catrawarta.com — Di tengah perdamaian Amerika Serikat dan Iran, konflik masih terjadi di kawasan Timur Tengah. Israel Kembali melakukan serangan ke sejumlah titik di Lebanon dan mengakibatkan 47 orang meninggal dan 97 orang terluka. Selain korban dari pihak Lebanon, ada pula korban dari tentara Israel.
Aljazeera.com melaporkan Israel terus menyerang Lebanon meskipun telah menyatakan gencatan senjata dengan Hizbullah. Meskipun gencatan senjata telah diberlakukan, setidaknya 12 serangan udara Israel dan penembakan artileri terus-menerus menghantam Lebanon selatan.
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan serangan pesawat tak berawak Israel menewaskan dua orang yang sedang mengendarai sepeda motor di Lebanon selatan setelah gencatan senjata diberlakukan.
Israel dan Hizbullah dilaporkan sepakat untuk menghentikan permusuhan setelah Qatar, Amerika Serikat, dan Iran menengahi gencatan senjata. Gencatan senjata bertujuan menghentikan eskalasi di Lebanon agar tidak menggagalkan upaya yang lebih luas untuk mengubah kesepakatan sementara AS-Iran menjadi kesepakatan perdamaian regional yang langgeng.
Salah satu poin dalam kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran juga menyebut kasus di Lebanon. Serangan Israel ke Lebanon dikhawatirkan bisa mengganggu kesepakatan damai.
Gencatan Senjata Berlaku
Seorang pejabat Hizbullah mengatakan kepada Al Jazeera, gencatan senjata akan tetap berlaku jika Israel mematuhinya. Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, juga mengatakan di X, Israel tetap berkomitmen teguh pada gencatan senjata segera. Jika Hizbullah menghormati perjanjian dan menghentikan permusuhannya, mereka akan disambut dengan tenang.
Meskipun ada pernyataan gencatan senjata, serangan Israel berlanjut menjadikan penduduk Lebanon selatan mempertanyakannya. Bahkan wartawan Aljazeera, Heidi Pett mengatakan dari Lebanon, kondisi sebenarnya tidak seperti gencatan senjata.
Menurut Departemen Luar Negeri AS, pembicaraan mengenai Lebanon-Israel dijadwalkan berlangsung di Washington pada tanggal 23 hingga 25 Juni. Informasi tersebut disampaikan setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Presiden Lebanon Joseph Aoun berbicara melalui telepon.
Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, menunjukkan sikap menantang dan mengecam perang kriminal Israel terhadap Lebanon, yang mengabaikan semua aturan dalam membunuh warga sipil dan anak-anak serta menghancurkan properti.
Ia mengatakan proyek untuk melenyapkan Hizbullah dan mengkonsolidasikan pendudukan telah gagal, dan Israel akan meninggalkan setiap inci tanah Lebanon. Ia juga menuduh Israel dan AS mengingkari perjanjian gencatan senjata.

