catrawarta.com — Pada 28 Juni 1947 Soedirman dilantik sebagai Panglima Besar TNI di Istana Gedung Agung Yogyakarta oleh Presiden Soekarno. Jalan panjang dia tapaki demi pengabdian kepada Ibu Pertiwi. Panglima termuda yang memimpin beribu tentara, di sebuah negeri yang kaya raya, dengan berbagai latar belakang dan kepentingan.
Soedirman, semula seorang aktivis Muhammadiyah dan guru bersahaja, meletakkan dasar penting bagi jati diri dan karakter TNI. Dalam sebuah pidato, dengan jelas bagaimana niat suci atau perang suci dijadikan awal langkah menghadapi bangsa penjajah.
Baginya, membela tanah air, bangsa dan negaranya, dari kebrutalan Belanda atau Jepang adalah sebentuk perang jihad. Kematian bukan hal yang ditakuti, kemerdekaan, yang dalam bahasanya harus 100%, adalah muara perjuangan. Oleh karena itu, seberat apapun ujian dan rintangan, dihadapi dengan penuh keikhlasan.
Beberapa saat setelah dilantik sebagai Panglima Besar TNI, Soedirman dihadapkan pada situasi darurat. Belanda mencoba menganeksasi kembali Indonesia karena tak pernah rela, bangsa yang luas dan kaya ini, bisa memiliki status sebagai negara merdeka.
Pada 21 Juli 1947, sebulan setelah Soedirman dilantik, Belanda melancarkan Agresi Militer pertama. Tahu sandi yang dikirimkan Soedirman untuk para prajuritnya? “Ibu Pertiwi Memanggil!”. Melalui RRI Yogyakarta, Soedirman memerintahkan perlawanan semesta.
Tak pernah mau diajak kompromi dan diplomasi, Soedirman benar-benar merupakan pangawal Ibu Pertiwi. Presiden Soekarno, suatu pagi pada 19 Desember 1948 memanggil dan membujuknya di Istana Gedung Agung, agar ikut menyelamatkan diri dari sergapan Belanda yang melancarkan Agresi Militer keduanya. Bagaimana jawaban Soedirman?
“Tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah. Saya akan meneruskan perjuangan. Met of zonder (dengan atau tanpa) pemerintah, TNI akan berjuang terus”.
Soedirman, yang berbulan-bulan memimpin perang gerilya, akhirnya turun gunung. Sesuai kesepakatan Perjanjian Roem-Roijen, pada 6 Juli 1949 para pemimpin bangsa kembali ke Yogyakarta dari pengasingan. Pada 10 Juli 1949, Jenderal Soedirman berpelukan dengan Presiden Soekarno di teras Istana Gedung Agung. Didampingi Bung Hatta dan Fatmawati, Bung Karno menitikkan air mata melihat panglima besarnya kurus kering dengan mantel lusuh dan wajah pucat pasi karena sakit TBC.
Begitulah, seharusnya, bhayangkari negara. Memegang teguh janji dan sumpah setia kepada bangsa dan negara, sampai titik darah penghabisan. Pantang menyerah meski sakit mendera, teguh kukuh menjadi perisai negara, tak terjebak dalam politik praktis yang bisa menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa. Saat Hari Angkatan Perang 5 Oktober 1949 di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta, Panglima Besar Jenderal Soedirman menyampaikan pesan sejarah:
“Ingatlah, bahwa peradjurit kita bukan peradjurit sewaan, bukan peradjurit jang mudah dibelokkan haluannja. Tentara kita masuk dalam tentara, karena keinsjafan djiwa, dan sedia berkorban bagi bangsa dan negara.
Djangan mudah tergelintjir dalam saat-saat seperti sekarang ini. Segala tipu-muslihat dan provokasi-provokasi jang tampak atau tersembunji dapat dilalui dengan selamat kalau kita waspada dan bertindak sebagai patriot.
Dalam menghadapi keadaan apapun, djangan lengah, sebab kelengahan menimbulkan kelemahan dan kelemahan menimbulkan kekalahan sedang kekalahan menimbulkan penderitaan.
Insjaf, pertjaja dan jakinlah, bahwa kemerdekaan negara dan bangsa jang didirikan atas tumpukan korban, tak akan dapat dilenjapkan oleh siapapun djuga.
Begitulah. Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah profile terbaik tentara kita. Tiga bulan kemudian, sosok bersahaja yang kuat dan tahan derita ini, wafat pada 29 Januari 1950. Tak sempat menikmati kemerdekaan yang turut ia perjuangkan.
Tak terbayang bagaimana sedihnya Soedirman jika tahu anak cucunya di ketentaraan sampai mengkhianati cita-cita proklamasi 1945. Semoga segenap jajaran TNI, kembali, menjadikan Bapak TNI Soedirman, sebagai teladan kehidupan. Pantang menyakiti rakyat yang dengan setia mengawal TNI pada pada revolusi.
(*)

