Catra Budaya

Seabad Gempa Padang Panjang 1926 dan Kearifan Minang

Sumatra Barat dikenal sebagai salah satu wilayah paling rawan bencana di Indonesia

Salah satu peristiwa yang masih tersimpan kuat dalam ingatan kolektif masyarakat adalah gempa besar yang mengguncang dataran tinggi padang pada 28 juni 1926
Buku Gempa Tujuh Hari karya Yose Hendra. (dok Ist)

catrawarta.comSumatra Barat dikenal sebagai salah satu wilayah paling rawan bencana di Indonesia. Gempa bumi, banjir, hingga longsor menjadi bagian dari sejarah panjang masyarakat Minangkabau yang hidup di kawasan cincin api dan jalur sesar aktif.

Salah satu peristiwa yang masih tersimpan kuat dalam ingatan kolektif masyarakat adalah gempa besar yang mengguncang Dataran Tinggi Padang pada 28 Juni 1926. Bencana yang kemudian dikenal sebagai Gempa Tujuh Hari itu kini genap berusia satu abad pada 28 Juni 2026.

Peristiwa tersebut tidak hanya tercatat dalam arsip kolonial Belanda, tetapi juga terdokumentasi dalam berbagai catatan internasional, termasuk milik NOAA (The National Oceanic and Atmospheric Administration) Amerika Serikat.

Ingatan tentang gempa dahsyat itu kemudian direkam oleh penulis dan jurnalis asal Padang, Yose Hendra, melalui buku “Gempa Tujuh Hari ” yang diluncurkan untuk memperingati 100 tahun bencana tersebut.

Menariknya, buku itu berawal dari tesis Yose saat menempuh studi magister Sejarah di Pascasarjana Universitas Andalas. Selama 14 tahun, ia meneliti dan membandingkan dampak gempa 1926 dengan gempa Sumatra Barat tahun 2009.

“Saya tumbuh besar di Nagari Tanjung Barulak, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar. Dalam keseharian bersama keluarga dan para tetua kampung, saya sering mendengar cerita tentang gempa 1926 yang dianggap sangat dahsyat,” kata Yose, Selasa (23/6/2026).

Menurut cerita para tetua, gempa tersebut membuat pohon-pohon kelapa bergoyang selama berhari-hari. Bahkan, masyarakat meyakini permukaan air Danau Singkarak sempat naik setelah gempa terjadi.

Peristiwa itu kemudian menjadi penanda sejarah penting dalam masyarakat Minangkabau, bahkan kerap dijadikan acuan dalam penanggalan dan penanda kelahiran generasi terdahulu.

Gempa Melahirkan Pengetahuan Lokal

Sumatra barat dikenal sebagai salah satu wilayah paling rawan bencana di indonesia
Rumah Gadang dirancang sebagai rumah tradisional tanah gempa. (dok Kementerian Pariwisata)

Bagi masyarakat Sumatra Barat, gempa bukan sekadar bencana yang datang sesekali.

“Gempa adalah denyut yang selalu hadir, bagian dari irama hidup di tanah yang berdiri di atas patahan. Karena itu, setiap lindu melahirkan bukan hanya puing, tetapi juga pengetahuan, cerita, dan pembelajaran,” ujar Yose.

Pengalaman panjang menghadapi bencana melahirkan berbagai bentuk mitigasi berbasis kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Salah satunya tercermin pada arsitektur Rumah Gadang, rumah adat Minangkabau yang dirancang tahan terhadap guncangan gempa.

Rumah panggung tradisional itu dibangun tanpa menanamkan tiang utama ke dalam tanah. Tiang-tiang rumah bertumpu di atas batu datar yang kokoh, sementara sambungan antarstruktur menggunakan pasak kayu, bukan paku.

“Saat terjadi gempa, Rumah Gadang akan bergeser secara fleksibel seperti menari. Sambungan pasak kayunya juga bergerak lentur sehingga bangunan lebih tahan terhadap guncangan,” jelas Yose.

Menurutnya, desain tersebut lahir jauh sebelum masyarakat mengenal ilmu kegempaan modern atau memahami lokasi sesar aktif.

Selain arsitektur, masyarakat Minangkabau juga memiliki aturan tata ruang tradisional yang berfungsi sebagai mitigasi bencana. Kawasan yang banyak sumber air dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, sedangkan permukiman dibangun di lokasi yang relatif aman.

Masyarakat juga mengenal larangan membangun rumah di lereng atau “pinggang bukit” karena rawan longsor.

Toponimi Bencana sebagai Pengingat

Kearifan lokal lainnya terlihat dari nama-nama nagari dan jorong yang menyimpan jejak bencana masa lalu.

Sumatra barat dikenal sebagai salah satu wilayah paling rawan bencana di indonesia
Penulis buku Gempa Tujuh Hari, Yose Hendra. (dok Yose Hendra)

Yose mencontohkan Nagari Ampang Gadang yang secara harfiah berarti “banjir besar”, menunjukkan wilayah tersebut pernah mengalami banjir besar pada masa lampau.

Begitu pula Jorong Galudua di Nagari Koto Tuo. Nama “Galudua” berasal dari kata galodo yang berarti banjir bandang.

Di kawasan lain terdapat Nagari Malalo di tepi Danau Singkarak serta Nagari Pasia Laweh yang juga memiliki sejarah bencana banjir dan galodo.

“Nama-nama itu lahir dari pengalaman para tetua di nagari dan jorong pada masa lalu. Ini menjadi pengingat agar masyarakat selalu waspada terhadap ancaman bencana,” ujarnya.

Masyarakat setempat bahkan memiliki sistem peringatan dini tradisional. Anak-anak muda biasanya memantau kondisi sungai di wilayah hulu. Jika terlihat batang-batang pohon mulai hanyut, warga yang tinggal di dekat aliran sungai akan segera mengungsi untuk menghindari banjir bandang.

Gempa Tujuh Hari dan Pelajaran Masa Depan

Sumatra barat dikenal sebagai salah satu wilayah paling rawan bencana di indonesia
Danau Singkarak menjadi penanda alam bila terjadi gempa bumi. (dok Pemprov Sumatra Barat)

Menurut Yose, berbagai literatur yang ia temukan menyebut gempa besar 28 Juni 1926 memang diikuti rangkaian gempa susulan selama beberapa hari.

Gempa utama terjadi sekitar pukul 10.00 WIB dan disusul gempa kuat lainnya pada pukul 12.57 WIB. Setelah itu, guncangan susulan terus dirasakan hingga berhari-hari.

“Gempa tujuh hari ini berkelindan dengan trauma, kekacauan saat bencana, dan kesaksian masyarakat yang melihat pohon-pohon kelapa terus bergoyang selama beberapa hari,” katanya.

Peneliti utama bidang gempa bumi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Danny Hilman Natawidjaja, dalam pengantar buku tersebut menyebut kajian Yose penting untuk memahami kembali salah satu peristiwa gempa paling bersejarah di Sumatra Barat.

“Gempa 1926 bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga cermin bagi mitigasi bencana di masa depan,” tulisnya.

Menjelang satu abad Gempa Padang Panjang 1926, Yose berharap masyarakat tidak hanya mengenang peristiwa tersebut sebagai tragedi, tetapi juga menjadikannya sarana edukasi untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana.

“Peristiwa gempa perlu direfleksikan sebagai pembelajaran, kesiapsiagaan, dan kesediaan untuk terus belajar dari pengalaman masa lalu,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *