Catra Milenia

Film Dokumenter ‘Fragile’ Persahabatan yang Masih Datar

catrawarta.com — Membuat film bukan hanya membutuhkan persiapan matang, namun juga konsep yang jelas dan terarah. Film dokumenter berjudul ‘Fragile’ misalnya, dirasakan...

Salah satu adegan dalam setingan film tersebut

catrawarta.comMembuat film bukan hanya membutuhkan persiapan matang, namun juga konsep yang jelas dan terarah. Film dokumenter berjudul ‘Fragile’ misalnya, dirasakan masih  belum  jadi, karena terdapat raw material (bahan mentah)  yang perlu diolah dan dilengkapi dengan data-data  mendalam.

“Judul Fragile juga dinilai tidak cocok untuk tema persahabatan subjek Biantoro/Bian (pemilik Nadi Gallery Jakarta) dan seniman Agus Suwage/AS (Yogyakarta),” ungkap Seniman dan Dosen Desain Produk UKDW, Dr Koniherawati, Kamis (22/1/2026).

Film ini dinilai mengabaikan mise-en-scene (elemen visual film), sehingga tidak menarik ditonton. “Dalam menggambarkan persahabatan  Bian dan AS dari SMA (De Britto) hingga saat ini terlihat datar sangat membosankan, tidak memperhatikan elemen-elemen visual yang dibutuhkan dalam film,” terangnya  lebih rinci.

Diceritakan, Bian dan AS berteman sejak SMA dan berlanjut saat sama-sama kuliah di Bandung. Bian di jurusan Arsitek Universitas Katholik Parahiangan, sedangkan AS di jurusan Diskomvis FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) ITB. 

Kos mereka yang berdekatan menjadikan sering berkunjung. Hingga suatu saat AS menghadiahkan karya grafisnya yang merupakan tugas kuliah kepada Bian untuk mengisi dinding kamar kosnya.

Itulah koleksi karya seni karya AS yang dimiliki Bian pertaman kali yang diceritakan dalam film Fragile. Hingga saat ini di usia ke 25 tahun Nadi Gallery (ND) berdiri, persahabatan mereka masih berlangsung dan berkembang pada kerjasama lebih profesional melalui beberapa pameran AS di ND, baik pameran bersama maupun pameran tunggal.

Namun, bagaimana perkembangan persahabatan mereka hingga ke kancah pasar seni internasional tidak terlihat di film tersebut, sehingga masih dinilai masih dangkal. 

Semula film dokumenter ini sedianya untuk menandai ulang tahun ND, tetapi batal ditayangkan saat pembukaan pameran ke-25 tahun, karena hasil yang menurut pihak ND belum maksimal, sehingga, masih perlu direvisi.

Tim Kamarbiroe Creatives (KB) Yogyakarta yang terdiri beberapa anak muda, dengan pimpinan produksi Seilla, mengatakan, Film Fragile ini merupakan karya pertama yang diproduksi mereka.

Ditegaskan Koni, wujud film tidak hanya audio, tetapi juga visual yang selain tema cerita atau skenario (alur cerita dan dialog pemain) perlu penguasaan teknis menggunakan alat kamera dengan berbagai macam kekomplekan hal-hal teknis seperti pencahayaan, warna, artistik background (panggung), dekorasi, pemilihan lokasi, sudut pengambilan gambar, waktu yang tepat untuk pengambilan gambar dan lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *