Catra Budaya

Arkeolog Temukan Candi Baru di Situs Batujaya Karawang

Arkeolog kembali menemukan runtuhan candi baru di kawasan Situs Batujaya, Karawang, Jawa Barat.

Arkeolog kembali menemukan runtuhan candi baru di kawasan situs batujaya karawang jawa barat
Candi Blandongan, salah satu candi yang berada di komplek Situs Batujaya (dok Wikipedia/Kandar)

catrawarta.comArkeolog kembali menemukan runtuhan candi baru di kawasan Situs Batujaya, Karawang, Jawa Barat. Penemuan ini melibatkan mahasiswa dan dosen dari Program Studi Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI), serta mendapat dukungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Barat, Kementerian Kebudayaan.

Struktur bangunan kuno tersebut tersusun dari bata merah asli yang terkubur di bawah lapisan tanah dan area persawahan. Berdasarkan analisis awal arkeologis, situs ini diperkirakan berasal dari abad ke-4 hingga ke-6 Masehi dan diduga kuat berkaitan dengan masa Kerajaan Tarumanegara.

Candi jiwa di komplek situs batujaya dok heritage id
Candi Jiwa di komplek Situs Batujaya. (dok Heritage ID)

Lokasinya yang berada di dekat aliran Sungai Citarum memperkuat dugaan bahwa kawasan tersebut merupakan bagian dari pola permukiman dan pusat aktivitas masyarakat masa lampau yang memanfaatkan jalur sungai sebagai sarana utama kehidupan.

Dilansir dari Bapenda Jawa Barat, tim arkeolog di lapangan juga menemukan struktur tangga pada salah satu sisi bangunan candi. Temuan arah hadap bangunan serta keberadaan tangga tersebut mengindikasikan adanya aktivitas interaktif di atas struktur candi, berbeda dengan beberapa struktur stupa tertutup yang umumnya hanya digunakan untuk dilihat dari luar.

Selain itu, ditemukan kandungan sekam atau merang padi yang bercampur dalam material bata kuno. Temuan ini menjadi indikasi bahwa kawasan sekitar situs telah menjadi wilayah pertanian yang berkembang sejak masa aktifnya bangunan tersebut.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meninjau langsung situs tersebut pada 15 Juni lalu. Ia menekankan pentingnya merekonstruksi cara pandang masyarakat modern terhadap fungsi candi di masa lalu.

“Candi tidak melulu identik dengan kegiatan ritual keagamaan yang kaku. Pada masa lalu, nilai spiritualitas, sosialitas, dan kesenian menyatu dalam satu kesatuan. Situs seperti ini memiliki fungsi multidimensi, mulai dari tempat bermeditasi hingga pusat pendidikan,” ujar Dedi Mulyadi.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jawa Barat, Retno Raswaty, menyebutkan bahwa Situs Batujaya merupakan salah satu situs penting yang baru mulai diteliti secara intensif sejak sekitar tahun 1980-an.

Ia berharap kawasan Situs Batujaya dapat dikembangkan menjadi ekosistem yang harmonis antara budaya agraris yang telah lama hidup berdampingan dengan keberadaan situs candi yang sarat nilai budaya dan keagamaan.

Telagajaya sebuah situs sumur berbentuk segi empay dengan ukurn 15 meter x 15 meter dok heritage id
Telagajaya sebuah situs sumur berbentuk segi empat dengan ukuran 1,5 meter x 1,5 meter. (dok Heritage ID)

Kompleks percandian Batujaya yang bercorak Buddha ini diperkirakan berasal dari abad ke-5 Masehi, lebih tua dibandingkan Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-8. Situs ini berada di Kecamatan Batujaya dan Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang.

Di kawasan ini terdapat sejumlah candi tertua di Nusantara yang dibangun pada masa Kerajaan Tarumanegara yang bercorak Hindu. Sejauh ini, empat candi telah diidentifikasi, yakni Candi Jiwa, Candi Blandongan, Candi Serut, dan Candi Telagajaya.

Seluruh struktur candi di Situs Batujaya tersusun dari bata merah dan menunjukkan corak keagamaan Buddha. Keberadaan candi Buddha ini muncul pada masa ketika kerajaan-kerajaan bercorak Hindu juga mulai berkembang di Nusantara.

Selain bangunan candi, kawasan Batujaya juga menyimpan berbagai temuan arkeologis dari masa prasejarah di wilayah pesisir utara Jawa.

Menindaklanjuti temuan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana menata akses jalan dari jalan provinsi menuju kawasan situs serta memperbaiki estetika lingkungan di sekitarnya.

Penataan kawasan juga akan dilakukan dengan pendekatan persuasif, termasuk pengurangan kawasan permukiman kumuh di sekitar situs.

“Upaya penataan ini dirancang agar kawasan purbakala tersebut bertransformasi menjadi destinasi wisata budaya dan edukasi yang representatif sekaligus menjadi fondasi pembangunan ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal,” ujar Dedi Mulyadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *