Warta

Norwegia Larang AI di SD, Indonesia Bagaimana?

Norwegia merancang larangan untuk menggunakan AI generatif bagi siswa SD. Berbanding terbalik dengan kebijakan pendidikan di Indonesia.

Anak belajar dan membaca buku di sekolah dasar
Anak belajar dan membaca buku di sekolah dasar. (dok Freepik)

catrawarta.comPemerintah Norwegia berencana bakal melarang teknologi kecerdasan artifisial (AI) generatif untuk digunakan di sektor pendidikan dasar. Larangan ini nantinya berlaku mulai akhir Agustus 2026.

Negara dengan ibukota Oslo ini menargetkan larangan tersebut kepada siswa kelas satu hingga kelas tujuh. Sementara itu, siswa yang dilaporkan berada di rentang kelas ini secara umum berusia 6 hingga 13 tahun.

Rupanya, Norwegia tak ingin melewatkan generasi muda mereka dengan pengalaman esensial dalam proses belajar secara alamiah. Mereka ingin mengutamakan kemampuan dasar mampu berkembang secara optimal seperti menulis, membaca, dan berhitung alih-alih menggesernya kepada ketergantungan dari teknologi AI.

“Hal terpenting di sekolah adalah anak-anak kita belajar membaca, menulis, dan berhitung,” tegasnya Perdana Menteri Jonas Gahr Stoere, dikutip dari Reuters, Rabu (8/7).

Tak cuma sekolah dasar, larangan juga diterapkan kepada anak-anak kelas lanjutan. Siswa berusia 14 hingga 16 tahun dibatasi menggunakan AI generatif di bawah pengawasan guru. Sementara siswa remaja berusia 17 tahun ke atas dianjurkan untuk menggunakan AI generatif yang bertanggung jawab.

Seperti yang dikutip dari Reuters, rancangan aturan ini baru akan diajukan ke parlemen sebelum akhir tahun ini tiba. Norwegia pun rasanya bakal menyusul Australia yang memberikan aturan ketat soal pemisahan pendidikan dengan konsep AI.

Indonesia Justru Genjot Penggunaan AI

Berbanding terbalik dengan Norwegia dan Australia, Indonesia justru secara getol mengintegrasikan kurikulum pendidikan berbasis AI. Bahkan, penggunaanya dianjurkan untuk diberikan sejak sekolah dasar.

Hal ini mulai menjadi topik diskusi hangat di kalangan Pemerintah sejak tahun akhir tahun 2023 lalu. Bahkan di tahun 2024, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas getol berdiskusi soal pengembangan pembelajaran coding dan AI untuk siswa SD, Desember 2024 lalu di Jakarta.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq dalam pernyataannya mengungkap, AI sudah selayaknya diintegrasikan dengan kurikulum pendidikan untuk mempersiapkan siswa menghadapi era digital. Tujuannya, agar SDM Indonesia tak tertinggal dan bisa ikut bersaing di kancah internasional.

“Pembelajaran coding dan AI adalah pilihan yang akan diterapkan di sekolah-sekolah yang memiliki kesiapan dari segi sarana, infrastruktur, serta kemampuan siswa. Tujuan kami adalah menciptakan SDM unggul di bidang sains, teknologi, dan pendidikan, sesuai dengan visi Asta Cita pemerintah,” tegas Fajar, dilansir dari laman resmi Menpan RI, Rabu (8/7).  

Sebenarnya, fenomena berbanding terbalik ini bisa dipandang menggunakan kacamata human capital theory oleh Gary Becker dan Theodore Schultz.

Menurut pendekatan teori ini, Indonesia dengan pendapatan perkapita di sekitar 5 ribu USD ini mungkin menganggap SDM yang unggul dan kompetitif sesuai tuntutan zaman mampu berperan sebagai investasi ekonomi. Tujuannya jelas, lagi-lagi mengakselerasi sektor ekonomi nasional dengan lebih cepat dan efisien.

Berbeda halnya dengan Norwegia atau Australia. Norwegia dengan pendapatan perkapita di kisaran 86 ribu USD ke atas ini cenderung tak lagi berurusan soal menggenjot ekonomi dan kesejahteraan rakyat mereka sendiri. Mereka tak perlu pusing-pusing lagi soal kelaparan atau sekadar mengisi dompet.

Norges Bank yang menjadi inspirasi Danantara Indonesia ini bahkan sudah siap jika harus membagikan ‘tabungan’ asetnya senilai Rp6 miliar ke masing-masing penduduknya, dari bayi hingga lansia. Dana abadi yang dijaga ketat agar tak digunakan sewenang-wenang ini dilaporkan merupakan hasil pendapatan dari penjualan minyak hingga senilai Rp30 ribu triliun.

Soal budaya, Norwegia juga menjunjung kesetaraan dan kualitas hidup. Sehingga, rasanya tepat jika mereka lebih memilih proses belajar yang alami, alih-alih menggunakan AI yang cenderung hanya memberikan hasil jangka pendek.

Sementara Indonesia dari kacamata budaya, kesejahteraan terasa lebih kolektivistik dan hierarkis. Buktinya, pendidikan, karir, dan jabatan masih begitu kental membentuk perspektif masyarakat terhadap suatu keberhasilan atau pencapaian hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *