catrawarta.com — Tahun ajaran baru 2026/2027 bakal tiba dalam hitungan hari. Sebelum kegiatan pembelajaran berlangsung, para murid baru nantinya bakal menjalani adaptasi melalui program MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah).
Sesuai arahan dari Surat Edaran dan Panduan Pelaksanaan MPLS Ramah Kemendikdasmen 2026, kegiatan tersebut pada umumnya akan dilakukan selama 5 hari pada minggu pertama masuk sekolah yakni tanggal 13-17 Juli 2026.
Sekretaris Jenderal, Suharti dalam webinar tentang Sosialisasi Panduan Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendiikan (MPLS) Ramah dalam kanal YouTube Kemendikdasmen secara gamblang mengungkap dukungan mendalamnya kepada setiap murid baru untuk mendapatkan pengalaman yang aman sekaligus positif.
“Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) Ramah merupakan momen penting dan strategis dalam proses adaptasi murid baru di lingkungan satuan pendidikan baru. Masa pengenalan lingkungan satuan pendidikan bukan sekadar kegiatan seremonial atau rutinitas tahunan, tetapi menjadi bagian penting dari proses membangun budaya positif di satuan pendidikan,” jelasnya.
Dia turut menyebut, MPLS bisa efektif ketika pihak sekolah mampu merancang kegiatannya secara menyeluruh, bermakna, dan fokus pada manfaat serta kebutuhan murid baru. Alih-alih hanya sebatas seremonial saja.
“Masa pengenalan ini pelaksanaannya harus dirancang secara menyeluruh, bermakna, dan berfokus pada kebutuhan perkembangan para murid,” tegasnya.
Upaya MPLS Agar Efektif dan Aman
Sehingga, kegiatan MPLS seharusnya menjadi wadah adaptasi yang aman dan menyenangkan bagi semua pihak.
Tak hanya soal murid baru dan sekolah, MPLS yang aman juga memerlukan perhatian khusus dan langsung dari para orang tua. Dalam hal ini orang tua yang berperan sebagai wali murid harus diberikan bekal sosialisasi mengenai materi MPLS, pengisian data anak, mekanisme pelaporan, hingga edukasi lainnya perihal sekolah.
Selanjutnya, sekolah juga perlu untuk memperhatikan kesiapan dari setiap murid baru yang akan beradaptasi di lingkungan sekolah. Hal ini bisa mulai dilakukan dengan melakukan penilaian terhadap kondisi sosial, emosional, literasi, bakat dan minat, indeks massa tubuh, hingga kesehatan sebelum kegiatan berlangsung.
Di sisi lain, materi MPLS juga harus menjadi acuan utama bagi panitia untuk menanamkan kenyamanan, kebahagiaan, dan kebermanfaatan saat kegiatan MPLS dimulai. Misalnya, materinya bisa berupa mengenalkan budaya santun di sekolah, rukun sesama teman, materi khas dari sekolah, hingga materi lain yang sekiranya membuat para murid baru antusias.
Terakhir, sudah semestinya juga setiap panitia MPLS menjauhi pelanggaran dan bahkan tindak kekerasan. Karena sejatinya, perpeloncoan, pungutan, hingga penggunaan atribut tak edukatif tak lagi relevan untuk dimasukkan ke dalam materi MPLS.
Seperti halnya harapan salah satu Guru SD Playen IV Gunungkidul, Wulan Nur terhadap MPLS 2026 mendatang bagi para murid baru. Guru Kelas V yang berasal dari Playen itu menyebut jika MPLS bisa memberikan makna pertama yang berkesan bagi murid ketika kegiatannya dirancang sesuai dengan kenyamanan mereka sendiri.
“Ya, MPLS menurut saya bisa efektif dan aman itu ketika mereka sendiri juga dilibatkan aktif di dalamnya. Jadi, para murid tidak hanya menjadi pendengar, tapi juga mampu berperan langsung selama kegiatan,” ujarnya.
Tambahnya, materi-materi yang penting misalnya soal kenegaraan atau nasionalisme bisa disisipkan dengan cara yang edukatif tapi tetap asyik dan menarik.

Bermain 10 Orang, Kematangan Mental Inggris Mampu Atasi Nafsu Meksiko 