Catra Budaya

Dwiki Dharmawan Masih ‘Bernyawa’, Suguhkan Jazz Kental Dialog Budaya

catrawarta.com — Musisi andal Dwiki Dharmawan ternyata masih memiliki ‘nyawa’ di panggung jazz. Dalam album terbaru bertitel ‘Anagnorisis‘, pentolan grup Krakatau ini,...

Dwiki Dharmawan dalam sebuah pentas panggung jazz

catrawarta.comMusisi andal Dwiki Dharmawan ternyata masih memiliki ‘nyawa’ di panggung jazz. Dalam album terbaru bertitel ‘Anagnorisis‘, pentolan grup Krakatau ini, seperti tak berubah. Penampilannya masih runtut dan kental dengan nuansa yang sarat dialog budaya.

Pada album Anagnorisis, Dwiki memadukan instrumen musik khas Yunani dengan akar musik Nusantara serta menampilkan kolaborasi dengan musisi internasional seperti Gilad Atzmon.

Album ini bergenre world music yang menggabungkan unsur jazz, progresif dan etnik Nusantara serta direkam di Athena Yunani. Untuk lebih mendekatkan karyanya dengan masyarakat, Dwiki Dharmawan melakukan pentas keliling di empat kota di Indonesia. Diawali Jakarta 21 Januari 2026, Bandung 22 Januari 2026, Yogyakarta 23 Januari 2026 dan terakhir Bali.

“Saya senang rangkaian konser album terbaru Anagnorisis putaran ketiga di Yogyakarta mendapat apresiasi dan disaksikan sejumlah musisi dan pecinta musik jazz kota budaya Yogya, Semarang dan Surakarta,” katanya.

Malam itu memang terlihat pemusik jazz Singgih Sanjaya. Terhadap nama ini, Dwiki tak segan-segan menyebut sebagai guru. Hadir pula penyanyi Surakarta Sruti Respati, Endah Laras dan teman-teman musikus lainnya. Dwiki berterima kasih, karena mendapat sambutan luar biasa. Pentas Dwiki Dharmawan, berlangsung di Auditorium Institut Francais Indonesie (IFI) Jalan Sagan 3 Yogyakarta.

Sebelum konser ‘Anagnorisis’ dimulai, penonton mendapat suguhan musik pembuka bersama dua kelompok musik jazz, yakni ‘Syifa and Friend’ dan grup musik jazz yang dimainkan mahasiswa ISI Yogyakarta.

Penampilan Dwiki bersama Gilad Atzmon berkolaborasi dengan empat musisi terbaik Indonesia, yakni Rudy Zulkarnaen (bas), Cucu Kurnia (kendang Sunda), Agam Hamzah (gitar), Kelvin Andreas (drum) dan Sa’at Syach (suling).

Kolaborasi ini mempertemukan jazz modern, improvisasi dan warna musik tradisi dalam satu panggung yang harmoni secara utuh. Membawakan 7 komposisi dari album Anagnorisis dan 5 komposisi pilihan dari karya-karya orisinal Dwiki.

Sejumlah komposisi karya Dwiki Dharmawan yang dibawakan antara lain berjudul ‘Frog Dance’, tembang Jawa ‘Gambang Suling’ ciptaan Ki Narto Sabto, lagu Sunda ‘Bubuy Bulan’ ciptaan Benny Kurda, lagu daerah Kalimantan ‘Borneo’ dan lainnya. Konser ditutup dua lagu ‘Gaza Mon Amor’ dan ‘The Spirit of Peace’ yang menyuarakan semangat perdamaian.

Di lagu penutup secara spontan ikut tampil ngejamz penyanyi Sandhy Sandoro dan Endah Laras.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *