catrawarta.com — Penyair Taufiq Ismail dikenal sebagai sastrawan yang konsisten menyuarakan kritik sosial melalui karya-karyanya. Sejumlah puisinya bahkan tetap relevan dengan kondisi Indonesia hingga saat ini.
Indonesia adalah negeri pelaut
Tapi anginnya adalah angin yang meniupkan debu
Dan kita di sini hanya bisa terbeli dan tergadai
Malu aku jadi orang Indonesia
Salah satu karya yang paling ikonik adalah Malu Aku Jadi Orang Indonesia. Puisi tersebut kerap dikutip dalam berbagai diskusi publik, dicetak pada kaos, hingga digunakan sebagai bagian dari aksi demonstrasi.
Selain itu, puisi-puisi seperti Benteng dan Tirani, Takut ’66, dan Takut ’98 memperlihatkan kegelisahan Taufiq terhadap berbagai persoalan sosial, politik, moralitas, dan mentalitas bangsa.

Puisi Takut ’98 merefleksikan situasi menjelang Reformasi 1998 ketika gerakan mahasiswa menentang pemerintahan Orde Baru. Sementara puisi 12 Mei 1998 menunjukkan empati Taufiq terhadap gugurnya mahasiswa Universitas Trisakti dalam tragedi yang menjadi salah satu titik penting perjalanan reformasi Indonesia.
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Wannofri Samry, menilai Taufiq Ismail merupakan penyair yang konsisten mengangkat persoalan bangsa dan masyarakat.
“Puisi yang ditulis Taufiq Ismail merupakan bentuk keprihatinan sekaligus respons terhadap berbagai persoalan bangsa. Beliau konsisten mengangkat isu politik, sosial, kemiskinan, hingga pendidikan. Taufiq menulis puisi untuk membangun peradaban melalui sastra,” kata Wannofri, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, karya-karya Taufiq memiliki pengaruh yang kuat karena tetap kontekstual dengan situasi masa kini.
“Meskipun tidak semua orang membaca seluruh puisinya, banyak kutipan dari karya beliau yang terus digunakan karena relevan dengan persoalan hari ini maupun masa depan,” ujar Chief Editor Andalas International Journal of Socio-Humanities tersebut.

Wannofri juga menilai pemikiran Taufiq turut menginspirasi tumbuhnya berbagai komunitas literasi di kalangan generasi muda.
“Puisi-puisinya memberikan inspirasi kepada pelajar dan anak muda untuk bergerak di bidang literasi. Sastra akan terus bertumbuh melalui generasi muda yang terinspirasi oleh karya-karya tersebut,” ujarnya.
Senada dengan itu, penyair sekaligus pendiri Situseni Bandung, Doddi Ahmad Fauji, menyebut karya Taufiq Ismail sebagai “pintu masuk” menuju sastra Indonesia.
“Sebuah rumah memiliki pintu dan jendela. Puisi Taufiq Ismail adalah pintu masuk menuju sastra Indonesia yang di dalamnya sangat beragam,” kata Doddi.
Menurutnya, kekuatan puisi Taufiq terletak pada bahasa yang sederhana dan mudah dipahami berbagai kalangan, meskipun banyak berisi kritik terhadap penguasa.
“Karena mudah dipahami, karya-karya Taufiq sering menjadi pilihan guru sastra untuk dikenalkan kepada siswa. Bagi pembaca pemula, puisi-puisinya lebih mudah dicerna,” ujarnya.

Doddi menambahkan, selain puisi bertema sosial dan politik, Taufiq juga menghasilkan banyak karya bernuansa religius. Sejumlah puisinya bahkan dipopulerkan melalui lagu-lagu yang dibawakan grup musik Bimbo.
“Inilah kehebatan Taufiq Ismail. Ia mampu menciptakan puisi religius sekaligus tematik. Setiap Ramadan dan Idulfitri, karya-karyanya masih sering dibacakan maupun dinyanyikan,” katanya.
Taufiq Ismail lahir pada 25 Juni 1935 dan pada tahun ini genap berusia 91 tahun. Selain dikenal sebagai penyair dan aktivis, ia pernah menjadi editor majalah sastra Horison serta dikenal sebagai salah satu pelopor Angkatan 66.
Lulusan Universitas Indonesia itu juga tercatat sebagai penandatangan Manifesto Kebudayaan pada 1963, sebuah dokumen yang menolak subordinasi seni terhadap kepentingan politik.
Dedikasinya terhadap dunia sastra terus berlanjut melalui pendirian Rumah Puisi Taufiq Ismail dan Museum Sastra Indonesia di Jalan Raya Padang Panjang–Bukittinggi, Sumatra Barat.

Tiga Calon Pengelola KDMP Meninggal, Stop Pelatihan ala Militer 