Catra Wisata

Bakpia Tradisional dalam Tekanan Tren, Kisah Bakpia 25 Beradaptasi

catrawarta.com — YOGYAKARTA, 29 Januari — Bakpia selama ini lekat sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta. Namun di balik statusnya sebagai buah tangan wajib, sejarah...

Bakpia pathok 25
Bakpia Pathok 25.

catrawarta.comYOGYAKARTA, 29 Januari — Bakpia selama ini lekat sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta. Namun di balik statusnya sebagai buah tangan wajib, sejarah kudapan ini justru tidak berakar dari Jawa. Fakta tersebut kerap terabaikan di tengah maraknya inovasi bakpia dengan beragam rasa dan kemasan.

“Sejarah bakpia itu dari Cina. Di Yogyakarta kemudian berkembang, dengan inovasi rasa dan bahan hingga menjadi bakpia seperti yang dikenal sekarang,” ujar Eri Fenti, Kepala Toko Cabang Bandara Bakpia 25, saat ditemui di gerai Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), Rabu (29/1).

Menurut Eri, perkembangan bakpia hari ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan selera konsumen. Di satu sisi, rasa klasik tetap dipertahankan, namun di sisi lain inovasi menjadi kebutuhan agar bakpia tidak ditinggalkan generasi muda. Hal itu terlihat dari lini produk Bakpia 25 yang kini menghadirkan beragam varian, mulai dari kumbu hitam hingga cappuccino, green tea, nanas, dan telo ungu.

Dalam beberapa waktu terakhir, perhatian konsumen justru banyak tertuju pada bakpia premium. Produk ini dirancang dengan ukuran lebih besar dan tekstur lebih lembut dibanding bakpia konvensional. Bahan yang digunakan pun berbeda, mendekati karakter roti, meski proses pembuatannya tetap mengikuti pakem bakpia pada umumnya.

“Yang premium itu lebih lembut. Coklat dan kejunya lumer,” kata Alya (23), wisatawan asal Jakarta yang membeli bakpia di gerai bandara sebelum kembali ke kota asal. Ia mengaku mengenal varian bakpia premium dari media sosial yang tengah ramai dibicarakan anak muda.

Meski inovasi terus dilakukan, tantangan utama industri bakpia masih berkutat pada persoalan ketahanan produk. Bakpia dikenal sebagai makanan yang tidak awet. Dalam kondisi normal, daya tahannya hanya sekitar empat hari, sementara konsumen hampir selalu menginginkan bakpia yang benar-benar segar.

“Quality control harus dicek langsung oleh tim produksi. Itu tidak bisa ditinggal,” kata Eri. Ia menjelaskan, beberapa varian seperti bakpia kering, keju, coklat, dan nanas dapat bertahan hingga satu minggu. Sementara bakpia premium umumnya bertahan empat hingga lima hari, dengan varian lumer bisa mencapai tujuh hari.

Untuk menjaga kualitas, Bakpia 25 memusatkan proses produksi di dua pabrik utama yang berada di kawasan bandara dan Jalan Wonosari. Di sisi lain, sejumlah cabang di dalam kota masih mempertahankan metode produksi tradisional dengan menggunakan arang. Cara ini dinilai memberi karakter rasa tersendiri yang sulit ditiru oleh produksi modern sepenuhnya.

Skala usaha Bakpia 25 juga berdampak langsung pada ekonomi lokal. Sekitar 300 karyawan bekerja secara bergiliran di berbagai unit produksi dan toko. Seluruh tenaga kerja berasal dari wilayah sekitar Yogyakarta, seperti Bantul, Kulon Progo, dan Sleman, tanpa persyaratan tingkat pendidikan tertentu. Selain upah, perusahaan juga memberikan fasilitas kesehatan bagi karyawannya.

“Kebanyakan orang di sini warga lokal. Yang penting mau kerja dan mau belajar,” ujar salah satu staf produksi.

Di luar aktivitas bisnis, Bakpia 25 juga terlibat dalam kegiatan sosial dan budaya. Pada momen tertentu, seperti perayaan Imlek, mereka pernah menggelar pertunjukan barongsai di pusat kota. Kegiatan tersebut dimaknai sebagai bagian dari upaya menjaga hubungan dengan ruang sosial tempat usaha ini berkembang.

Tantangan lain datang dari faktor eksternal, terutama kemacetan di kawasan Jalan Solo yang kerap memengaruhi akses konsumen. Menyikapi kondisi tersebut, manajemen memilih beradaptasi dengan memperkuat distribusi di cabang terdekat, berkoordinasi dengan kepolisian dan dinas perhubungan, serta mengoptimalkan penjualan melalui kanal digital.

“Sekarang beli bakpia bisa online dulu, tinggal ambil. Lebih praktis kalau jalanan macet,” kata Rudi (35), pengunjung asal Sleman.

Dengan total delapan toko—empat di antaranya berada di pusat kota—Bakpia 25 menyadari persaingan industri bakpia di Yogyakarta semakin ketat. Produk sejenis terus bermunculan dengan konsep dan inovasi masing-masing.

“Kami tetap optimis,” kata Eri. “Harapannya Bakpia 25 tetap jaya, meskipun bakpia lain terus bermunculan. Produksi harus dijaga, rasa harus konsisten, dan inovasi tetap berjalan.”

Di tengah perubahan selera, tekanan persaingan, dan tuntutan konsumen akan produk yang selalu segar, bakpia masih berupaya menemukan keseimbangannya. Antara menjaga tradisi dan membaca arah zaman—sebuah negosiasi rasa yang terus berlangsung di kota wisata ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *