catrawarta.com — Bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) harus tepat sasaran. Bukan hanya UKT, seluruh penerima bantuan dan beasiswa juga begitu. Karena itu, Fakultas Peternakan UGM menegaskan komitmennya memberi bantuan pada mahasiswa yang benar-benar membutuhkan.
Buktinya, Dekan Fapet UGM, Prof Budi Guntoro mengunjungi rumah salah satu penerima bantuan UKT yakni Muhammad Nur Arifin yang diterima di Fakultas Peternakan UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 non KIP Kuliah.
Budi mengunjungi ke rumah Arifin di daerah Dayu, Gadingsari, Sanden, Bantul, bersama Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama, Prof Yuny Erwanto dan Sekretaris Prodi S1 Fapet, Viagian Pastawan Phd. Mereka berharap Arifin bisa fokus dan mengoptimalkan diri saat kuliah hingga selesai.
Ia menekankan keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk memperoleh pendidikan tinggi. Fapet UGM berkomitmen memastikan mahasiswa dapat belajar dengan tenang dan menyelesaikan studinya secara optimal melalui berbagai bentuk dukungan yang tersedia.
”Selamat mas. Ke depan harus fokus baik studi maupun di organisasi. Manfaatkan kesempatan yang diberikan dengan beasiswa kuliah gratis untuk masa depan yang lebih baik,” ujar Budi.
Kebanggaan Keluarga
Arifin lahir di Bantul pada 17 Juli 2006. Dirinya tidak menyangka dapat diterima di Fapet UGM. Saat proses pemilihan jurusan, beberapa guru sempat menyarankan untuk memilih program studi lain. Namun kecintaannya terhadap dunia peternakan membuatnya mantap memilih Fapet UGM.
Ia menuturkan sejak kecil sudah senang memelihara hewan, terutama kambing. Ketertarikan pada peternakan tidak pernah hilang hingga membuatnya mengikuti tes masuk UGM dengan pilihan Fakultas Peternakan.
Cita-citanya sejak kecil memang ingin mengembangkan usaha peternakan ayam broiler di masa depan. Selain itu, ia juga memiliki minat besar pada bidang nutrisi dan pangan yang menjadi salah satu alasan memilih Fapet UGM sebagai tempat melanjutkan pendidikan.
Selain menunggu masa perkuliahan, ia membantu kegiatan peternakan milik tetangganya yang sedang menjadi lokasi praktik mahasiswa UGM di THR Farm, Karanganyar. Arifin bertugas mengambil telur, memberikan pakan ternak, serta memantau suhu kandang.
Setiap hari bergaul dengan dunia ternak membuatnya semakin memahami bagaimana pengelolaan peternakan secara langsung. Ia semakin yakin memilih peternakan sebagai bidang yang kelak ingin ditekuninya.
Arifin merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara. Perjalanan hidupnya tidak selalu mudah. Ayahnya, seorang tukang kayu dan telah meninggal dunia sekitar 15 tahun lalu. Sejak saat itu, ibunya menjadi sosok yang berjuang membesarkan dan mendidik anak-anaknya.

