catrawarta.com — Musik keroncong selama ini lebih dikenal sebagai bagian dari budaya Jawa Tengah. Namun, sejarah mencatat bahwa akar musik keroncong justru berasal dari Kampung Tugu, Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.
Kampung Tugu bahkan dikenal sebagai kampung keroncong karena menjadi tempat lahir dan berkembangnya musik yang kini telah menjadi salah satu identitas budaya Indonesia tersebut.
Ketua Yayasan Rumah Budaya Michiels sekaligus manajer grup Krontjong Toegoe, Lisa Michiels, menjelaskan bahwa Kampung Tugu merupakan permukiman komunitas keturunan Portugis tertua di Indonesia. Tradisi bermusik keroncong telah hidup di kawasan itu sejak abad ke-17.
“Masyarakat Mardijker sudah memainkan musik keroncong sejak 1661 setelah pulang bekerja. Musik menjadi sarana melepas lelah dan berkumpul bersama,” kata Lisa, Jumat (12/6/2026).
Istilah Mardijker berasal dari bahasa Portugis yang berarti merdeka. Sebutan tersebut diberikan kepada para tawanan perang atau budak dari wilayah jajahan Portugis yang kemudian dibebaskan oleh VOC dan ditempatkan di Kampung Tugu, Batavia.

Menurut Lisa, pemerintah kolonial Belanda membebaskan kaum Mardijker dengan syarat mereka mengganti nama Portugis menjadi nama Belanda dan beralih dari agama Katolik ke Kristen.
“Itu merupakan cara Belanda menghapus jejak Portugis di Malaka dan Batavia,” ujarnya.
Sejak saat itu Kampung Tugu berkembang menjadi permukiman masyarakat keturunan Portugis yang mempertahankan sejumlah tradisi leluhur, termasuk musik keroncong.
Di kawasan tersebut juga berdiri Gereja Tugu, salah satu gereja tertua di Jakarta yang dibangun komunitas keturunan Portugis pada abad ke-18. Gereja tersebut dibangun sekitar tahun 1676–1678, bersamaan dengan berdirinya sekolah rakyat yang diprakarsai Pendeta Melchior Leydecker.
Asli Kampung Tugu, Bukan Portugal
Tradisi bermusik keroncong terus diwariskan dari generasi ke generasi. Namun memasuki era 1980-an, jumlah pemain keroncong Tugu semakin berkurang dan mulai kehilangan regenerasi.
Melihat kondisi tersebut, Andre Juan Michiels bersama saudaranya, Arthur Michiels, mendirikan grup musik Krontjong Toegoe pada 1988 untuk menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.
“Di Kampung Tugu tidak hanya ada Krontjong Toegoe, tetapi juga beberapa kelompok keroncong lainnya yang masih aktif,” kata Lisa.
Krontjong Toegoe pernah tampil di Portugal pada 2016. Menariknya, masyarakat Portugal justru tidak mengenal musik keroncong sebagaimana yang berkembang di Indonesia.
“Alat musiknya memang berasal dari Eropa, tetapi musik keroncong berkembang di Kampung Tugu. Lagu-lagunya menggunakan bahasa Kreol Portugis. Jadi keroncong bukan lahir di Portugal,” ujarnya.
Menurut Lisa, masyarakat Portugal terkejut sekaligus mengapresiasi keberadaan keroncong. Sejumlah peneliti memang mengaitkan keroncong dengan musik Fado, genre musik tradisional Portugal yang berkembang di Lisbon pada abad ke-19. Namun hubungan tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Ciri Khas Keroncong Tugu
Berbeda dengan keroncong yang berkembang di berbagai daerah, Keroncong Tugu memiliki sejumlah ciri khas.

Salah satunya adalah penggunaan alat musik petik tradisional buatan sendiri bernama macina yang memiliki empat dawai serta prounga yang memiliki tiga dawai. Kedua instrumen tersebut diyakini menjadi cikal bakal alat musik cak dan cuk yang digunakan dalam keroncong modern.
Selain itu, lagu-lagu Keroncong Tugu umumnya dimainkan dengan tempo lebih cepat karena sejak awal berfungsi sebagai musik pengiring pesta dan perayaan komunitas.
Musik ini juga kerap dimainkan dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, termasuk perayaan gereja.
Lisa menuturkan bahwa pada masa pendudukan Jepang, musik keroncong sempat dilarang karena dianggap identik dengan hiburan dan pesta yang dinilai dapat melemahkan semangat perjuangan.
“Pada masa itu perkembangan keroncong lebih banyak bergeser ke Jawa Tengah. Mungkin karena itulah keroncong kemudian tumbuh dan dikenal luas di wilayah tersebut dibandingkan Jakarta,” katanya.
Regenerasi
Meski masih bertahan hingga kini, komunitas Keroncong Tugu menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal regenerasi dan keberlanjutan ekonomi.

Menurut Lisa, hingga saat ini bermain musik keroncong belum dapat menjadi sumber penghasilan utama bagi para pelakunya.
“Musik keroncong belum menjadi industri. Saat ini masih lebih banyak sebagai hobi dan kecintaan terhadap budaya,” ujarnya.
Untuk menjaga keberlanjutan tradisi, komunitas Tugu aktif mengajarkan keroncong kepada generasi muda melalui program Keroncong Muda Indonesia yang diikuti pemuda berusia 18 hingga 30 tahun, termasuk pelajar dari sejumlah sekolah di Jakarta.
Namun, menurut Lisa, kesempatan tampil bagi para pemain muda masih sangat terbatas sehingga proses regenerasi belum berjalan optimal.
Empat Warisan Budaya
Selain musik keroncong, masyarakat Kampung Tugu juga menjaga tiga tradisi lain yang diwariskan secara turun-temurun, yaitu tradisi Rabo-Rabo, tradisi Mande-Mande, dan bahasa Kreol Portugis.
Keempat unsur budaya tersebut telah ditetapkan sebagai warisan budaya oleh pemerintah Indonesia.
Tradisi Rabo-Rabo dilaksanakan setiap 1 Januari sebagai ajang silaturahmi masyarakat. Warga berkeliling dari rumah ke rumah sambil memainkan musik keroncong dan menikmati jamuan yang disediakan tuan rumah.
Karena rombongan peserta semakin panjang hingga menyerupai ekor, tradisi tersebut dikenal dengan nama Rabo-Rabo yang dalam bahasa Kreol berarti ekor.
Sementara itu, tradisi Mande-Mande digelar pada pekan pertama Januari sebagai simbol saling memaafkan. Dalam tradisi ini masyarakat saling mengoleskan bedak ke wajah satu sama lain dan saling memaafkan sebagai tanda persaudaraan dan rekonsiliasi.
“Mande-Mande mirip dengan tradisi saling melempar tomat atau menyiram air ditemukan di India. Banyak keturunan Portugis di India. Kakek moyang kami dari Bengal, India, ” kata Lisa.
Rencananya pada 24 Desember 2026 malam akan digelar naruh bunga di makam keturunan Portugis. Dalam tradisi itu akan dihadirkan panggung yang menyuguhkan musik keroncong Tugu.
Di tengah perkembangan zaman, Lisa berharap pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap pelestarian budaya Kampung Tugu, termasuk melalui kebijakan perlindungan budaya, dukungan penelitian akademik, dan pemberian ruang tampil bagi kelompok-kelompok keroncong.
Ia juga berharap Keroncong Tugu dapat diakui sebagai bagian penting dari sejarah budaya Jakarta dan memperoleh dukungan yang lebih luas dari pemerintah maupun sektor swasta agar warisan budaya tersebut tetap lestari di masa depan.

