Catra Budaya

Rawi Penjaga Tradisi Lisan Al-Ula 

Di Al-Ula, kota oasis bersejarah di Provinsi Madinah, Arab Saudi, para pencerita yang dikenal sebagai Rawi berperan menjaga tradisi lisan

Di al ula kota oasis bersejarah di provinsi madinah arab saudi para pencerita yang dikenal sebagai rawi berperan menjaga tradisi lisan dan ingatan kolektif masyarakat setempat
Para pencerita di Kota Al-Ula yang dikenal sebagai Rawi berperan menjaga tradisi lisan dan ingatan kolektif masyarakat setempat. (dok UNESCO)

catrawarta.comDi Al-Ula, kota oasis bersejarah di Provinsi Madinah, Arab Saudi, para pencerita yang dikenal sebagai Rawi berperan menjaga tradisi lisan dan ingatan kolektif masyarakat setempat.

Dalam tradisi sastra Arab klasik, seorang Rawi adalah penjaga karya-karya penyair yang dipercaya untuk menghafal, menyampaikan, dan menghidupkan syair-syair yang hanya hidup dalam ingatan dan suara manusia. Melalui para Rawi, puisi tetap hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. 

Konsep Rawi ini ada kemiripan dengan tradisi lisan Nusantara, seperti juru pantun, tukang kaba di Minangkabau, penutur hikayat Melayu, dalang wayang, hingga para tetua adat yang mewariskan pengetahuan secara lisan. 

Dikutip dari laman UNESCO, di kota tua ini tradisi berkembang lebih luas, dengan lahirnya sebuah praktik kolektif untuk menjaga ingatan bersama. Saat ini, arsip para Rawi adalah pengalaman hidup masyarakat Al-Ula itu sendiri. 

Kisah-kisah yang dituturkan melampaui catatan tertulis, dan mereka mampu menjaga benang-benang yang tak kasat mata menghubungkan masa lalu dengan masa kini. 

Adel Alanzi, seorang Rawi di Royal Commission for AlUla (RCU), tumbuh besar dengan mendengarkan cerita. Kisah-kisah dari kakek dan neneknya tentang Hegra, jalur-jalur kuno ibadah haji, serta kafilah yang dahulu menghidupkan lembah Al-Ula, menjadi kompas hidupnya. 

Adel alanzi seorang rawi di royal commission for alula rcu tumbuh besar dengan mendengarkan cerita  dok unesco
Adel Alanzi, seorang Rawi di Royal Commission for AlUla (RCU), tumbuh besar dengan mendengarkan cerita. (dok UNESCO)

Meneruskan cerita-cerita itu kemudian menjadi panggilan hidupnya. Adel menggambarkan perannya sebagai seorang Rawi dengan tiga kata yaitu gairah, panggilan, dan tanggung jawab. 

“Peran ini sangat penting dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kami di Al-Ula. Bagi saya, ini adalah gairah, panggilan, sekaligus tanggung jawab untuk memperkenalkan situs-situs warisan budaya yang indah di Al-Ula kepada dunia,” ujarnya. 

Bagi Adel, tradisi tersebut bukan sekadar pertunjukan masa lalu, melainkan jembatan hidup yang menghubungkan berbagai zaman. Cerita yang paling membekas baginya adalah kisah-kisah tentang perjalanan ibadah haji dan para peziarah yang melintasi Al-Ula dalam perjalanan menuju Makkah. 

“Kami tumbuh dengan cerita-cerita dari para leluhur. Kini kami meneruskannya kepada generasi muda. Kisah-kisah ini menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat masa lalu dengan generasi saat ini,” katanya. 

Kholouf Alanzi, seorang Rawi perempuan di Al-Ula menyoroti pentingnya peran yang ia jalankan dalam menjaga tradisi keluarga, kebersamaan, dan berbagai perayaan masyarakat. 

Kholouf alanzi seorang rawi perempuan di al ula dok unesco
Kholouf Alanzi, seorang Rawi perempuan di Al-Ula. (dok UNESCO)

“Cerita yang paling penting bagi saya, yang paling saya ingat, adalah kisah tentang keluarga kami yang merawat kebun dan tanah warisan. Nenek saya selalu mengatakan bahwa merawat pohon kurma sama artinya dengan merawat masa depan,” tuturnya. 

Bagi Kholouf, tradisi Rawi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial masyarakat Al-Ula. Cerita bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan bagian yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari. 

“Masyarakat Al-Ula selalu menjadi penjaga ingatan. Mereka menjaga kisah-kisah tetap hidup melalui pertemuan keluarga, puisi, serta tradisi dalam perayaan maupun masa berkabung. Jantung dari tradisi bercerita selalu hidup di tengah komunitas itu sendiri,” ujarnya. 

Saat ini dunia hidup dalam era dokumentasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, ketika informasi dapat menyebar dengan sangat cepat. Namun di saat yang sama, tradisi lisan di berbagai belahan dunia justru menghilang lebih cepat daripada upaya untuk merekamnya. 

Di tengah kemajuan teknologi digital yang memungkinkan informasi disimpan dan disebarkan dengan cepat, tradisi lisan di berbagai belahan dunia justru menghadapi ancaman kepunahan.

Karena itu, keberadaan para Rawi tetap penting. Mereka tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan pengalaman dan hubungan antarmanusia yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh dokumentasi tertulis.

Kemitraan antara UNESCO dan Royal Commission for AlUla (RCU) dibangun atas pemahaman bahwa warisan budaya benda dan tak benda merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. 

Batu-batu bersejarah di Al-Ula dan kisah-kisah yang diwariskan para Rawi berasal dari jalinan budaya yang sama, sehingga keduanya harus dijaga dan dilestarikan secara bersamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *