dan keberanian moral.
Pasca kemerdekaan pembangunan dilanjutkan hingga rampung pada 1951. Bendung Ancol kemudian menjadi bagian penting dari sistem irigasi teknis Daerah Istimewa Yogyakarta. Selokan Mataram dan Selokan Van der Wijck terus berfungsi, mengairi lahan pertanian dan menopang ketahanan pangan wilayah.
Kini, kawasan Bendung Ancol di Bligo, Banjaroyo, Kalibawang, berkembang sebagai destinasi wisata sejarah dan rekreasi keluarga. Pengunjung datang menikmati pemandangan sungai, udara sejuk, dan lanskap hijau. Tak semua menyadari bahwa tempat ini adalah saksi bisu dari keputusan besar yang menyelamatkan manusia.
Bendung Ancol mengajarkan bahwa pembangunan bisa menjadi alat pembebasan jika berpihak pada rakyat. Di sini, air tidak hanya mengalirkan kehidupan bagi sawah, tetapi juga menyimpan ingatan tentang kepemimpinan yang memilih melindungi manusia. Langkah efektif, sebuah warisan kemanusiaan yang terus bekerja hingga hari ini.


Puluhan Dosen Hildiktipari V DIY-Jateng Ikuti Pelatihan dan Sertifikasi BNSP 