catrawarta.com — Bulan Muharram dalam kalender Islam menandai pergantian tahun baru Hijriah. Salah satu peristiwa penting yang diperingati umat Islam pada bulan ini adalah Hari Asyura yang jatuh setiap 10 Muharram.
Dalam tradisi Islam, Hari Asyura dikaitkan dengan peristiwa diselamatkannya Nabi Musa AS beserta pengikutnya dari kejaran Firaun yang kemudian ditenggelamkan di Laut Merah. Selain itu, 10 Muharram juga dikenal sebagai momentum untuk menyantuni anak yatim dan berbagi kebahagiaan kepada mereka.
Bagi sebagian umat Islam, tanggal tersebut juga menjadi waktu mengenang kesyahidan Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, yang gugur dalam peristiwa Karbala di Irak pada tahun 61 Hijriah.
Di Indonesia, peringatan Asyura memiliki tradisi khas berupa pembuatan Bubur Asyura. Tradisi ini masih dapat dijumpai di sejumlah daerah seperti Aceh, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Selatan. Bubur dimasak secara gotong royong dalam kuali atau panci berukuran besar, kemudian dibagikan kepada masyarakat dan disantap bersama.
Penulis dan pemerhati sejarah serta kebudayaan Aceh, T.A. Sakti, mengatakan tradisi tersebut masih bertahan hingga sekarang meskipun tidak semeriah beberapa dekade lalu.

“Tradisi yang dilakukan pada 10 Muharram itu sampai kini masih berlangsung, walau tidak sesemarak tempo dulu. Dalam pengamatan saya di beberapa kampung di Aceh Besar, peristiwa kesyahidan Husein terkesan sudah mulai memudar dari ingatan masyarakat,” kata T.A. Sakti, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, masyarakat Aceh umumnya lebih mengaitkan Kenduri Bubur Asyura dengan kisah Nabi Musa AS yang diselamatkan Allah SWT dari kejaran Firaun.
Pembuatan Bubur Asyura menjadi ajang kebersamaan warga. Karena dimasak dalam jumlah besar, proses pembuatannya dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat kampung. Tradisi ini tidak hanya menghadirkan hidangan untuk dinikmati bersama, tetapi juga memperkuat silaturahmi dan rasa kebersamaan antarwarga.
Bubur Asyura dikenal memiliki bahan yang sangat beragam. T.A. Sakti menyebutkan terdapat sekitar 41 jenis bahan dan rempah yang digunakan, mulai dari beras, jagung, kacang hijau, kacang kedelai, kacang tolo, kacang tanah, singkong, ubi jalar, pisang, hingga berbagai jenis sayuran.
Sementara itu, bumbu yang digunakan antara lain bumbu gulai, serai, daun pandan, kayu manis, dan garam. Proses memasaknya dapat memakan waktu sekitar tiga jam karena jumlah yang dibuat cukup besar untuk dibagikan kepada masyarakat.
Hingga kini, tradisi Kenduri Bubur Asyura masih terus dipertahankan di berbagai daerah di Aceh. Selain menjadi bagian dari peringatan Hari Asyura, tradisi tersebut juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial dan menjaga semangat gotong royong di tengah masyarakat.

