Catra Budaya, Warta

Badai Angin Kencang, Begini Respon Leluhur Saat Alam Menabuh Genderang

catrawarta.com — Pagi jelang siang bergerak dari Sleman ke Bantul. Kadisbud Sleman ngunduh mantu di kawasan Pleret. Sampai Lingkar Selatan dekat Roose...

Pengendara tersendat angin kencang dan pohon tumbang di Jalan Lingkar Selatan

catrawarta.comPagi jelang siang bergerak dari Sleman ke Bantul. Kadisbud Sleman ngunduh mantu di kawasan Pleret. Sampai Lingkar Selatan dekat Roose In sebuah pohon tumbang melintang. Alam kirim tanda apa?

Sejak pagi angin berembus tak seperti biasanya. Selain kecepatan di atas rata-rata harian, udara basah masih sangat terasa. Wahyu, seorang karyawan POM di tepi Jl Magelang bilangan Beran, merasakan hal yang sama. “Tambah ngeri angine. Semoga mandali semuanya, Aamiin”, tulisnya di akun medsosnya. Beberapa anggota gabungan kelompok tani (Gapoktan) di Mlati yang menanam cabe merasakan dampaknya. 

Apa yang sedang terjadi? Hingga 25 Januari 2026, BMKG Yogyakarta memperingatkan potensinya terjadinya cuaca esktrim. Bibit siklon terpantau di barat Australia dan masuk Samudra Indonesia. Para pengendara dan wisatawan bijak jika mengendalikan laju kendaraan dan tetap waspada di jalan.

Sama-sama berasal dari energi angin, bagi para pegiat wisata dan ekonomi kreatif bisa meresponnya. Di Seyegan Sleman beberapa waktu lalu anak-anak muda merespon angin dengan menggelar Festival Layangan. Di Pantai Klayar Pacitan dikenal Seruling Samudera. Angin yang kencang dan ombak laut berembus keras menerobos lubang-lubang bebatuan karang melahirkan denting suara seperti seruling. 

Respon terhadap fenomena alam dilakukan para leluhur Nusantara. Di Suku Sawang (Belitung) ada tradisi Muang Jong atau Buang Jung, semacam melarung replika kapal berisi aneka sesaji sebagai sarana tolak balak atau persembahan. Dipimpin tetua adat, mereka mendahuluinya dengan prosesi menombak duyung sebagai simbol keberuntungan. Mereka percaya Dewi Laut akan melindungi masyarakat Suku Sawang.

Beda lagi dengan masyarakat Sulawesi, mereka menggelar Ritual Andingingi untuk mendinginkan alam dan mengendalikan angin. Pada masyarakat adat Ammatoa Kajang, penghormatan pada alam (hutan, angin, air) sangat dijaga secara turun-temurun melalui tradisi yang mengakar. Demikian halnya pada masyarakat Sulawesi Tenggara, mereka mengenal Ritual Kasohaka. Serupa mitigasi bencana, mereka menggelar ritual untuk menangkal cuaca ekstrim termasuk angin kencang.

Masih banyak suku bangsa yang secara cerdas merespon alam saat menabuh genderang. Alam bukan untuk dilawan. Masyarakat Sunda di Jawa Barat mengenal papat kalima pancer, bahwa bersenyawa dengan bumi, air, cahaya natahari dan angin adalah keniscayaan peradaban. Selama manusia menghargai dan menjaga alam, alam pun akan tahu bagaimana menyelamatkan kehidupan manusia.

Masih mau mendaku diri sebagai manusia modern yang memperbudak alam menuhankan hitung-hitungan matematis ekonomis? Lihatlah kenapa bumi kian meranggas, badai iklim mengancam dan manusia ketakutan saat alam menabuh genderang. Mari belajar pada local wisdom para leluhur kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *